Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bela Nabi, Boikot Prancis Secara Kaffah!

Tuesday, November 10, 2020 | Tuesday, November 10, 2020 WIB


By. Riannisa Riu

Hati siapa yang tidak sedih tatkala menyaksikan penghinaan demi penghinaan yang terus ditujukan kepada Baginda Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam oleh Negara Prancis. Terlebih lagi penghinaan ini dilakukan tepat pada saat umat muslim tengah merayakan bulan kelahiran Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam, bulan Rabiul Awwal.

Dilansir dari palembang.tribunnews.com Rabu, 28 Oktober 2020, Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengatakan bahwa menggambarkan Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam sebagai kartun bukan hal yang salah. Mengutip jaringan berita CNN, Macron menyampaikan sikap itu pekan lalu, untuk menghormati guru sekolah menengah yang dibunuh. Guru yang bernama Samuel Paty (47) tewas setelah kepalanya dipenggal usai mengajar di pinggiran Paris.

medan.tribunnews.com menyebutkan bahwa Paty dihabisi oleh seorang ekstrimis muda dari Chechnya, Abdoullakh Anzorov setelah dia menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas. Di Prancis, membahas kartun karya Charlie Hebdo dianggap sebagai pelajaran kebebasan berekspresi. Sementara Presiden Dewan Muslim Prancis, Mohammed Moussaoui, justru mendesak sesama muslim untuk mengabaikan keberadaan kartun Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi wasallam tersebut. Moussaoui lantas mengingatkan bahwa berdasarkan hukum Prancis, karikatur semacam itu memang diizinkan.

Momen tewasnya Samuel Paty ini langsung dimanfaatkan oleh sang Presiden Prancis dengan menyebutnya sebagai bentuk serangan dari teroris Islam. Akhirnya warga Prancis beramai-ramai mengutuk kejadian tersebut. Sang Presiden telah menyulut kebencian warganya terhadap Islam dan menyebabkan warga Prancis menjadi islamophobia. Hingga pada 18/10/2020, terjadi peristiwa penusukan kepada dua orang muslimah di bawah menara Eiffel. Mereka ditikam beberapa kali hingga menembus paru-parunya, hanya karena mereka berhijab. Bahkan, pelaku menyebut muslimah tersebut dengan panggilan"orang arab kotor".(Republika,22/10/2020)

Sikap rasialisme dari Presiden Prancis terhadap umat muslim ini bukan pertama kalinya terjadi. Sebelumnya, Jumat (2/10/2020) lalu voanews[dot]com melansir artikel berjudul Islam in ‘Crisis All Over the World’, France’s Macron Says. Berita ini mengungkap pidato Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyebut bahwa Islam adalah agama yang sedang ada dalam krisis di seluruh dunia., termasuk di negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim.

Macron menyebut akan mengeluarkan kebijakan tegas untuk memerangi separatisme di komunitas muslim Prancis, yaitu dengan menanamkan nilai-nilai sekuler di seluruh aspek kehidupan. Menurutnya, hari ini masih banyak anak-anak muslim -yang dalam hitungannya ada sekitar 50 ribu anak- hanya dididik keluarganya di rumah-rumah mereka (home schooling). Tahun depan, Macron akan mendorong (memaksa) anak-anak ini untuk bersekolah di sekolah-sekolah umum. Tujuannya tidak lain agar terhadap anak-anak ini bisa ditanamkan nilai-nilai sekuler, sehingga benih-benih radikalisme akan hilang. Terlebih menurutnya, sekularisme merupakan semen yang membangun Prancis menjadi negara yang utuh atau negara yang satu.

Pernyataan tersebut sontak menuai kecaman dari berbagai pihak. Rim-Sarah Alaoune, seorang akademisi di dalam negeri Perancis misalnya, menyebut pernyataan Macron ini sebagai pernyataan yang tak masuk akal, bodoh, bahkan rasis. Pernyataan tersebut membuktikan betapa besar kebencian dan sikap rasis Presiden Macron terhadap islam dan seluruh pemeluknya. Peristiwa kematian Samuel Paty adalah tuas utama yang menunjukkan wajah islamophobia tersebut.

Peristiwa penghinaan kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam ini pun berbuntut panjang. Pernyataan Presiden Perancis, Emmanuel Macron yang berbau islamofobia terus menuai kecaman dari pemimpin negeri-negeri muslim. Termasuk organisasi Liga Muslim Dunia dan Organisasi Kerja sama Islam (OKI). Selain kecaman, seruan boikot produk Perancis pun mulai merebak di mana-mana. Bahkan di Bangladesh dan Pakistan terjadi demonstrasi besar-besaran.

Melihat respons dari negeri-negeri Islam ini, Macron alih-alih melunak. Di akun Twitternya, dia malah intens menyampaikan pernyataan-penyataan.

“We will not give in, ever. We respect all differences in a spirit of peace. We do not accept hate speech and defend reasonable debate. We will always be on the side of human dignity and universal values. (Kami tidak akan pernah menyerah. Kami menghormati semua perbedaan dalam semangat damai. Kami tidak menerima perkataan yang mendorong kebencian dan membela perdebatan yang masuk akal. Kami akan selalu berpihak pada martabat manusia dan nilai-nilai universal),” tulisnya. (cnnindonesia.com, 26/10/2020)

Pihak Prancis mampu bersikap sekeras ini dalam menghadapi umat muslim sejatinya adalah dikarenakan kelemahan yang diderita oleh umat muslim saat ini. Akibat kelemahan kaum muslimin, penistaan demi penistaan terhadap Nabi kita tercinta terus terjadi. Tanpa adanya pembelaan yang berarti dari kaum muslimin selain menyuarakan kecaman dan boikot produk. Yang pada akhirnya sama sekali tidak memberikan dampak nyata terhadap Prancis maupun individu-individu yang menghina Nabi Shalallahu’alaihi wasallam, seperti Charlie Hebdo dkk.

Umat muslim saat ini benar-benar bagaikan buih di lautan, banyak namun tak berdaya, lemah dan mudah ditindas serta dihinakan. Tidak ada junnah/perisai yang mampu melindungi kaum muslimin maupun kehormatan Nabi saat ini. Umat muslim saat ini dipisahkan oleh batas-batas negara yang berbeda, nasionalisme yang berbeda, kepentingan yang berbeda, peraturan dan perasaan yang berbeda menyebabkan umat pun memiliki pemikiran yang berbeda dan mudah sekali dibuat tercerai berai oleh kaum kafir penjajah. Padahal sudah seharusnya seluruh umat muslim di dunia ini dipersatukan oleh pemikiran, peraturan dan perasaan yang sama, yakni Islam.

Masalah utama dalam kasus penghinaan Nabi kali ini justru adalah kebebasan berekspresi yang amat diagung-agungkan oleh Negara Prancis tersebut. Kebebasan berekspresi itu adalah bagian dari ideologi buatan manusia, kapitalisme sekuler. Kapitalisme pada dasarnya menjunjung empat jenis kebebasan, yakni kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan kepemilikan, serta kebebasan pribadi (berekspresi).

Setiap kebebasan yang diusung oleh ideologi kapitalisme ini memang tampak menjanjikan, namun ternyata masing-masing dari kebebasan ini memiliki batas. Kebebasan beragama memang mengizinkan setiap orang untuk memeluk agama yang mereka inginkan, akan tetapi tidak membebaskan setiap orang untuk menjalankan aturan agamanya masing-masing. Ketika ada aturan agama yang bertentangan dengan aturan negara, maka aturan agama tersebut akan langsung diabaikan/ dihilangkan. Begitu pula dengan kebebasan berpendapat. Setiap orang bebas mengatakan apapun, bahkan menghina siapapun yang diinginkannya. Selama tidak ada pertentangan dari orang lain, maka bebas berkata apa saja. Tapi jika berani mempertanyakan keputusan negara, maka tentu akan dijerat oleh pasal peraturan negara.

Kebebasan pribadi (berekspresi) pun demikian. Kebebasan berekspresi ini diizinkan bagi setiap individu selama tidak mengganggu otoritas negara. Ketika ada kebebasan berekspresi yang mengganggu sistem pemerintahan, tentu akan langsung dicap sebagai bentuk terorisme dan separatisme, seperti perbuatan para muslimin di Prancis yang mendidik anak-anak mereka dengan homeschooling.

Untuk kebebasan kepemilikan ada sedikit perbedaan. Dalam hal ini harta-lah yang bicara. Setiap orang bebas membeli/memiliki apapun asalkan memiliki uang. Dan inilah bukti bahwa ideologi kapitalisme adalah sistem khusus yang memang dibuat untuk para pemodal (kapital). Bukan untuk umat, apalagi untuk rakyat miskin. Semakin kaya seseorang, maka akan semakin berkuasa. Semakin jumawa karena mampu memiliki apa saja, bahkan SDA atau SDM dari negara manapun yang diinginkannya.

Ini adalah bukti nyata, bahwa kebebasan yang diusung negara-negara kapitalis sekuler seperti Prancis hanyalah kebebasan semu yang menguntungkan para pemilik modal semata. Kaum buruh, rakyat miskin dan umat muslim takkan pernah mendapatkan keadilan dari kebebasan semacam ini. Bahkan nilai-nilai kebebasan inilah yang terus menerus memberikan ruang kepada para penista Nabi untuk tetap melakukan penistaan mereka. Inilah sesungguhnya hal yang paling perlu untuk diboikot oleh seluruh umat muslim di dunia.

Bukan hanya sibuk memboikot produk fisik yang nyata seperti sabun, produk kecantikan, oli, tas-tas dan perhiasan mahal yang sesungguhnya tidak akan terlalu memberi kerugian besar kepada Prancis, melainkan umat seharusnya memboikot produk pemikirannya, yakni hadlarah kafir penjajah barat yang saat ini diadopsi bahkan oleh negara-negara berpenduduk mayoritas muslim sekalipun. Itulah sekulerisme, nasionalisme, demokrasi, nilai-nilai kebebasan yang sesungguhnya palsu, memisahkan kehidupan umat dari agamanya, menjauhkan umat dari memahami keagungan Islam yang sesungguhnya. Inilah produk pemikiran yang teramat keji, telah menjajah umat tanpa disadari selama ini. Umat terlena dengan kebebasan duniawi, menjadi kaum yang berpenyakit wahn (cinta dunia dan takut mati).

Mungkin qadarullahnya demikian, persatuan umat tidak bisa semata-mata terjadi. Dengan adanya peristiwa penghinaan terhadap Nabi, umat haruslah menyadari bahwa ideologi kapitalisme ini tak bisa dibiarkan bertahta lagi. Seluruh umat muslim harus kembali kepada syariah kaffah, bersatu untuk membangkitkan kembali junnah kaum muslimin, yaitu khilafah. Dengan adanya negara Khilafah, maka takkan ada lagi yang berani menistakan Rasulullah, karena khalifah pasti akan mengeluarkan perintah jihad fi sabilillah. Karena itu, marilah boikot tuntas negeri kafir penjajah secara kaffah, boikot sekularismenya, boikot pula nasionalisme dan demokrasinya, berikut dengan seluruh metode penjajahan yang ada di dalamnya. Lalu kembalilah pada syariat islam, maka kehidupan Islam rahmatan lil alamin pun insyaAllah akan  kembali ke alam ini. Wallahu’alam bisshawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update