Oleh Eli Yuliani
Aktivis Dakwah
Sudah menjadi kebiasaan, di setiap momen Bulan Desember, sekelompok orang (moderat) selalu saja mencari dalih untuk membongkar konsepsi hukum Islam terkait ucapan hari raya untuk umat lain, seolah tidak pernah puas dengan jawaban yang sudah jelas dalilnya. Atas nama toleransi, mereka berani mengacak-acak hukum Islam, mencari dalil dalil untuk pembenaran.
Seolah ingin memaksakan kehendak, supaya seluruh ummat Islam ikut toleransi gaya mereka. Tidak mengherankan, stigma negatif selalu disematkan pada ummat Islam yang tidak mendukung (menentang) pemikiran Islam moderat.
Adalah satu kebodohan, apabila ummat Islam mengikuti pemikiran moderat mereka, karena selalu ada tuntutan untuk menghargai bahkan menilai bahwa semua agama itu adalah benar dan kalau memungkinkan ikut mendukung dan memberikan ucapan selamat pada perayaan agama orang kafir, sementara ajaran Islam sendiri yang merupakan syari'at, dipertentangkan bahkan di hapuskan dari pemikiran kaum muslimin, semisal ajaran jihad dan Khilafah.
Di masa Rasulullah shallallâhu 'alayhi wasallam, kaum Quraisy pernah menawarkan konsep toleransi yang lintas batas, karena mereka sudah merasa putus asa dalam menghalangi dakwah Nabi shallallâhu 'alayhi wasallam. Akhirnya mereka menawarkan agar bergantian dalam ibadah. Tahun ini mereka akan menyembah Allah Subhânahu wa Ta'âlâ. Sedangkan tahun depan, Nabi shallallâhu 'alayhi wasallam menyembah tuhannya orang Quraisy, yakni berhala. Menurut pikiran mereka, langkah ini akan mampu mewujudkan kerukunan hidup di tengah kaum Quraisy. Khususnya, tidak akan ada lagi perseteruan antara kaum kafir Quraisy dengan Nabi Muhammad shallallâhu 'alayhi wasallam dan sahabatnya.
Atas tawaran tersebut, Allah shallallâhu 'alayhi wasallam menjawab dengan firman-Nya di dalam Surat al-Kâfirun. Allah shallallâhu 'alayhi wasallam memberikan penegasan bahwa kaum Muslimin bukanlah penyembah apa yang di sembah oleh orang kafir Quraisy. Begitu pula sebaliknya. Bahkan Allah Subhânahu wa Ta'âlâ menegaskan dengan kalimat "Bagimu agamamu, dan bagiku Agamaku". Artinya tidak ada toleransi dalam hal akidah dan peribadatan. Toleransi dalam 2 hal ini justru bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Umat Islam itu meyakini Allah Subhânahu wa Ta'âlâ itu Maha Esa. Maka bila umat Islam mengucapkan selamat Natal, artinya umat Islam dipaksa mengakui akan Ketuhanan dari Isa al-Masih.
Tidak ada toleransi dalam akidah dan peribadatan, karena jelas dalam akidah ummat Islam meyakini ke ESA an Allah Subhânahu wa Ta'âlâ, dan hal itu mutlak harus di yakini. Jadi sangat tidak mungkin untuk memberikan dukungan pada agama lain yang meyakini bahwa Tuhan itu lebih dari satu, karena dengan demikian sama saja mencampur adukan antara yang haq dan bathil.
Saat ini ummat Islam dihadapkan dengan program Moderasi Beragama, ummat Islam diseret pada konsep toleransi beragama yang salah, karena itu ummat islam harus mempunyai pemahaman yang baik atas agamanya. Bersamaan itu ditopang dengan sebuah sikap tidak cenderung kepada orang-orang zalim. Yang dimaksud adalah umat Islam tidak boleh taat kepada orang-orang yang menyeru kepada kemaksiatan. Dan kemaksiatan terbesar saat ini adalah diterapkannya sistem sekuler Demokrasi dalam kehidupan. Sudah menjadi kewajiban bagi ummat Islam untuk mengembalikan kehidupan yang Islami dengan menerapkan hukum syari'at yang menyeluruh, dalam seluruh aspek kehidupan, membuang sistem sekuler yang zalim dan menyengsarakan ummat manusia.
Wallahu a'lam bish-shawab []
No comments:
Post a Comment