Oleh Nabila Zidane
(Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)
Sebagai seorang ibu tentu saya sangat miris ketika mendengar anak usia SD yang membulli hingga menghajar temannya, ada juga berita seorang anak yang tega menendang kepala ibunya hanya karena tidak diberi uang Rp10.000, astaghfirullahaladzim.
Masih banyak generasi muda yang rusak dan amoral. Hampir semua taman-taman di kota dipenuhi muda mudi yang asyik bercanda tanpa batasan. Tak jarang mereka melakukan kemesraan layaknya suami istri. Bahkan ada yang terjerumus narkoba, free seks, kecanduan game online dan lain sebagainya. Mereka tidak mengenal agama sebagai pedoman hidup dan solusi atas berbagai masalahnya.
Kualitas generasi muda saat ini memang sangat jauh sekali dari generasi para sahabat dan para pejuang Islam.
Penyebab Perbedaan Kualitas Generasi
Prototipe generasi muda dambaan yang dibentuk oleh peradaban kapitalis selalu tidak jauh dari ukuran-ukuran materialistik. Populer, hidup bergelimang harta, selalu tampak gembira namun nyatanya mereka tak pandai dalam menghadapi kehidupan.
Dunia sebatas dinilai sebagai tempat untuk bersenang-senang. Setelah mereka tertimpa masalah miras dan narkoba yang menjadi pelarian. Mereka tidak kenal agama sebagai pedoman hidup dan solusi atas semua masalahnya.
Wajar jika banyak bangsa tidak mampu berharap pada generasinya. Padahal ada sebuah pepatah Arab yang menyatakan,
"Pemuda hari ini adalah tokoh pada masa yang akan datang".
Karena itulah Islam terlebih khilafah islamiyah memberikan perhatian besar kepada masalah pendidikan generasi sejak dini.
Cara Islam Mendidik Generasi
Sejak dini anak-anak kaum Muslimin dipersiapkan untuk siap menanggung beban menjadi mukallaf.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur 7 tahun dan pukullah mereka ketika berusia 10 tahun (jika mereka meninggalkan shalat). Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak perempuan)!”
(Hadis hasan diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 495; Ahmad, II/180, 187; Al-Hakim, I/197)
Hadis tentang ajarkanlah kepada anak-anakmu shalat ketika mereka berumur tujuh tahun bukan hanya mengajari salat saja tetapi juga mengajarkan hukum syariat Islam lainnya.
Keluarga kuslim adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya dan yang tak kalah penting adalah kehadiran negara dalam pendidikan generasi. Khilafah mengatur setiap sistem sehingga semuanya saling mendukung.
Sistem ekonomi membawa kemudahan pada stabilitas keluarga Muslim. Khilafah menjamin setiap jenjang pendidikan dapat diberikan dengan berkualitas dan gratis kepada seluruh rakyatnya baik Muslim ataupun nonmuslim.
Sistem sosial memisahkan kehidupan perempuan dan laki-laki sehingga tidak ada celah kasus-kasus kesusilaan, berbagai ruang maksiat ditutup rapat-rapat.
Karena itulah kehidupan masyarakat dalam khilafah sangat bersih dan terjaga. Ilmu, ketakwaan, sikap yang baik benar-benar menghiasi kehidupan masyarakat.
Sejarah telah mencatat generasi muda pada masa khilafah adalah generasi yang produktif. Karena mereka sibuk dalam ketaatan dan tidak memberi tempat bagi kebatilan.
Contohnya seperti Imam Nawawi yang telah menghasilkan berjilid-jilid kitab dalam usia 20 tahun. Imam Bukhari juga mengumpulkan jutaan hadits dalam umur yang belia bahkan Imam Syafi'i telah memberikan fatwa saat usianya belum genap 15 tahun. Muhammad Al Fatih kita kenal diangkat menjadi Sultan pada saat berumur 12 tahun dan menaklukkan konstantinopel saat berumur 21 tahun.
Semua realitas itu adalah pembuktian bahwa tidak ada peradaban yang mampu menghasilkan generasi unggul kecuali peradaban Islam dalam naungan khilafah Islamiyah.
Wallahu a'lam

No comments:
Post a Comment