Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

KEPENTINGAN PERMANEN DIBALIK PROBLEMATIKA BUMN

Thursday, October 01, 2020 | Thursday, October 01, 2020 WIB


Oleh : Dita Puspitasari

 (Komunitas Setajam Pena)

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama jadi perbincangan hangat. Pria yang disapa Ahok itu mengungkap borok Pertamina, mulai dari direksi hobi lobi menteri hingga soal doyan berutang. Pernyataan Ahok itu ada dalam video yang diunggah akun Youtube POIN seperti dikutip detikcom Selasa (15/9/2020).

Dalam videonya Ahok menyebut ada direksi yang hobi melobi menteri hingga direksi yang suka ngutang dan tak mempedulikan investor. Namun hal ini justru jadi bumerang untuk Ahok, bahkan disebut sebagai biang kegaduhan karena telah membuka aib Pertamina.

Pengamat BUMN yang pernah menjabat sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu menilai apa yang dibicarakan oleh Ahok adalah tugasnya sebagai seorang komisaris. Dinilai bahwa hal itu merupakan pengumuman jika Ahok tak mampu menjalankan tugas yang baik sebagai komisaris.

Ahok pun menyebut Pertamina memiliki kebiasaan mencari pinjaman terus, padahal sudah memiliki utang US$ 16 miliar. Utang tersebut untuk mengakuisisi ladang minyak di luar negeri. Padahal menurutnya lebih baik melakukan eksplorasi di dalam negeri karena di Indonesia masih ada 12 cekungan yang berpotensi menghasilkan minyak dan gas di dalamnya.

Masalah lain di Pertamina yang dibongkar Ahok terkait sistem gaji. Dia bilang, direktur utama anak usaha tetap digaji meski sudah dicopot yang ia sebut sebagai manipulasi gaji. Menurutnya gaji itu mengikuti jabatan atau pangkat bukan karena sudah menjadi orang lama.

BUMN sebagai perusahaan plat merah memang merupakan salah satu sumber pendapatan yang diandalkan oleh negara dalam mengurus kebutuhan rakyat, semisal Pertamina dan PLN. Namun faktanya justru BUMN rugi dan utang terus bertambah, mengedepankan bisnis untuk mengejar keuntungan maksimum dari rakyat. Pengelolaannya yang buruk membuat BUMN justru menjadi salah satu sumber masalah bagi negara.

Apa yang diungkap oleh pejabat penting BUMN itu sendiri pun menunjukkan borok pengelolaan BUMN selama ini. Para pengelola justru saling melempar tuduhan melepaskan diri dari tanggung jawab. Konflik kepentingan seperti ini akan selalu muncul dalam

sistem kapitalis, karena sumber regulasi adalah akal manusia yg terbatas dan rentan akan kepentingan pembuatnya.

Negara seakan tidak berfungsi sebagaimana mestinya hanya memposisikan sebagai regulator dan fasilitator saja. Banyak perusahaan BUMN yang akhirnya diprivatisasi, siapa saja yang memiliki modal besar, dialah pemilik sesungguhnya. Kerjasana  antara penguasa dan pengusaha memperkuat kapitalisme neoliberal.

Berbeda halnya dengan Islam, negara akan menempatkan dirinya sebagai pengurus (raa-in) sekaligus penjaga umat (junnah), sehingga kesejahteraan akan mewujud secara adil dan merata. Bukan malah menjadi sumber kesengsaraan bagi rakyatnya.

Negara akan mengoptimalkan pelayanan agar seluruh rakyat bisa mendapatkan seluruh harta yang ditetapkan syariat sebagai miliknya serta memperoleh layanan yang ditetapkan syariat sebagai haknya dengan mudah, murah, bahkan cuma-cuma.

Tata kelola yang salah tidak akan terjadi ketika islam diterapkan secara kaffah, karna islam mengharamkan siapa pun mencari untung dari pengelolaan harta publik atau dari penyediaan hak-hak publik. Apakah negara, apalagi swasta.

Cukuplah sabda Rasulullah saw. ini sebagai peringatan: “Tidak ada seorang hamba yang dijadikan Allah mengatur rakyat, kemudian dia mati dalam keadaan menipu rakyatnya (tidak menunaikan hak rakyatnya), kecuali Allah akan haramkan dia (langsung masuk) surga.” (HR Muslim). Wallaahu a’lam bi ash-Shawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update