Oleh: Bella Lutfiyya
Mahasiswi Universitas
Gunadarma
Setelah gencarnya kegiatan vaksinasi di
seluruh wilayah Indonesia disertai penurunan angka positif Covid-19, Badan
Pusat Statistik (BPS) melaporkan mobilitas masyarakat mulai pulih. Artinya, masyarakat
mulai menjalankan aktivitas normal mereka di luar rumah setelah melakukan
Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) setelah sekian lama.
Namun, hal yang cukup menggembirakan tersebut
tak berlangsung lama karena munculnya varian terbaru dari Covid-19. Tak hanya
satu varian, muncul kurang lebih 3 varian secara berangsur-angsur yang banyak
dikabarkan media, di antaranya varian Delta, Omicron, dan bahkan Deltacron.
Oleh karenanya, Kementerian Kesehatan RI melalui
Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menerbitkan surat
edaran yang ditujukan kepada dinas kesehatan provinsi, kabupaten, dan direktur
rumah sakit di Indonesia untuk melaksanakan vaksinasi Booster. Vaksin Booster merupakan
vaksinasi Covid-19 setelah seseorang mendapat vaksinasi primer dosis lengkap untuk
mempertahankan tingkat kekebalan serta memperpanjang masa perlindungan. Namun seberapa efektif vaksinasi Booster
tersebut untuk menangkal atau melindungi tubuh dari virus tersebut? Entahlah,
tapi vaksin Booster tak bisa hentikan sebaran varian baru.
Sebenarnya, agar kita terhindar dari virus
corona varian baru, setiap individu harus sadar dan mengutamakan keselamatan
bersama untuk kebaikan bersama juga. Diketahui salah satu penyumbang kasus
positif varian baru Covid-19 sebagian besar mereka yang bepergian ke luar
negeri. Memang benar tidak ada larangan bagi siapa pun bepergian ke luar
negeri, asalkan tetap mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan. Namun, lebih
baik mencegah daripada mengobati bukan?
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 195 yang artinya, “Janganlah kamu menjerumuskan dirimu sendiri dalam jurang kebinasaan.”
Begitu juga Syaikh Hamzah Muhammad Qasim berkata, “Seorang hamba diperintahkan untuk menghindar dari sebab bahaya jika dia dalam keadaan sehat, maka sebagaimana dia diperintahkan untuk tidak memasuki air atau api yang dapat membawanya pada celaka dan binasa, begitu pula dia mesti menghindari berdekatan dengan orang sakit, dan tidak mendatangi negeri tha'un, karena semua ini menjadi sebab penyakit dan kehancuran” (Manaar al Qari Syarh Mukhtashar Shahih al Bukhari, 5/222).
Dari surah dan hadits tersebut dapat
disimpulkan, sebaiknya hindarilah tempat atau sumber penyakit. Hal ini serupa
dengan kasus bepergian terutama ke luar negeri yang bahkan kita tidak
mengetahui ada varian virus apa di negara tersebut, sehingga saat pulang ke
negara asal, malah membawa virus yang dapat merugikan banyak orang.
Banyak orang rela untuk tidak bepergian jauh
walaupun sudah divaksin agar pandemi ini segera mereda. Pemerintah di beberapa
daerah pun masih gencar dengan PPKM-nya, namun sepertinya tidak ada batasan
bagi mereka para pelancong yang masuk ke Indonesia maupun warga Indonesia yang
pergi ke luar negeri. Alih-alih pandemi mereda, justru varian virus
berdatangan.
Oleh karenanya, menambah dosis vaksin atau
melakukan vaksinasi Booster rasanya tidaklah efektif. Pemerintah harus tegas membatasi
aktivitas masyarakat yang bepergian ke luar negeri juga. Masyarakat yang suka bepergian
ke luar negeri, harus menurunkan ego dan sadar pandemi ini belum berakhir.
Banyak masyarakat kecil kehilangan pekerjaannya, berjuang melawan virus yang
telah menghilangkan nyawa sanak saudaranya, sementara orang-orang dengan kekayaan
materi malah sesuka hati dengan alasan ‘yang penting mematuhi protokol’.
Memasuki awal tahun baru 2022, diharapkan
pandemi ini segera mereda. Tidakkah rindu masa-masa saat bebas beraktivitas
seperti dulu? Mari turunkan ego, patuhi aturan yang ada, apabila memang vaksin Booster
wajib dilakukan, maka seimbangkanlah dengan pembatasan aktivitas masyarakatnya
pula. Serta tidak lupa untuk selalu bertawakal kepada Allah SWT karena semua
musibah/bencana turun atas kehendak-Nya.
Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan menurunkan obat, serta menyediakan obat bagi setiap penyakit, maka berobatlah, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram” (HR Abu Dawud no. 3874).
Hadits di atas sebagai bukti kekuasaan Allah. Allah tidak akan mendatangkan penyakit tanpa obat dan setiap penyakit pasti ada obatnya. Semoga kita selalu diberikan kesehatan jasmani dan rohani, serta tetap bisa bertahan di kondisi pandemi ini yang tidak dapat diprediksi akan berakhir seperti apa atau kapan waktunya virus ini hilang dari muka bumi.[]
No comments:
Post a Comment