Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kemiskinan Semakin Tinggi, Darurat Solusi Hakiki

Saturday, October 15, 2022 | Saturday, October 15, 2022 WIB

Oleh Nia Agustin, S.IP 
(Muslimah Peduli Umat)

Tahun 2020 lalu menjadi tahun yang buruk dalam sejarah peradaban manusia abad modern. Negara-negara di dunia mengalami krisis besar akibat pandemi Covid-19. Kematian datang menjemput manusia setiap waktu. Angka kemiskinan meningkat kian pesat.

Bahkan tahun ini pun tidak menjadi lebih baik dari tahun-tahun lalu. Indonesia menjadi salah satu negara yang mengalami peningkatan angka kemiskinan yang cukup pesat. Hal ini dipicu juga dari kondisi ekonomi dunia yang semakin tidak menentu . Situasi yang dihadapkan 
pada tantangan ancaman resesi 2023. Hal tersebut nampak dari bagaimana suku bunga acuan bank sentral di sejumlah negara semakin tinggi.

Indonesia masuk dalam kategori 100 negara paling miskin di dunia. Hal ini diukur dari Gross National Income (GNI) atau pendapatan nasional bruto per kapita.

Melansir dari World Population Review, Indonesia masuk dalam urutan ke-73 negara termiskin di dunia. Kondisi pendapatan nasional bruto RI tercatat US$3.870 per kapita pada 2020.
Sementara itu, melansir dari gfmag.com, Indonesia menjadi negara paling miskin nomor 91 di dunia pada 2022. Sungguh miris!

Fenomena kemiskinan di Indonesia hingga saat ini memang masih menjadi hal serius yang perlu ditangani.

Jika melihat data dari BPS, jumlah penduduk miskin pada September 2021 sebesar 26,50 juta orang. Konon menurun 1,04 juta orang terhadap Maret 2021 dan menurun 1,05 juta orang terhadap September 2020.

Namun sayangnya, data kemiskinan di Indonesia 2022 diperkirakan akan naik dan berpotensi terjadi lonjakan.
Informasi tersebut didapatkan dari laman money.kompas.com yang menyatakan bahwa Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) telah memprediksi tingkat kemiskinan di Indonesia tahun 2022 berpotensi mengalami lonjakan menjadi 10,81% atau setara dengan 29,3 juta penduduk.

Mirisnya di tengah-tengah kemiskinan yang melanda negeri ini justru ada segelintir orang yang mampu membeli mobil super mewah keluaran terbaru.

Belum lama ini, Range Rover baru resmi meluncur di Indonesia. Kendaraan tersebut merupakan generasi kelima dan dibanderol mulai Rp 5,9 miliar dengan status off the road. Meski mahal dan baru diluncurkan, namun stok yang tersedia di Tanah Air sudah nyaris habis. Kendaraan tersebut rupanya berstatus limited dan hanya tersedia 50 unit di dalam negeri hingga akhir tahun.

Ironi. Ketimpangan sosial yang terjadi saat ini bukan terjadi begitu saja. Namun, ketimpangan yang terjadi secara sistemis akibat dari sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini. Yang kaya bisa hura-hura, yang miskin kian prihatin.

Pakar Ekonomi Islam dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Arie Mooduto menyatakan bahwa sistem perekonomian kapitalisme yang dianut mayoritas negara di dunia menjadi salah satu penyebab banyaknya kemiskinan.

Menurutnya, sistem ekonomi kapitalisme yang banyak dianut negara-negara di dunia, khususnya negara Barat mengabaikan rasa keadilan bagi umat manusia sehingga menimbulkan kemiskinan yang merajalela.

Naluri kemanusiaan pun seolah dipertanyakan. Si kaya disibukkan dengan dunia demi mengejar prestise agar eksistensinya diakui oleh masyarakat. Sehingga lupa untuk berempati kepada sesama.
Bangga mendapatkan pujian publik dengan segudang kemewahan telah menjadi gaya hidup mereka. Sehingga harta dan kekayaan menjadi tujuan hidup mereka.

Itulah buah dari pada diterapkannya sistem kapitalis saat ini, dimana kesuksesan dan kebahagiaan hanya dinilai dari banyaknya harta dan kekayaan.

Lain halnya dengan Islam yang menjadikan standar kebahagiaan nya adalah ridho Allah SWT.
Di dalam sistem Islam, mereka yang kaya memahami bahwa harta yang dimilikinya hanyalah titipan Allah yang akan dipertang jawabkan kelak di akhirat.
Budaya bersedekah, membantu sesama, menolong mereka yang kesulitan menjadi pola hidup dalam bermasyarakat.
Harta yang dimilikinya hanyalah menjadi jembatan untuk meraih surga. Tak ada orang yang menimbun harta kekayaannya dan menjadi tak peduli kepada yang miskin.

Ketimpangan sosial pun tidak akan terjadi karena negara mampu mengelola kekayaan negaranya agar dapat dinikmati secara merata oleh seluruh rakyatnya. 

Kepemilikan umum dalam Islam sangat tegas tak boleh diganggu gugat oleh kepentingan individu, korporasi, apalagi pihak asing apapun alasan yang melatarbelakanginya. Negara hanya berhak mengolahnya dan dimanfaatkan untuk rakyat seluruhnya.

Tidak akan ada kekayaan yang hanya dikuasai oleh segelintir orang saja. Dengan demikian maka ketimpangan sosial tidak akan terjadi seperti yang terjadi saat ini.

Islam memiliki aturan dan hukum-hukum yang jelas yang berasal dari Sang Pencipta sehingga terwujudlah kesejahteraan yang merata bagi masyarakat. Kekayaan dan gaya hidup Borjuis bukanlah menjadi tujuan melainkan ridho Allah SWT semata.
Wallahu'alam bishawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update