Pengemban Dakwah, Komunitas menulis Revowriter
Ramai di sosial media, sebuah tayangan video dari DW Indonesia yang isinya mempermasalahkan pemakaian jilbab pada anak. Dari tayangan tersebut, seorang psikolog Rahajeng Ika memaparkan dampak ketika anak-anak dipakaikan jilbab sejak dini. Anak-anak dikhawatirkan akan mengalami kebingungan identitas ketika dewasa. Senada dengan Rahajeng Ika, seorang feminis Nong Darol Mahmada mengungkapkan dampak dari pemakaian jilbab pada anak-anak. Anak yang dipakaikan jilbab sejak dini dikhawatirkan akan membentuk pola pikir yang eksklusif. Menurutnya, semestinya anak pada masa pertumbuhannya dibiarkan menjadi apapun, menjadi siapapun. Ketika sejak dini sudah diberi identitas muslim, anak-anak dengan sendirinya akan mengeksklusifkan diri.
Syariat islam kini dipersoalkan. Padahal ini menyangkut aqidah umat islam yang semestinya orang-orang dari luar islam tak perlu permasalahkan. Framing buruk terhadap ajaran islam bukanlah yang pertama kali terjadi. Hal ini berulang terjadi karena dalam sistem demokrasi setiap orang dijamin kebebasannya untuk berpendapat. Meskipun pendapatnya melampaui batas-batas toleransi. Pemerintah seolah melakukan pembiaran, tanpa memberlakukan sanksi yang membuat jera.
Sebagai seorang muslim, ukuran benar salah hanyalah Al-Qur’an dan Sunnah. Adapun pemikiran-pemikiran yang datangnya dari luar islam perlu disaring. Apakah sesuai atau tidak dengan pandangan islam. Termasuk dalam hal mendidik anak-anak.
Di dalam Al-Qur’an Allah SWT perintahkan setiap orang tua untuk menjaga anggota keluarganya dari siksa api neraka.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. At-Tahrim [66]:6)
Memelihara diri dan anggota keluarga dari siksa api neraka ialah dengan cara taat kepada perintah Allah SWT dan Rosulullah SAW. Mendidik anak dalam berpakaian yaitu dengan membiasakan dan melatih mereka untuk berhijab. Ini adalah salah satu upaya mengenalkan anak pada Allah SWT sebagai Tuhannya. Tidak akan ada ketaatan tanpa keimanan. Maka sebelum dikenalkan pada syariat, anak-anak harus ditancapkan keimanannya pada Allah SWT. Allah-lah yang telah memberikan ia hidup maka sudah sepatutnya sebagai ciptaan-Nya untuk taat kepada-Nya.
Tugas orang tua tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik tapi juga mendidik anak-anaknya sesuai ajaran islam. Orang tua tidak bisa membiarkan anak-anak tumbuh tanpa arahan. Karena setiap orang tua akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang diberikan pada dirinya.
“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi)
Sudah sepatutnya sebagai orang tua muslim menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai panduan dalam mendidik anak-anak. Orang tua muslim tidak boleh terpengaruh ide Sekuler dan Liberal yang dikampanyekan beberapa pihak. Memisahkan agama dari kehidupan dan mengagung-agungkan kebebasan jelas bertentangan dengan islam. Karena bagaimanapun, setiap muslim wajib terikat dengan hukum syara.
Wallahu’alam bishawab

No comments:
Post a Comment