Baru-baru ini, tersiar kabar adanya keluhan dari para orang tua siswa salah satu SD di Kecamatan Cimanggung, terkait dengan pelaksanaan Penilaian Akhir Tahun. "Kami mendapatkan keluhan dari orang tua siswa salah satu SDN di Cimanggung, karena di dalam soal tersebut dinilai membingungkan siswa dan bisa berakibat fatal terhadap pemahaman siswa," papar Drg H. Rahmat Juliadi, MHKes selaku Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Sumedang yang membidangi Pendidikan dan Keagamaan.
Dalam soal nomor 36 tertulis, “Perhatikan penggalan ayat surat Al Maun ayat 4 berikut! Fa wailul lil-muṣallīn (dalam huruf Arab, red). Tuliskan isi pokok penggalan ayat tersebut!”
Pasalnya, menurut Rahmat dalam soal nomor 36 ini adalah pertanyaan yang sangat ceroboh dan fatal. "Kenapa mengutip ayat Al Alqur’an sepotong atau penggalan ayatnya tidak pas? Dan kenapa harus milih ayat tersebut dengan memenggal ayatnya sampai disana?" tanya Rahmat.
Rahmat mempertanyakan apakah ada unsur kesengajaan atau keteledoran dari si pembuat soal. "Kalau terjemahannya ‘Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat’, kalau arti penggalan ayat itu saja. Terus pertanyaan lanjutannya menanyakan isi pokok penggalan dari ayat tersebut. Sepintas kan kalau sepenggal itu saja, isi pokoknya orang yang salat bakal celaka, ini yang fatal," tandas Rahmat, dilansir RadarSumedang.com, Selasa (8/6/2021).
Harusnya, ayatnya saran Rahmat tidak sepenggal-sepenggal tetapi harus selesai sampai akhir. Karena di ayat berikutnya ada penjelasannya, siapakah yang celaka itu. "Yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna. Kalau ditanyakan isi pokoknya tidak berkonotasi makna negatif, karena satu kesatuan ayatnya," jelasnya.
"Oleh karenanya saya minta hal ini diklarifikasi dan ditelusuri siapa pembuat soal dan motifnya, dan Dinas Pendidikan harus segera menegur, membina dan kalau perlu memberikan sanksi kalau hal tersebut ada unsur kesengajaan," pintanya.
Miris sekali ketika suatu lembaga Pendidikan lalai dalam memilah soal. Hal ini sudah sepatutnya ditindaklanjuti secara tegas, agar ke depannya tidak ada lagi kejadian serupa.
Sistem pendidikan di negeri ini sudah begitu mengkhawatirkan. Sering berubahnya kurikulum hingga diperpanjangnya sistem pembelajaran jarak jauh, menambah pelik masalah pendidikan saat ini. Dalam sistem kapitalisme, pendidikan menjadi barang mewah karena pendidikan dijadikan sebagai komoditas jasa. Siapa yang mempunyai uang banyak, maka ia bisa bebas bersekolah di mana saja. Namun, tetap saja biaya yang dikeluarkan belum tentu sebanding dengan kualitas yang diharapkan.
Saat ini, pendidikan di sekolah-sekolah tidak berasaskan Islam, tapi lebih condong pada sistem sekulerisme. Meski ada pelajaran agama, namun itu hanya membahas hal-hal sebatas ritual saja. Nilai-nilai agama yang terkandung di dalamnya tidak di sampaikan, sehingga tidak heran ketika generasi kita jauh dari kehidupan yang Islami. Tak jarang kita temui anak-anak yang bersekolah di sekolah Islam, tapi penampilan dan perbuatan tidak mencerminkan ajaran Islam. Jati diri mereka sudah teracuni pemikiran-pemikiran sekuler buah dari sistem Kapitalisme.
"Oleh karenanya saya minta hal ini diklarifikasi dan ditelusuri siapa pembuat soal dan motifnya, dan Dinas Pendidikan harus segera menegur, membina dan kalau perlu memberikan sanksi kalau hal tersebut ada unsur kesengajaan," pintanya.
Miris sekali ketika suatu lembaga Pendidikan lalai dalam memilah soal. Hal ini sudah sepatutnya ditindaklanjuti secara tegas, agar ke depannya tidak ada lagi kejadian serupa.
Sistem pendidikan di negeri ini sudah begitu mengkhawatirkan. Sering berubahnya kurikulum hingga diperpanjangnya sistem pembelajaran jarak jauh, menambah pelik masalah pendidikan saat ini. Dalam sistem kapitalisme, pendidikan menjadi barang mewah karena pendidikan dijadikan sebagai komoditas jasa. Siapa yang mempunyai uang banyak, maka ia bisa bebas bersekolah di mana saja. Namun, tetap saja biaya yang dikeluarkan belum tentu sebanding dengan kualitas yang diharapkan.
Saat ini, pendidikan di sekolah-sekolah tidak berasaskan Islam, tapi lebih condong pada sistem sekulerisme. Meski ada pelajaran agama, namun itu hanya membahas hal-hal sebatas ritual saja. Nilai-nilai agama yang terkandung di dalamnya tidak di sampaikan, sehingga tidak heran ketika generasi kita jauh dari kehidupan yang Islami. Tak jarang kita temui anak-anak yang bersekolah di sekolah Islam, tapi penampilan dan perbuatan tidak mencerminkan ajaran Islam. Jati diri mereka sudah teracuni pemikiran-pemikiran sekuler buah dari sistem Kapitalisme.
Memang hal wajar jika hal di atas terjadi, karena sistem sekarang bertolak belakang dengan sistem Islam.
Dalam Islam, negara berkewajiban memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya, termasuk pendidikan. Semua ini harus terpenuhi bagi setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.
Negara wajib menyediakannya untuk seluruh warga dengan cuma-cuma. Kesempatan pendidikan tinggi secara cuma-cuma dibuka seluas mungkin dengan fasilitas sebaik mungkin. Hal ini karena Islam menjadikan pendidikan sebagai salah satu kebutuhan primer bagi masyarakat.
Sistem pendidikan Islam telah menggariskan bahwasanya kurikulum pendidikan wajib berlandaskan pada akidah islam. Mata ajaran serta metodologi penyampaian pelajaran seluruhnya disusun tanpa adanya penyimpangan sedikit pun dari asas tersebut. Tujuan pendidikan di dalam Islam adalah membentuk manusia yang: 1. Memiliki kepribadian Islam
2. Handal menguasai pemikiran Islam
3. Menguasai ilmu-ilmu terapan IPTEK (ilmu, pengetahuan, dan teknologi)
4. Memiliki keterampilan yang tepat guna dan berdaya guna.
Ketika semua hal di atas didapatkan oleh generasi kita, maka akan terbentuklah manusia-manusia dengan pemikiran yang cemerlang plus kepribadian yang Islami pula. Sehingga generasi muda kita akan mampu membangun peradaban Islam yang gemilang.
Wallahu'alam Bishowab.

No comments:
Post a Comment