Viral di jagad media menyoal kasus Vandalisme yang membuat Musala Darussalam, Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang dicoret tak karuan dengan kata - kata 'anti Islam', 'saya kafir' , 'anti khilafah' dll. Tak hanya itu pelaku juga merobek Al-quran dan merusak fasilitas mushala. Pelaku aksi ini adalah seorang pemuda bernama Satria, berusia 18 tahun yang tinggal 50 meter dari musala.
Tak hanya sekali ini, umat Islam yang tinggal di negeri mayoritas muslim ini kerap kali mendapat aksi serupa, bahkan fitnah kejam, teror hingga kekerasan fisik. Masih hangat di ingatan umat kasus Syekh Ali Jabr yang kini belum jelas kelanjutannya. Penyerangan fisikpun kerap menimpa pemuka agama, sebut saja KH Abdul Hakam M, Ustadz HR Prawanto, KH Umar Basri dll. Tak ketinggalan kasus pembakaran masjid di papua, kekerasan petugas ketika 212 dan sederet kasus lain yang menimpa umat Islam, terutama ormas dan oknum yang mendakwahkan Islam.
Jika vandalisme ini sekali terjadi, mungkin publik tidak akan berspekulasi. Namun serangkaian kejadian yang menimpa umat Islam berkali - kali terjadi. Wajar saja jika publik mempertanyakan ada apa dengan rezim ini, seolah anti dengan Islam dan teracuni dengan isu islamophobia.
Ironis sekali islamophobia menjadi penyakit di negeri yang hampir 90% penduduknya adalah muslim. Hal ini terlihat dari geliat pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan hingga statement para petinggi negeri. Penyakit ini bercokol subur dalam iklim demokrasi ini.
Demokrasi kapitalisme adalah sebuah ideologi yang bertentangan dengan Islam. Karena akidah dari kapitalisme sendiri adalah sekulerisme yakni memisahkan antara agama dengan kehidupan. Hal ini terlihat jelas pada prakteknya, yakni kebijakan dibuat dengan akal manusia bukan merujuk pada hukum agama. Agama disingkirkan dari ranah umum (politik, ekonomi, dll) dan dibatasi pada praktik individu saja. Agama yang berusaha untuk mengusik eksistensi ideologi ini jelas akan di depak dari peradaban.
Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Semua aturan baik perpolitikan, ekonomi, pendidikan, ibadah dll semua ada secara rinci di dalamnya. Maka sebagai seorang muslim yang ingin menerapkan aturan Islam secara menyeluruh akan bertentangan dengan ideologi yang diemban negara saat ini. Padahal jelas ideologi ini telah menimbulkan kerusakan parah di segala lini kehidupan. Tak dipungkiri geliat kebangkitan Islam yang diemban dan didakwahkan oleh kaum muslim semakin menggaung. Jelas ideologi ini berusaha keras untuk mempertahankan eksistensinya. Salah satu caranya yakni menyebarkan isu Islamophobia ini.
Barbagai fitnah hingga persekusi sudah jadi makanan sehari - hari para pengemban dakwah yang mendakwahkan Islam. Tak hanya itu bahkan aksi teror hingga pembunuhan tak jarang terjadi. Ironis, negeri yang menggaungkan kebebasan berpendapat tapi membungkam erat dakwah Islam.
Padahal kemenangan Islam adalah janji Allah sebetapapun musuh Allah menghalanginya.
الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“..Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. Al-Maidah: 3)
Wallahualambissawab

No comments:
Post a Comment