Kursi empuk kekuasaan bagai magnet yang memikat tuk diburu dan diperebutkan. Jatah kursi seolah menjadi oksigen dalam kehidupan, begitu pentingnya. Kompetisi ini merupakan lorong bagi sang pemimpi-pemimpi yang mendambakan duduk di kursi nyaman.
Dilansir dari tirto.id, partai politik peserta pemilihan umum serentak 2024 resmi mendaftarkan bakal calon anggota legislatif (bacaleg) ke KPU. Dari ribuan nama dan beragam latar belakang yang didaftarkan, terdapat deretan kepala dan wakil kepala daerah. Berdasarkan Pasal 182 huruf k dan Pasal 240 ayat (1) huruf k UU Pemilu, mereka harus mundur dari jabatan mereka.
Namun, aksi tersebut dinilai tidak etis.
Kiranya benar ketika kepala daerah ramai-ramai mundur dari amanah demi maju nyaleg. Bahkan dari kalangan pejabat negara hingga artis turut masuk dan berada dekat di lingkaran kekuasaan. Lalu, apakah yang menjadi daya tarik untuk diperjuangkan?
Konon, paradigma orang yang bermimpi menjadi wakil rakyat tersebut yakni tergiur dengan gaji nan besar. Oleh sebab itu, segala bentuk pengorbanan pun dimobilisasi. Alih-alih membawa bahagia, halal dan haram diabaikan. Perang pencitraan dan upaya memperoleh hasrat kekuasaan belakangan jadi penghias media pemberitaan.
Bukan rahasia umum lagi betapa posisi sebagai anggota dewan sangat menggiurkan hingga serta merta mengalahkan amanah yang telah diemban. Kepentingan dan kemaslahatan rakyat sering diabaikan dan ditinggalkan.
Perilaku tak bertanggungjawab dan merugikan rakyat ini nyatanya dilindungi oleh undang-undang. Begitulah nampak sudah momok asli wajah demokrasi yang langgeng diadopsi.
Hal ini jelas bertolak belakang dengan apa yang diatur dalam naungan Islam. Islam menjadikan amanah sebagai satu penting yang harus ditunaikan karena ada pertanggungjawaban dunia akherat.
Sungguh bukan hal yang mudah menjadi pemimpin dalam Islam. Memangkunya harus memiliki kapabilitas yang memenuhi kualifikasi jabatan sebagaimana kepemimpinan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Melanjutkan kehidupan Islam dengan mewujudkan tegaknya syariat Rab penguasa alam semesta.
Tak sekedar ungkang-ungkangan menikmati dengan memperkaya diri dan golongan. Akan tetapi, meriayah (mengurus) urusan umat, memikirkan nasib rakyat, ataupun berupaya memenuhi hak-haknya dengan Islam sebagai satu-satunya problem solving.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang berasal dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda,"Ada tujuh golongan yang dinaungi Allah pada hari kiamat, pada saat tiada naungan kecuali naungan-Nya: yaitu salah satunya pemimpin yang adil.
Rasulullah SAW diutus menjadi nabi sekaligus rasul pemimpin dunia, merubah peradaban, serta menjadi public figure yang baik bagi umat manusia.
Rasulullah SAW dalam kepemimpinannya memiliki empat sifat yang harus dicontoh bagi pemimpin-pemimpin lainnya, yaitu Amanah (dapat dipercaya), Fatonah (cerdas serta bijaksana), Shiddiq (jujur dan benar) dan Tabligh (menyampaikan).
Rasulullah juga diutus ke dunia untuk menjadi rahmat bagi alam semesta, dengan besar harapan untuk karakter kepemimpinan Nabi Muhammad dapat di teladani oleh pemimpin-pemimpin lainnya.

No comments:
Post a Comment