Ibu Rumah Tangga dan Member AMK
Hampir semua kalangan remaja dan dewasa di tanah air menjadi penikmat hiburan ala Korea yang selalu hadir melalui tayangan-tayangan di televisi. Terlebih lagi di masa pandemi corona, imbauan untuk stay at home dimanfaatkan sebagian besar remaja memilih drakor sebagai tontonan alternatif yang menghibur. Rupanya hal ini menjadi peluang bisnis bagi pengusaha pertelevisian. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya media yang menayangkan drakor seperti Trans TV, RTV, Indosiar, GTV, hingga Trans 7. Tidak menutup kemungkinan stasiun lain seperti RCTI dan SCTV akan mengikuti jejak mereka.
(cademedia.com, 04/09/2020)
Drama Korea adalah awal kemunculan dari Korean Wave di Indonesia. Dan disadari atau tidak pengaruh Korean Wave ini tidak hanya drama dan lagu, tapi sudah sampai pada lifestyle, fashion, makanan, minuman, hairstyle bahkan Korean Way of Life. Hal ini nampak dari semakin meningkatnya industri Korea di Indonesia dengan banyaknya masyarakat yang mempelajari bahasa dan budaya Korea.
Maraknya Korean Wave ini rupanya mengundang respon dari orang nomor dua di negeri ini.
Disampaikan dalam Acara Peringatan 100 Tahun Kedatangan Warga Korea di Indonesia melalui Konferensi Video, Minggu (20/9/2020).
Ma'ruf Amin melihat hubungan sosial budaya antara Korea dan Indonesia sekarang ini memiliki daya tarik yang tinggi bagi generasi Korea. Menurutnya budaya Korea yang didiseminasi di Indonesia melalui K-pop (musik pop Korea) dan K-drama (film drama Korea) memiliki potensi meningkatkan kreativitas generasi muda Indonesia dalam membawa budaya RI 'go Internasional'.
Ditegaskan kembali oleh Wapres. "Saat ini anak muda di berbagai pelosok Indonesia juga mulai mengenal artis K-pop dan gemar menonton drama Korea. Maraknya budaya K-pop diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri.
(detik.com, 20/09/2020)
Arti Korean Wave
Korean Wave atau Hallyu (dalam bahasa Indonesia: "gelombang Korea") adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai negara di dunia.
Hallyu atau Korean Wave pada hakikatnya merupakan fenomena demam Korea yang disebarkan melalui Korean Pop Culture ke seluruh penjuru dunia lewat media massa, dan yang terbesar lewat jaringan internet dan televisi. Istilah ini diciptakan di China pada pertengahan 1999 oleh jurnalis Beijing yang terkejut oleh popularitas yang berkembang pesat terhadap hiburan dan budaya Korea di China. Dari sebuah budaya menjadi Brand Image.
(alienwardani.blogspot.com, 18/03/2013)
Layakkah Korean Wave Menjadi Panutan?
Dalam Industri hiburan, tentunya fenomena Korean Wave atau Hallyu ini mendatangkan keuntungan yang sangat besar. Karena jumlah penggemar K-pop yang termasuk bagian dari Korean Wave kurang lebih 70 juta yang terlansir di Korean Foundation (15/01/2018), dengan mayoritas penikmat K-pop dan K-drama adalah remaja dan dewasa yang berumur 23 tahun ke atas.
(namsankoreancourse.com, 9/10/2019)
Meski dalam dunia bisnis hal ini menggiurkan, akan tetapi di sisi lain kita dihadapkan pada realitas gaya hidup anak muda sekarang yang notabene menjadikan artis Korea menjadi idola baru buat mereka. Tidak hanya pada lagu, film juga berpengaruh pada penampilan, fashion, dan lifestyle-nya. Mereka tidak segan merogoh kocek lebih dalam demi memuaskan hasratnya untuk sekadar bertemu atau berpenampilan layaknya idola mereka.
Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan, mengingat bahwa di Korea Selatan tidak hanya populer dengan K-pop dan dramanya saja. Namun kasus bunuh diri juga termasuk yang tertinggi di antara negara-negara maju seperti Jepang, Jerman, Inggris, dan Amerika.
Menurut Hwang San-Ming, psikolog di Universitas Yonsei, Seoul, kecenderungan bunuh diri di kalangan orang-orang terkenal umumnya karena tekanan karir dan popularitas.
"Bagi pesohor Korea Selatan, menjadi publik figur, itu artinya anda harus selalu tampil hebat, cemerlang dan dipuja-puji," katanya. (hipwee.com, 21/5/2019)
Inilah mengapa menjadikan artis K-pop dan K-drama menjadi panutan adalah hal yang keliru. Karena meskipun Korean Wave menghasilkan devisa besar bagi negaranya tapi gaya hidup hedonis dan budayanya telah nyata membawa kerusakan karena bukan lahir dari akidah Islam, akidah yang diemban oleh mayoritas penduduk di negeri ini. Sosok yang pantas dijadikan panutan bagi generasi muslim hanyalah Rasulullah saw. Begitulah yang dikabarkan Allah dalam Al-Qur'an
لقدكان لكم في رسول الله اسوة حسنة
"Sungguh telah ada pada diri Rasulullah teladan bagimu." (QS. al-Ahzab [33]: 21)
Sukakah kita, apabila digolongkan ke dalam kelompok orang-orang munafik, karena menjadikan artis-artis Korea sebagai idola, yang bahkan tidak mengetahui arah dan tujuan hidupnya.
Allah berfirman dalam QS. an-nisa [4]: 138-139, yang artinya. "Kabarkanlah kepada orang-orang yang munafik bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih. (yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah."
Sepatutnya generasi muslim didorong menguasai dan mempromosikan ajaran Islam, mengampanyekannya menjadi sumber lifestyle global, yang terbukti mewujudkan rahmatan lil 'aalamiin.
Wallaahu a'lam bishshowab

No comments:
Post a Comment