Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Wanita Muslimah Di India Butuh Keadilan

Monday, May 16, 2022 | Monday, May 16, 2022 WIB

Oleh: Sri Runingsih / guru

Baru baru ini beredar video, yg mana saat ini sedang terjadi penindasan kepada saudari seiman kita di India. Dimana para wanita muslim disana dilarang mengenakan hijab bila ingin belajar ke sekolah ataupun universitas. Tentu saja hal ini juga mengundang keprihatinan buat kita khususnya sebagai sesama muslim. Bagaimana tidak, bahkan ingin menuntut ilmupun mereka harus mempertaruhkan agama mereka.

Wakil Ketua Umum (Waketum) MUI Anwar Abbas menyesalkan larangan penggunaan hijab di beberapa lembaga pendidikan di India. Tindakan tersebut dinilai sebagai islamphobia bagi umat muslim di sana.

"Majelis Ulama Indonesia (MUI) sangat menyesalkan adanya larangan memakai hijab di sejumlah sekolah di India terutama di negara bagian Karnataka. Hal ini jelas-jelas mencerminkan islamophobia, permusuhan dan kebencian dari pihak pemerintah terhadap rakyatnya sendiri yang beragama islam,"kata Anwar dalam keterangan tertulisnya, Rabu,(09/2/2022).

Anwar mengatakan perlakuan buruk yang diterima oleh umat islam di India, juga telah menyakiti hati umat islam yang ada di indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.

"Untuk itu MUI menghimbau dan mendesak pemerintah India supaya menghormati kebebasan bagi umat islam untuk melaksanakan ajaran agamanya sesuai dengan keyakinan yang dianutnya,"ujar dia.

Di samping itu MUI juga meminta kepada pemerintah Indonesia untuk melakukan pendekatan-pendekatan agar hubungan baik antara indonesia dan india yang sudah terbangun selama ini tidak rusak dan terganggu atas kejadian tersebut.

"Karena kalau peristiwa seperti itu terus berlangsung tentu akan sangat merugikan kepentingan kedua negara, dan kita tentu saja tidak mau hal demikian terjadi,"ucapnya.


Hal ini tentunya semakin memperpecah antar umat beragama khususnya di India. Dimana adanya kebencian kepada umat Islam mungkin menjadi faktor utamanya. Sehingga mereka tidak ingin diberlakukannya ajaran Islam dan penerapan-nya .

Namun bagaimana nasib wanita muslimah yang ada disana.dengan tidak adanya kebebasan memakai hijab, tentu saja membuat mereka semakin kesulitan dalam beraktifitas. bukankah menutup aurat merupakan kewajiban bagi setiap muslimah, lantas bagaimana kalau mereka dipaksa untuk tidak patuh pada perintah Allah? Bagaimana pula dengan kebebasan beragama disana? Dan bagaimana pula dengan pandangan dan peran pemerintah India dalam menyikapi hal ini ?


Solusi Islam:

Islam secara harfiah dimaknai tunduk, patuh, dan pasrah, keselamatan, kemanan dan kedamaian. Jadi, berdasarkan pemaknaan di atas, sebagai seorang muslim dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara harus bisa menjadi pemberi keselamatan, senantiasa menciptakan kerukunan dan memberi rasa aman kepada orang lain, atau yang disebut dengan toleran.

Sikap toleransi sangatlah penting sebagai alat pemersatu bangsa. Setiap orang harus saling mengerti dan memahami akan arti perbedaan. Namun fenomena yang terjadi akhir-akhir ini masih banyak terjadi gejolak sosial yang timbul dari akibat kurang bisa menegakkan sikap toleransi, khususnya sikap toleransi antarumat beragama.

Toleransi atau as-samahah (arab) adalah konsep modern untuk menggambarkan sikap saling menghormati dan saling bekerjasama diantara kelompok masyarakat yang berbeda-beda baik secara etnis, bahasa, budaya, politik, maupun agama. Oleh karena itu toleransi merupakan konsep yang bagus dan mulia yang sepenuhnya menjadi bagian organik dari ajaran agama-agama termasuk agama islam.

Dalam konteks toleransi antar-umat beragama, Islam memiliki konsep yang jelas. “Tidak ada paksaan dalam agama, bagi kalian agama kalian, dan bagi kami agama kami” adalah contoh populer dari toleransi dalam islam. Fakta-fakta historis itu menunjukan bahwa masalah toleransi dalam islam bukanlah konsep asing atau ghorib. Toleransi adalah bagian integral dari islam itu sendiri yang detail-detailnya kemudian dirumuskan oleh para ulama dalam karya-karya tafsir mereka. Kemudian rumusan-rumusan ini disempurnakan oleh para ulama dengan pengayaan-pengayaan baru sehingga pada akhirnya menjadi praktik kesejahteraan dalam masyarakat islam.

Konsep toleransi atau tasamuh dalam pandangan islam mengandung konsep rahmatan Lil ‘alamin. Sekalipun Al-Qur’an tidak secara tegas menjelaskan tentang tasamuh, namun banyak ditemui beberapa tema yang terkait dengan ini, diantaranya rahmat dan kasih sayang (QS Al-Balad), Al-Afw atau memaafkan (QS An-Nur:22), Al-Safh atau berlapang dada (QS Al-Zukhruf: 89), Al-Salam atau keselamatan (QS Al-Furqon : 63), Al-‘Adl atau keadilan, Al-Ihsan atau kebaikan (QS An-Nahl:90) dan Al-Tauhid yang berakna menuhankan Allah Swt (QS Al-Ikhlas : 1-4).

Sehingga sikap toleransi dan menghargai tidak hanya berlaku terhadap orang lain, tetapi juga kepada diri sendiri, bahkan sikap toleran harus dimulai dari diri sendiri. Rasulullah saw mengingatkan agar ia memperhatikan dirinya dan memberi hak yang proporsional: “sesungguhnya  tubuhmu punya hak (untuk kamu istirahtkan) matamu punya hak (untuk dipejamkan) dan istrimu juga punya hak (untuk dinafkahkan)”. (HR Bukhori).

Secara doktrinal, toleransi sepenuhnya diharuskan oleh islam. Islam secara definisi adalah agama yang damai, selamat dan menyerahkan diri. Definisi islam yang seperti demikian seringkali dirumuskan dengan istilah “islam adalah agama yang rahmatan Lil ‘alamin” (agama yang mengayomi seluruh alam). Artinya islam selalu menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati bukan memaksa. Islam menyadari bahwa keragaman umat manusia dalam beragama adalah kehendak Allah Swt. Dalam islam, toleransi berlaku bagi semua orang, baik itu sesama muslim maupun non-muslim. Yusuf Qordhowi  dalam bukunya “Ghoir Al-Muslim Fil Mujtama”. Al-Islam menyebutkan ada empat faktor utama yang menyebabkan toleransi yang unik selalu mendominasi perilaku umat islam terhadap non muslim, yaitu :

Keyakinan bahwa manusia itu hakikat penciptaannya merupakan makhluk paling mulia dari makhluk lain, apapun agamanya, kebangsaannya dan rasnya.
Adanya perbedaan bahwa manusia dalam agama dan keyakinan merupakan realitas yang dikehendaki Allah Swt yang telah memberi mereka kebebasan untuk memilih iman dan kufur.
Seorang muslim tidak dituntut untuk mengadili kekafiran seorang non muslim atau menghakimi kafir dan musyriknya orang lain. Hanya Allah swt yang akan menghakiminya nanti di akhirat.
Keyakinan bahwa Allah swt memerintahkan untuk berbuat adil dan mengajak kepada budi pekerti yang baik meskipun kepada orang musyrik sekalipun. Allah Swt juga mencela perbuatan dholim meskipun terhadap kafir.

Terhadap mereka yang berbeda agama dan keyakinan, Al-Qur’an telah menetapkan prinsip tidak ada paksaan dalam beragama (Qs Al-Baqoroh : 256). Sebab kebebasan beragama merupakan bagian dari penghormatan terhadap hak-hak manusia yang sangat mendasar.
(Cimahikota.go.id 31.1.17)

Dalam pemaparan diatas sudah jelas bahwa hanya dalam sistem Islam manusia dapat menjalani kehidupan dengan baik dan damai. tanpa adanya paksaan, tanpa adanya kekerasan, apalagi kenistaan.
Karena Islam bukan hanya mengayomi umat muslim saja, namun bagi non muslim juga akan merasakan kesejahteraannya.

Karena Islam adalah Rahmatan Lil' Alamin, yakni Rahmat bagi seluruh Alam.
Wallahu A'lam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update