Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kesetaraan Upah, Angin Surga Kapitalis Bagi Perempuan

Sunday, October 04, 2020 | Sunday, October 04, 2020 WIB

Goresan Pena : Irmaya, S.Pd.I
 (Aktivis Dakwah Lubuk Pakam)


Untuk pertama kalinya dunia memperingati International Equal Pay Day, atau Hari Kesetaraan Upah International pada 18 September 2020.Peringatan ini diduung oleh Organisasi Perburuhan International (ILO) UN Women and the Organisation For Economic Co-Operation and Development (OECD), yang mendirikan Koalisi International untuk Kesetaraan Upah (Equal Pay International Coalition/EPIC). Tujuan Koalisis adalah mencapai upah yang setara bagi perempuan dan laki-laki dimanapun.

EPIC mendukung pemerintah, pengusaha, pekerja, dan organisasi mereka untuk membuat kemajuan yang konkrit dan terkoordinasi menuju tujuan ini, terlebih dimasa pandemic covid-19. Hari peringatan international ini menandai komitmen Perserikatan Bangsa-Bangsa terhadap hak asasi manusia dan melawan segala bentuk diskriminasi, termasuk diskriminasi perempuan dan anak perempuan. Secara global , kesenjangan upah berdasarkan gender berada pada angka 16 persen, yang berarti pekerja perempuan mendapatkan rata-rata 84 persen dari penghasilan laki-laki. Perbedaan gaji ini memiliki konsekuensi negative secara dalam kehidupan sehari-hari seorang perempuan dan keluarga mereka.Dampak buruk inidiperparah oleh krisis karena Pandemi Covid-19.

Kesetaraan Gender adalah program global yang ingin diwujudkan, mereka ingin dapat terwujud pada tahun 2030.Para pegiat gender ingin bahwa perempuan itu setara dengan laki-laki secara penuh, dalam segala hal, baik politik,ekonomi, dan social serta yang lainnya. Dalam bidang ekonomi, dibuatlah program pemberdayaan ekonomi perempuan, dimana perempuan berdaya secara finansial.Karena itu, mereka mendorong perempuan sebagai wirausahaterjun dalam UMKM agar perempuan  mandiri secara finansial. Kesetaraan dalam bidang ekonomi lainnya yang ingin diwujudkan adalah partisipasi kerja yang sam seperti laki-laki, dan juga upah yang sama ketika perempuan sebagai pekerja.

Memperpanjang Nafas Kapitalis
Jika ditilik dan kita pahami, sejarah munculnya keseraan gender dan perkembangannya dalam kehidupan konstelasi politik internationalsaat ini, maka kita akan memahami bahwa mereka sengaja menggaungkan kesetaraan gender sebagai salah satu cara untuk menjauhkan kaum muslimin dari Islam.mereka sengaja mengangkat “perbedaan-perbedaan “ yang ada dalam Islam, dan dianggap sebagai “ketidaksetaraan” untuk mengelabuhi kaum muslimin agar kaum muslimin berkiblat pada barat dan menganggap barat memiliki solusi atau berbagai problem yang ada ditengah umat manausia, sehingga kaum muslimin meninggalkan islam.

Namun, akibat yang paling berbahaya dari tatanan tersebut adalh dampak sosial yang bermuara tidak saja pada ehancuran keluarga, namun jugga kehancuran peradaban. Saat beban hidup makin menyesak, setiap laki-laki ‘terpaksa’ menggadaikan tanggung jawabnya sebagai pencarai nagkah keluarga. Kesulitan mendapatkan akses pekerjaan menjadikan mereka melepas status terhormat sebagai kepala keluarga.Apalagi strategi massif perberdayaan perempuan membuat kewajiban mereka beralih tangan. Wajar jika saat ini dunia muslim, fungsi qowwan laki-laki menjadi perlahan tereduksi.

Konsekuensi logis yang harus dihadapi keluarga jika ibu-ibu mereka harus berangkat ‘mencari penghasilan’ adalah meninggalkan tanggung jawab sebagai pengurus rumah tangga , termasuk kewajiban melakukan hadhonah bagi anak yang masih membutuhnkannya.Fatalnya, pemerintah  bukannya memastikan fungsi ibu berjala optimal, namun justu menerbitkan aturan yang memfasilitasi fenomena mobilisasi pekerja perempuan.

Tak dapat dipungkiri jika secara tidak langsung rancangan pebangunan yang mengeksploitasi wanita akan membawa kehancuran keluarga.Institusi terkecil dalam masyarakat yang seharusnya berperan dalam pembangunan peradaban rusak karena peran dan fungsi, keluarganya tak lagi selaras dengan tatanan Allah SWT Sang pengatur kehidupan. Selain itu, tak cukup dengan merusak jualitas generasi, kepunahan generai juga bakal menjadi momok dalam masa depan. Tuntunan karier membuahkan keinginan perempuan pekerja untuk menunda kehamilan,membatasi jumlah anak atau bahkan tak ingin memilikinya. 

Islam Melindungi Perempuan
Para pegiat gender meyakini , bahwa upah setara adalah bagiaan dari upaya untuk mensejahterahkan perempuan dan mewujudkan kesetaraan perempuan. Namun sesungguhnya itu hanyalah narasi yang menyesatkan. Kesejahteraan perempuan niscaya tidak akan terwujud dengan adanya upah setara.Karena sejatinya upah setara adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan partisipasi penuh perempuan dala dunia kerja. Partisipasi penuh perempuan ini tentu saja akan mengganggu bahkan merusak peran kodrati perempuan sebagai istri, pendidik generasi dan pengatur rumah tangga sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Islam.

Islam mewajibkan setiapa muslim melaksanakan semua hukum syara’ sesuai ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu setiap muslim wajib memahaminya sehingga pelaksanaan hukum itu sesuai dengan yang disyari’atkan. Islam menjaga kemuliaan perempuan sesuai dengan fitrah penciptaannya . Perempuan berperan optiomal sebagai istri, ibu, dan pengatur rumah tangga dalam keadaan sejahtera karena Islam memiliki berbagai mekanisme yang dapat menjamin nafkahnya.

Kemuliaan perempuan juga akan terjaga karena ia hidup bersama mahramnya dalam keluarga yang dilandasi keimanan dan di tengah masyarakat yang terjaga ketaqwaannya.Islam juga membolehkan perempuan bekerja . Namun bekerjanya perempuan adalah untuk mengamanlkan ilmu dan member manfaat pada umat,bukan tuntutan menanggung nafkah. Dan tentu saja Islam juga menghargai hasil kerja perempuan sebagaimana laki-laki sesuai dengan keahliannya.Islam juga memenuhi hak perempuan dalam berbagai bidang kehidupan sesuai dengan tuntunan syarri’at Islam.

Oleh karena itu, telah terbukti sistem sekuler kapitalis telah gagal dalam mensejahterahkan perempuan, sekarang saatnya menguji kemampuan sistem Islam sebagai pengganti sistem kapitalis.Hanya dengan Sistem Islam ;perempuan akan sejahtera. Sebab Islam telah mewajibkan Negara untuk mengurus rakyatnya.
Rasullullah saw.bersabda:
“Seorang imam seperti penggembala dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang digembalakannya” (Al-Hadits)
Wallahu’alam bi Ashowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update