Goresan Pena : Sahara
(Aktivis Dakwah Lubuk Pakam)
Sejatinya manusia di belahan dunia manapun, tidak akan pernah suka untuk dikekang dan di paksa menerima atau bahkan melakukan sesuatu yang tidak disukainya, dan itu adalah Fitrah. Termasuk pengaturan bagi tubuhnya sendiri. Manusia ingin melakukan apapun untuk tubuhnya, dan yang pasti,menurutnya itulah yang terbaik. Bukan hanya tentang tubuh saja, tapi hal ini berkaitan pula dengan kehidupan nya.
Manusia diberikan Akal oleh Allah, sedangkan makhluk ciptaan Allah yang lain nya, tidak. Dan inilah mengapa manusia lebih istimewa dari makhluk ciptaan Allah yang lain. Akan tetapi perlu kita sadari, bila perlu banyaklah berkaca diri, karena sejatinya manusia tidak akan pernah bisa lepas dari kesalahan-kesalahan, kelalaian dan juga manusia bergantung pada orang lain, yang artinya manusia adalah makhluk Allah yang juga lemah.
Maka oleh sebab itu, manusia membutuhkan peraturan , petunjuk yang bisa mengatur kehidupan dengan baik. Tidak hanya dalam aspek pribadi saja, manusia juga butuh aturan yang ruang lingkupnya jauh lebih besar dari itu. Dan Aturan yang benar benar mampu untuk dijadikan sebagai pedoman hidup, tidak lain datangnya hanya dari Allah SWT, sang Khaliq. Sebab hanya sang pencipta yang maha tahu tentang apa yang terbaik bagi seluruh ciptaannya. Maka sudah sepantasnya kita mengikuti apa yang sudah Allah berikan kepada kita. Bukan dari yang lain nya.
Jangan sampai kita seperti seekor kerbau yang didandani agar terlihat cantik, tapi ketika dinaikkan ke atas pentas, tidak bermoral sedikit pun. Wajar bila itu terjadi pada kerbau, karena sebenarnya ia hewan yang tak berakal. Tapi jika ini terjadi pada manusia? Bila mewajarkan hal ini, lantas tak ubahnya seperti seekor hewan,bukan?
Wajib bagi setiap muslimah yang mengaku dirinya beragama Islam untuk menutupi aurat nya, dari ujung rambut hingga ujung kakinya, kecuali wajah dan telapak tangannya. Berhijab syar'i seperti ini bukanlah untuk mengengkang wanita, melainkan untuk menjaganya dari nafsu syahwat liar, menjaga kehormatannya dan agar dia lebih dikenal sebagai seorang muslimah. Dan berhijab syar'i adalah salah satu bentuk aturan dari Allah yang wajib untuk dilakukan setiap muslimah yang telah baligh,karena mengikuti aturan hukum Syara' adalah kaidah hukum perbuatan manusia.
“Katakanlah kepada perempuan yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau perempuan-perempuan Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)
Maka dari itu tidaklah bijak mengatakan bahwa berhijab syar'i mengekang wanita, merendahkan martabat wanita dan katanya membawa banyak kemudharatan bagi perkembangan anak kelak.
Padahal bila di telaah secara keseluruhannya, kemudharatan itu sendiri banyak terjadi ketika wanita lupa dengan fitrahnya dan dengan senang hati mengumbar auratnya. Berjalan berlenggak lenggok menampilkan kemolekan tubuhnya. Dan sering sekali kemolekan ini dijadikan sebagai bahan utama pendukung komersial. Apakah ini adalah bentuk dari perwujudan kehormatan wanita? Miris sekali.
Untuk itu, pemahaman Aqidah yang baik dan praktek pembiasaan untuk mengikuti aturan hukum Syara' ini sudah seharusnya dilakukan sejak dini. Agar dewasa kelak, dia terbiasa untuk taat dengan hukum Syara', dia akan berpikir sebelum bertindak semata-mata untuk meraih ridho Allah, bukan sebab lainnya. Dia memilih taat dengan aturan Allah bukan karena paksaan siapa pun, tapi kesadarannya tentang seluruh perbuatan manusia akan di hisab di akhirat kelak. Dan ia akan sadar betul bahwa tempat kembali manusia setelah kematian hanya ada surga dan neraka. Maka dari itu ketaatannya adalah pilihannya sendiri.
Seperti biasa, musuh Islam tidak akan pernah berhenti untuk terus melakukan berbagai daya dan upaya untuk menghancurkan Islam, mereka akan terus menjauhkan umat Islam dari agamanya sendiri, menjadikan aturan Islam itu sebagai momok yang menakutkan. Hingga terwujud islamophobia bagi umat islam.Serangan kaum liberal kembali diarahkan pada ajaran Islam. Pendidikan ketaatan dlm berpakaian disoal, dianggap pemaksaan dan berakibat negatif bagi perkembangan anak.
Dilansir dari salah satu media pemberitaan,
Media asal Jerman Deutch Welle (DW) dihujat sejumlah tokoh dan netizen karena membuat konten video yang mengulas tentang sisi negatif anak pakai jilbab sejak kecil. (jurnalgaya.pikiran-rakyat.com)
Dalam video itu, DW Indonesia mewawancarai perempuan yang mewajibkan putrinya mengenakan hijab sejak kecil.DW Indonesia juga mewawancarai psikolog Rahajeng Ika. Ia menanyakan dampak psikologis bagi anak-anak yang sejak kecil diharuskan memakai jilbab.
“Mereka menggunakan atau memakai sesuatu tapi belum paham betul konsekuensi dari pemakaiannya itu,” kata Rahaeng Ika menjawab pertanyaan DW Indonesia.
“Permasalahannya apabila di kemudian hari bergaul dengan teman-temannya,kemudian agak punya pandangan yang mungkin berbeda, boleh jadi dia mengalami kebingungan, apakah dengan dia pakaian begitu berarti dia punya batasan tertentu untuk bergaul,” tambahnya.
DW Indonesia juga mewawancarai feminis muslim, Darol Mahmada tentang dampak sosial anak yang diharuskan memakai hijab sejak kecil.
Menurut Darol Mahmada, wajar-wajar saja seorang ibu atau guru mengharuskan anak memakai hijab sejak kecil.
“Tetapi kekhawatiran saya sebenarnya lebih kepada membawa pola pikir si anak itu menjadi eksklusif karena dari sejak kecil dia ditanamkan untuk misalnya “berbeda” dengan yang lain,” kata Darol Mahmada.
untuk memperkuat pernyataan dan pertanyaan mereka, dalam video tersebut disambungkan dengan pendapat beberapa orang psikologi yang justru terlihat lebih berpihak pada postingan dan tujuan DW Indonesia. Dan tidak menyertakan pendapat dari alim ulama dan cendikiawan muslim yang mumpuni.
Akibatnya DW diserang oleh netizen, karena sudah mencoba untuk bertindak secara sepihak namun disisi lain justru tidak memperlihatkan “niat” yang baik, walaupun DW Indonesia sempat menjawab beberapa komentar netizen yang masuk, dengan bertindak seolah-olah bijaksana, namun tetap saja menjadi bulan-bulanan netizen. (www.gelora.co)
“Pemakaian jilbab karena kesadaran, sebagai pilihan dan ekspresi pencarian jati diri, tanpa paksaan atau tekanan, patut dihormati dan dihargai.” @dw_indonesia
“Apakah anak bayi yang dipakaikan #baju itu memiliki pilihan atas apa yang ingin ia kenakan?” @zarazettirazr
melanjutkan postingannya, “Apakah anak2 yang disekolahin TK punya pilihan ? Perasaan gue males banget sekolah TK dulu. tapi sekolah juga karena dipaksa ortu , uda gede kubersyukur.”
“Ribet amat,, gw n adik2 gw dr kecil pake jilbab ga punya rasa minder atau berbeda dlm pergaulan.. apalagi sejak di Australia ditmpt cm gw yg pake hijab ga da punya rasa berbeda.. santuyyy aja ..bule2 aje kaga ribet.” @masithah_oliver
“Kasihan lu min, nga ada pilihan sehingga mesti merecoki yg beginian.Anak2 itu ibarat kertas putih, dari kecil mereka di ajar kebaikan & nilai2 keagamaan. Nanti kalau lo punya anak, pasti paham min.” @Bakwan_
“Orang tualah yg memilihkan anak tentang sesuatu karena belum mempunyai pertimbangan…bila ortu membebaskanx….,,.nikmati hasilmu.” @mitra_achmad
“Semoga tumbuh jadi anak-anak sehat yang bahagia dan toleran.” @dw_indonesia. rupanya cara mengelak dapat “serangan” dari netizen lainnya, “Jualan Toleransi tapi lu sendiri ga toleran, memakai jilbab adalah bagian dari keyakinan dan keimanan kenapa lu usik, nanti kalo gue bilang nganu lu teriak paling kenceng Islam Tidak Toleran kan, Goblok.” @AcanAbu
Serangan kaum liberalis ini tidak akan pernah berhenti selama sistem yang diterapkan sistem kapitalis sekuler, yang memisahkan agama dari kehidupan. Umat harus sadar dan paham betul mengenai agenda besar mereka untuk menjatuhkan Islam. Harus segera bangun, jangan sampai terlelap lebih dalam sebelum terlambat.
Bagaimana sistem khilafah meniadakan serangan serangan liberal terhadap ajaran islam?
Diceritakan dalam ar-Rahiq al-Makhtum karya Syaikh Shafiyurrahman Mubarakfury, bahwa ada seorang wanita Arab yang datang ke pasar kaum Yahudi Bani Qainuqa.
Dia duduk di dekat perajin perhiasan. Diam-diam perajin perhiasan ini mengikat ujung jilbabnya. Ketika ia bangkit, auratnya seketika itu juga tersingkap.
Muslimah ini spontan berteriak dan seorang laki-laki muslim yang berada di dekatnya menolongnya dan membunuh Yahudi tersebut. Orang-orang Yahudi kemudian membalas dengan mengikat laki-laki muslim tersebut lalu membunuhnya.
Kabar tentang kejadian ini sampai kepada Rasulullaah Saw. Rasulullaah Saw. bersama pasukan kaum muslim berangkat menuju tempat Bani Qainuqa dan mengepung mereka dengan ketat.
Bani Qainuqa akhirnya bertekuk lutut dan menyerah setelah dikepung selama 15 hari. Allah SWT memasukkan rasa gentar dan takut ke dalam hati orang Yahudi ini.
Hampir saja semua kaum laki-laki Bani Qainuqa ini dihukum mati oleh Rasulullaah Saw. Namun keputusan itu berubah ketika Abdullah bin Ubay memohon pada Rasulullaah Saw. untuk memaafkan mereka. Akhirnya Rasulullaah Saw. bermurah hati dan memerintahkan Bani Qainuqa untuk pergi sejauh-jauhnya dan tak boleh lagi tinggal di Madinah.
Kisah di Masa Khalifah al-Mu’tashim Billah, Khalifah Bani Abbasiyah.
Kota Amurriyah yang dikuasai oleh Romawi saat itu berhasil ditaklukkan oleh al-Mu’tashim. Pada penyerangan itu sekitar 3.000 tentara Romawi tewas terbunuh dan sekitar 30.000 menjadi tawanan.
Di antara faktor yang mendorong penaklukan kota ini adalah karena adanya seorang wanita dari sebuah kota pesisir yang ditawan di sana. Ia berseru, “Wahai Muhammad, wahai Mu’tashim!”
Setelah informasi itu terdengar oleh khalifah, ia pun segera menunggang kudanya dan membawa bala tentara untuk menyelamatkan wanita tersebut. Akhirnya kota tempat wanita itu ditawan pun ditaklukkan. Setelah berhasil menyelamatkan wanita tersebut al-Mu’tashim mengatakan, “Kupenuhi seruanmu, wahai wanita!”
Islam tidak hanya memberikan aturan, tapi juga memberikan penjagaan kemuliaan terhadap wanita. Tidak seperti sistem kapitalis sekuler yang memberikan kebebasan tanpa batas, nyatanya kebebasan yang digaungkan ini malah semakin mengkerdilkan aturan orang yang ingin menjalankan perintah agamanya.Bicara mengenai toleransi tapi mereka sendiri yang tak mampu konsisten dengan tekad toleransi, bicara mengenai kebebasan tapi malah tidak memberikan kebebasan, dan nelangsa melihat perbedaan.
Hanya dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah, kemuliaan wanita tetap terjaga. Hanya dengan Islam martabat dan harga diri wanita di junjung tinggi. Dan penerapan Islam hanya akan terwujud dalam bingkai institusi khilafah ala Minhajji Nubuwwah. Wallahu a'lam bishowab.

No comments:
Post a Comment