Oleh: Ana Puspitasari
Palestina menyeru. Mereka yang sedang terjajah dan diusir dari rumah-rumahnya, menyeru meminta pertolongan.
Duka berkepanjangan. Bertahun-tahun sudah penduduk Palestina mengalami penjajahan, berbagai penindasan, serta diusir dari tempat tinggalnya. Penderitaan mereka belum usai hingga hari ini.
/Awal Mula Penderitaan Palestina/
Sebelum mengalami kondisi seperti sekarang ini, Palestina adalah bagian dari kekhilafahan Islam yang mendapatkan perlindungan juga pengurusan dengan baik.
Ketika perwakilan Yahudi mendatangi Khalifah Abdul Hamid II, menyampaikan maksudnya untuk membeli tanah palestina, maka dengan tegas Khalifah menolaknya dengan ungkapan: "Tanah itu bukan milikku, tetapi milik ummatku, Nasihati Dr. Hertzl supaya jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun segenggam tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika Daulah Khilafah Utsmaniyah dimusnahkan pada suatu hari, maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Daulah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup". (felixsiauw.com (8/02/2012))
Begitulah ketegasan Khalifah dalam menjaga kesatuan wilayah dan ummat saat itu.
Namun kemudian, pada awal abad ke 20 kekhilafahan terjebak mengikuti perang dunia pertama dan mengalami kekalahan. Akibat kekalahan tersebut wilayah kekhilafahan Islam dipecah menjadi negara-negara yang belih kecil, pengurusannya diambil alih oleh pemenang perang, diserahkan pada UK dan Prancis.
Inilah awal mula derita kaum muslim khususnya yang berada di Palestina. Zionis Yahudi yang sejak lama menginginkan tanah palestina untuk menampung kaum yahudi dan mendirikan negara disana, akhirnya mendapatkan jalan dengan persetujuan Inggris melalui deklarasi Balfour pada tanggal 2 Nopember 1917. Selanjutnya yang terjadi adalah invasi terhadap Palestina. Rakyat Palestina mengalami derita yang luar biasa berupa berbagai penindasan, pembunuhan, dan pengusiran.
Pada tahun 1922 invasi tersebut dikukuhkan dengan landasan yudisial oleh Liga Bangsa-bangsa, kemudian menjadi Perserikan Bangsa-bangsa (PBB) yang merupakan bentukan negara-negara pemenang perang dunia pertama.
Pada tahun 1924 tragedi besar terjadi, yaitu runtuhnya kekhalifahan yang digawangi oleh antek Inggris, yaitu Mustofa Kemal Ataturk. Penjaga kaum muslim termasuk rakyat palestina dihabisi secara licik.
Setelah kekhilafahan runtuh, disusul dengan pengumuman persetujuan berdirinya negara Israel oleh PBB dan diamini oleh AS pada 29 Nopember 1947.
Palestina kehilangan pelindungnya, hingga saat ini penderitaannya terus berlanjut. Siapa yang bertanggungjawab untuk menghentikannya?
/Berharap Pertolongan dari Kaum Muslim/
Kaum muslim adalah yang paling erat hubungannya dengan penduduk Palestina, karena kesamaan akidahnya. Yang paling diharap pertolongannya. Namun, pertolongan yang ditunggu-tunggu, dijawab dengan ketidakberdayaan dan sikap abai. Ya, kaum muslim yang bermilyar-milyar jumlahnya tidak memiliki cukup kekuatan untuk menghadapi sekerumunan zionis Israel (Yahudi laknatullah alaih), demi menolong penduduk Palestina. Sementara para pemimpin negri muslim abai dengan apa yang sedang dialami oleh penduduk Palestina, mengutamakan kepentingannya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Uni Emirat Arab (UEA) baru-baru ini.
Penghianatan yang nyata. Apa yang dilakukan oleh UEA dengan menjalin normalisasi hubungan dengan Israel adalah hal yang tidak wajar. Bagaimana tidak, UEA negeri muslim adalah saudara Palestina, memiliki hubungan lebih dekat dengan Palestina secara akidah. Harusnya terdepan dalam menolong saudaranya, namun yang dilakukan justru melukai Palestina. Bersikap hianat dengan berkongsi dengan Israel, zionis Palestina.
Sebagaimana dikabarkan KOMPAS.com (28/09/2020), 'Menusuk dari belakang'. Pada 15 September, Uni Emirat Arab dan Bahrain menandatangani kesepakatan bersejarah yang menormalisasi hubungan mereka dengan Israel di Gedung Putih.
Kesepakatan penting itu tak sejalan dengan beberapa dekade konsensus Arab bahwa hubungan lebih lanjut dengan negara Yahudi tidak boleh dinormalisasi sampai negara itu menandatangani kesepakatan damai yang komprehensif dengan Palestina.
Normalisasi hububungan yang dilakukan antara UEA dan Israel adalah hal yang patut ditolak. Tidak sepantasnya kaum muslim bersekutu dengan kafir penjajah yang terang-terang menindas saudaranya. Israel harusnya dihentikan dari tindakan kemungkaran yang dilakukannya. Bukan malah menjalin hubungan damai dengannya.
/Posisi Indonesia/
Indonesia dipihak mana? Akankah Indonesia menyusul melakukan normalisasi hubungan dengan Israel, kaum Yahudi laknatullah alaih?
Indonesia adalah negara sahabat, memiliki hubungan lebih dekat denga Palestina dibanding dengan Israel. Dahulu disaat Indonesia meraih kemerdekaan, Palestina menjadi negara pertama yang mengakui dan mendukung kemerdekaan Indonesia.
Sejak kemerdekaan itu pula, Indonesia berikrar untuk menghapus penjajahan di dunia. Sebagaiman tertuang dalam UUD '45 yang menjadi landasan dasar negara.
Maka, apabila konsisten, Indonesia dengan tegas akan menolak berbagai bentuk penjajahan. Termasuk penjajahan Israel terhadap Palestina. Tidak akan turut serta menjalin hubungan damai dengan negara penjajah, yaitu Israel. Inilah sikap yang sesuai dengan dasar negara Indonesia UUD '45. Akankah Indonesia melakukannya?
/Solusi atas Derita Palestina/
Sesungguhnya perumpamaan kaum muslim adalah sebagaimana satu tubuh, jika ada bagian tubuh yang terluka maka bagian tubuh lainnya akan merasakan sakitnya. Kita sebagai sesama kaum muslim harusnya merasakan sakit yang sama sebagaimana dirasakan oleh rakyat palestina.
Sebagai seorang muslim memiliki tanggung jawab untuk menolong muslim lain yang membutuhkan pertolongan.
Sebagaimana dalam firman Allah SWT: "Dan tolong-menolong lah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan. Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya siksa Allah sangat berat."( Al Maidah: 2).
Jadi kita sesama kaum muslim diperintahkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan. Terhadap saudara kita muslim Palestina, kita memiliki tanggung jawab untuk menolong mereka.
Bagaimana cara untuk menolong Palestina? tidak mungkin hanya dengan penolakan atau kecaman-kecaman pada tindakan invasi yang terjadi terhadap Palestina atas zionis Yahudi atau dengan cara-cara lainnya. Apalagi diketahui dibalik Israel adalah negara-negara besar, yang bersepakat mendukung tindakan Israel. Cara satu-satunya yang mampu menghentikan persoalan Palestina adalah dengan mengembalikan sang junnah (Penjaga) kaum muslim seluruhnya termasuk Palestina yang dulu pernah ada, yaitu Khalifah pemimpin dalam Daulah Khilafah Islamiyah. Wahai kaum muslim, marilah bersama-sama berjuang mewujudkan sang junnah, dengan begitu akan terwujud kesatuan ummat dengan satu kepemimpinan, kekuatan pun akan terhimpun. Palestina akan mampu ditolong dan dibebaskan dari deritanya dengan perjuangan pembebasan oleh kaum muslim yang dipimpin oleh Khalifah. Wallahu a'lam bishshowab.

No comments:
Post a Comment