Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bullying Merebak, Dunia Pendidikan Seakan tidak Berdampak

Friday, June 09, 2023 | Friday, June 09, 2023 WIB

Goresan Pena, Uly Ummu Taqiyyudin

Dunia anak dan remaja akan sangat lekat dengan dunia pendidikan, sebab dimasa-masa itulah pendidikan formal berlangsung. Begitupun dunia pendidikan terus berinovasi dalam pengembangan pendidikan demi mencetak generasi bangsa yang unggul dan mulia. Sebagaimana visi yang tercantum.

Namun, faktanya dari generasi ke generasi kehidupan anak dan remaja bukannya semakin baik melainkan semakin kelam, baik dari narkoba, pergaulan bebas, hamil diluar nikah, pembunuhan dan bahkan bullying yang semakin parah. 

Sebut saja MHD (9), bocah kelas 2 di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Jabar), meninggal dunia akibat dikeroyok oleh kakak kelasnya. Berdasarkan keterangan dokter, ia mengalami luka pada bagian organ dalamnya, yaitu pecah pembuluh darah, dada retak, dan tulang punggung retak (kompas, 15/5/2023).

Selanjutnya KPAI, 13 Februari 2023 mencatat kenaikan angka kasus bullying sebanyak 1.138 kasus kekerasan fisik dan psikis yang disebabkan oleh bullying. Lebih memprihatinkan lagi, kasus bullying rata-rata terjadi di lingkungan sekolah dan dilakukan oleh murid sekolah dasar.

Kondisi demikian menggambarkan kasus bullying yang telah menjamur di kehidupan hari ini. Anak dan remaja seakan tidak ragu-ragu lagi untuk melakukan tindak asusila dan kejahatan meski hanya sebab masalah sepele. 

Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan yang selama ini terus dilakukan perubahan belumlah memberikan hasil baik. Meski perubahan demi perubahan itu terjadi di setiap pergantian Menteri Pendidikan. Yang ada kerusakan demi kerusakan malah semakin menjamur, ini bertanda ada masalah besar dalam dunia pendidikan. 

Semua ini tidak lain karena asas atau pijakan yang digunakan dalam kehidupan ini adalah kapitalis sekuler. Dimana materi dituhankan dan agama dibuang dari kehidupan. Kalaupun agama ada hanya sebatas privasi dan hal inipun sangat dipertanyakan. Sebab, agama itu teramalkan dalam kehidupan bukan hati sebagai tempat bersemayam. Maka jika, seseorang dalam tindakannya tidak berdasarkan agama tentu ia bisa dikatakan tidak taat agama atau bermaksiat.

Jadi inilah akar dari semua problematika kehidupan terkhusus dunia anak. Karena anak dan remaja yang dilarang menjadikan agama sebagai pijakan kehidupan. Ini berarti, tidak lain anak dan remaja dibebaskan untuk bermaksiat. Yang akhirnya pendidikan sekuler kapitalis hanya mencetak generasi maksiat. 

Disisi lain tentu kapitalis hanya mengajarkan kehidupan untuk materi. Sebut saja opini umum yang terbangun selama ini saat mengenyam pendidikan adalah agar mendapat ijazah untuk bisa bekerja lebih baik, dengan penghasil lebih besar dan memiliki kehidupan yang mapan. 

Padahal amanat undang-undang telah jelas mengatakan bahwa tujuan pendidikan ialah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis juga bertanggung jawab. Dari sini maka pendidikan agama harus menjadi poin utama dan pertama yang harus diajarkan tentu dengan porsi yang lebih banyak. Namun faktanya sebaliknya, agama disingkirkan, hingga visi pendidikan generasi menjadi  rendah dan murahan. 

Lihat saja hari ini manusia hanya mengejar pada materi bukan ilmu atau nilai kehidupan itu sendiri. Pantaslah jika merekapun mampu melakukan berbagai aktivitas untuk mengejar materi meskipun harus melepas pendidikan itu sendiri. Seperti, menjadi tiktoker, Youtuber, artis dan sejenisnya. Yang hanya mengarah pada cara-cara instan tanpa memberikan pengaruh pada kehidupan nyata. Yang ujung-ujungnya membuat anak dan remaja mengalami krisis identitas serta kaburnya arah pandang hidup.

Hal ini akan sangat jauh dari arah dan tujuan pendidikan Islam. Dimana pendidikan Islam berorientasi pada ketaatan pada sang Pencipta, yakni berkepribadian Islam, menguasai tsaqofah Islam, menguasai ilmu kehidupan (sains teknologi dan keahlian) yang memadai. Dengan ini maka lembaga pendidikan Islam berorientasi mencetak generasi yang cerdas, mulia dan bertakwa. Yang tentu sekolah ada tidak berdiri sendiri melainkan berdiri bersama dengan masyarakat dan pemerintah sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh atas terpenuhinya pendidikan bagi setiap rakyatnya. 

Dalam menjalankan pendidikan masyarakat berperan sebagai pengontrol. Yang mana masyarakat ini adalah masyarakat yang taat pula. Sehingga anak dan remaja akan terhindar dari perilaku menyimpang didalam kehidupan masyarakat. 

Selanjutnya, pemerintahan sebagai pihak tertinggi yang berkewajiban atas terpenuhinya kebutuhan pendidikan ini. Harus mampu memberikan pendidikan yang murah bahkan gratis, serta menutup semua kondisi yang berpotensi untuk menjadi pintu kemaksiatan atau yang tidak sejalan dengan tujuan pendidikan seperti, lagu-lagu dengan lirik-lirik yang jauh dari nilai kebaikan, konten-konten yang merusak, film, game, vidio yang mengandung porno & kekerasan serta tempat-tempat kemaksiatan. 

Selain itu pemerintah juga harus memberlakukan sanksi yang tegas pagi para pelaku kerusakan ini. Sebab, jika suatu kebijakan tanpa ada sanksi bagi para pelanggarnya, maka hanya akan berjalan sebelah alias pincang. 

Dengan demikian pendidikan akan mampu menopang kebutuhan generasi akan perkembangan ilmu pengetahuan dan dunia eksplorasi mereka. Serta akan terjaga dari keburukan yang merusak kehidupan dan masa depan mereka. Sehingga, mereka akan tumbuh menjadi manusia-manusia yang berilmu dan berakhlak mulia.  Wallahu'alam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update