(Ibu Rumah Tangga)
Lebaran tinggal menghitung hari. Pasar dan pusat perbelanjaan dibanjiri pengunjung, tak terkecuali saat pandemi seperti sekarang. Demi membeli pakaian baru, juga bahan makanan, masyarakat tak lagi mematuhi prokes. Anjuran tuk menerapkan 5 M, yakni mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas, tak lagi diindahkan.
Peraturan pemerintah melakukan pelarangan mudik dengan alasan menghindari penyebaran virus corona kembali meninggi, berbanding terbalik dengan kebijakan membuka mall dan tempat lainnya yang dapat memicu kerumunan. Di satu sisi, pemerintah ingin menekan laju penyebaran virus. Namun, di sisi lain justru membuka celah yang dapat menjadi gerbang penyebaran virus kian massif.
Dalam rangka mendongkrak ekonomi di tengah pandemi, baru-baru ini Menteri Keuangan, Sri Mulyani, meminta rakyat tuk tetap beli baju baru, meski mudiknya tetap dilarang, dilansir dari WE Online.co.id (24/4/2021).
Tentu saja kebijakan beliau menuai pro kontra di tengah masyarakat dan ramai diperbincangkan di jagat twitter. Ada yang menganggapnya seperti guyonan belaka. Namun, ada pula yang menanggapinya sebagai sikap nyeleneh bu menteri. Bagaimana tidak, di tengah situasi pandemi banyak rakyat terdampak ekonominya. Alih-alih membeli baju, untuk bertahan hidup saja masyarakat harus berjuang mati-matian menghemat pengeluaran.
Kebijakan penanganan wabah, harusnya selaras dengan cara mengantisipasi penyebaran virus. Fakta membludaknya kerumunan menjelang lebaran dan potensi penyebaran virus tidak bisa dikembalikan pada kesadaran individu rakyat. Butuh adanya kebijakan konkrit sebagai wujud keseriusan pemerintah dalam mengatasi wabah, tanpa tebang pilih. Mendorong konsumsi dengan alasan perbaikan ekonomi adalah hal ironi. Mengingat, wabah belum berakhir dan gencarnya aturan yang diterapkan kepada masyarakat terkait antisipasi penyebaran virus.
Membiarkan kerumunan di pasar dan mall tuk menjaga roda ekonomi tetap berjalan merupakan kebijakan keliru. Apalah arti ekonomi menjadi baik, tetapi nyawa yang menjadi taruhanan. Tak ayal, dalam sistem Kapitalisme memertaruhkan nyawa rakyat seolah menjadi hal lumrah. Terpenting, perhatian terhadap ekonomi mendapat porsi luar biasa, karena dalam sistem Kapitalisme materi menjadi tujuan utamanya.
Islam dengan sistem ekonominya, menjadi satu-satunya acuan dalam mengatur perekonomian secara sehat. Mekanisme tentang kebolehan setiap individu dan masyarakat mengambil atau memperoleh manfaat (maslahah), tetapi harus mencegah kerusakan (mafsadah) atau mencegah dari menimbulkan kesulitan bagi sesama. Maka, dalam ekonomi Islam tidak hanya mencari keuntungan pribadi atau kelompok, akan tetapi orientasi ekonomi Islam memiliki tujuan kesejahteraan bagi manusia, yaitu berkontribusi tidak hanya untuk tujuan keuangan itu sendiri tetapi juga untuk penciptaan kesejahteraan dan mewujudkan masyarakat yang baik.
Dalam urusan ekonomi, Islam memandang bahwa setiap kegiatan ekonomi hanyalah cara untuk menciptakan kesejahteraan spiritual, moral, intelektual dan sosial. Meliputi kesejahteraan jasmani, materi, dan kesejahteraan ruhani. Maka, mengacu pada prinsip ekonomi Islam, sudah selayaknya jika negara ingin menyelamatkan ekonomi tetapi juga harus menjaga jiwa rakyatnya. Keduanya adalah hal penting yang harus dipertahankan tanpa mengorbankan salah satunya.
Semestinya tak boleh satupun dari kita lengah dan merasa aman dengan penurunan kasus harian covid-19. Apalagi mengingat virus corona ini sudah bermutasi dalam jumlah yang banyak. Tetap berhati-hati dan waspada dengan selalu menerapkan prokes di setiap kegiatan harian kita. Supaya masing-masing dapat menjaga dan menghindari paparan virus. Kebijakan pemerintah dibuat harus untuk kepentingan melindungi rakyat, supaya rakyat menjadi taat. Bukan malah sebaliknya, negara abai terhadap keselamatan rakyat dan menjadikan sebuah kebijakan dipandang sebagai sebuah lelucon oleh rakyat.
Wallahua'lam

No comments:
Post a Comment