Pandemi virus covid-19 masih menerjang Indonesia dan terus menelan korban. Penanganan virus yang dilakukan oleh pemerintah seolah berjalan di tempat dan belum menemukan solusi terbaik untuk menangani wabah secara efektif dan tuntas. Dunia pendidikan pun beku. Ekonomi masyarakat lumpuh. Stress dan depresi masuk ke dalam jiwa masyarakat akibat tekanan ekonomi dan proses pendidikan yang tak berjalan normal. Mirisnya, stress dan depresi tersebut menciptakan perilaku-perilaku kriminalitas yang tak masuk akal.
Dikutip dari media KOMPAS.TV, bahwa Seorang ibu tega menganiaya anak perempuannya hingga tewas, gara-gara si anak tak mengerti saat belajar melalui daring. Polres Lebak, Banten, mengungkap motif pembunuhan anak perempuan berusia 8 tahun oleh orang tua kandungnya, warga Jakarta Pusat. Kasat Reskrim Polres Lebak, AKP David Adhi Kusuma mengatakan, ibu korban melakukan penganiayaan karena putrinya sulit memahami pelajaran, saat belajar daring.
Bukan kali ini saja kasus seorang ibu yang tega membunuh anak kandungnya terjadi. Kasus pembunuhan pun dilakukan lantaran alasan yang sepele. Pandemi ini menyibak sisi kelam kejiwaan sang ibu. Dunia pendidikan yang idealnya dilakukan di sekolah pun mengharuskan berganti dengan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Kebijakan PJJ tersebut diambil dan ditempuh untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Namun, alih-alih program ini menjadi solusi bagi dunia pendidikan,yang terjadi justru memicu timbulnya masalah baru. Termasuk permasalahan yang dikarenakan terbatasnya sarana dan prasarana yang disediakan oleh pemerintah. Koneksi jaringan yang buruk, beban mahalnya kuota internet dan keterbatasan kemampuan orang tua sebagai guru di rumah. Ditambah pula dengan himpitan ekonomi yang kian mencekik menjadikan sang ibu gelap mata hingga tega menganiaya, bahkan sampai membunuh anaknya sendiri.
Solusi demi solusi yang dibuat oleh pemerintah belum mampu mengatasi permasalahan yang terjadi di segala lini kehidupan. Negara gagal dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan biologis, pendidikan, dan juga kebutuhan spiritualitas (keimanan dan ketakwaan) masyarakat. Adapun Bansos yang dibagikan oleh pemerintah nyatanya tak menjamin semua warga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berkecukupan. Bahkan dana bansos yang tak seberapa itu pun masih menjadi lahan korupsi para petinggi negeri.
Sistem kapitalis yang berputar pada bisnis memperkaya diri elit politik membuat pejabat negara kehilangan nurani. Hanya janji manis yang terucap kala butuh suara untuk naik kursi singgasana. Selanjutnya, kepahitan hidup dan kekecewaan yang besar lah yang dirasakan oleh masyarakat. Kursi kekuasaan adalah ladang bisnis yang penuh untung dan pantang rugi. Walaupun dengan jalan korupsi. Walaupun dengan melahap uang rakyat.
Kondisi saat ini tentu sangat berbeda dengan sistem Islam di bawah naungan negara Khilafah. Sejarah mencatat dengan tinta emas keberhasilan islam dalam naungan Khilafah mampu menjadi solusi carut marut persoalan dunia. Pemimpin (khalifah) mempunyai posisi sebagai ra’in (pengurus/penggembala) sekaligus junnah (pelindung) bagi umat.
Dalam sistem Islam, sumber alam merupakan milik umat yang wajib dikelola oleh negara demi kemaslahatan (kemanfaatan) umat. Negara tidak boleh menyerahkan/menjual milik umat itu kepada siapa pun, apalagi kepada asing. Kekayaan sumber alam ini akan menjadi modal dalam menyejahterakan hidup rakyat. Selain itu, sistem baitul mal khilafah akan menghasilkan sumber-sumber pemasukan negara yang halal lagi banyak yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Baik untuk jaminan kebutuhan dasar hidup, kebutuhan komunal/publik, pendidikan, dll. Yakni dari kharaj, fai, ghanimah, jizyah, usyur, dan lain-lain.
Dalam negara Khilafah, pendidikan juga termasuk kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi oleh seorang Kholifah. Bagi Islam, pendidikan adalah pilar yang paling utama, karena merupakan pencetak generasi yang gemilang. Negara memberi fasilitas yang sama bagi orang miskin atau pun orang kaya. Negara akan menyediakan fasilitas dan infrastruktur pendidikan yang terbaik, seperti gedung-gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium dan sebagainya. Khilafah juga menyediakan para pendidik yang sesuai ahli di bidangnya, sekaligus gaji yang cukup besar.
Saat pandemi menyerang negeri, maka negara akan bersegera melakukan berbagai upaya untuk mengurangi penyebaran virus dan memastikan kebutuhan dasar hidup serta keselamatan rakyat tetap terjaga. Semuanya, semata-mata karena menyadari bahwa mengurus rakyat adalah bagian dari amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.
Tentu menjadi hal yang berbeda antara kepemimpinan berparadigma kapitalisme dengan kepemimpinan sistem Islam. Kepemimpinan kapitalisme adalah kepemimpinan yang mengabdi pada hawa nafsu para pemburu harta dan kekuasaan, sedangkan sistem Islam dibimbing oleh Allah SWT, pencipta dan pengatur alam semesta beserta isinya. Maka selayaknya umat Islam bersegera mewujudkan kembali kepemimpinan Islam dalam naungan Khilafah rasyidah l.
Allah SWT berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 24)
Wallahu ‘alam Bisshawab

No comments:
Post a Comment