Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

KEBENCIAN REZIM TERCIUM OLEH PENGAMAT AUSTRALIA

Friday, October 02, 2020 | Friday, October 02, 2020 WIB


Oleh: Isna Yuli (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Seorang akademisi dari Australian National University (ANU), Profesor Greg Fealy menyebut Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) telah melakukan tindakan represif terhadap kelompok Islam dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Greg menjelaskan pemikirannya itu dalam artikel berjudul ‘Jokowi Repressive Pluralisme’ yang dimuat di East Asia Forum pada 27 September 2020. Artikel tersebut merupakan intisari dari makalah Greg yang berjudul ‘Jokowi in the COVID-19 Era: Repressive Pluralism, Dynasticism and the Over-Bearing State’ yang akan terbit dalam Bulletin of Indonesian Economic Studies.

Istilah kelompok Islamis yang digunakan Greg dalam artikelnya, merujuk muslim yang berusaha menjadikan hukum dan nilai-nilai Islam sebagai dasar dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tudingan tindakan represif Jokowi terhadap pluralisme Indonesia dilontarkan Greg setelah melihat penerbitan berbagai aturan diskriminatif di lembaga milik negara. Greg juga menegaskan bahwa tindakan represif terhadap kaum Muslim turut dipicu kompisisi partai koalisi dalam pemerintahan Jokowi. Pemerintahan Jokowi dan partai-partai koalisi disebutnya sangat khawatir dengan gerakan kelompok-kelompok Islamis yang terbukti mampu mengubah dinamika pemilihan gubernur DKI Jakarta pada 2017 silam.

Menurut Greg, tindakan represif yang dilakukan pemerintahan Jokowi ditempuh dengan berbagai cara. Salah satunya ialah dengan pendisiplinan Aparatur Sipil Negara (ASN) jika ada indikasi terpapar radikalisme. Sontak pernyataan Greg tersebut langsung dibantah oleh Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi dengan membeberkan hasil survei Balitbang-Diklat Kemenag kurun waktu 2015-2019 yang menunjukkan angka rata-rata indeks Kerukunan Umat Beragama di Indonesia berada di atas angka 70.

Apa yang dilakukan oleh Wamenag memang sudah seharusnya, hal ini demi menjaga nama baik pemerintah Indonesia di mata asing. Namun apakah kenyataannya demikian? Yang pasti rekam jejak rezim dalam menyudutkan serta membungkam Islam dan kaum muslim sangat mudah dibaca oleh semua kalangan. Apa yang dipaparkan Greg juga menjadi bukti bahwa media merekam semua tindakan represif dari pemerintah.

Berbagai tindakan represif rezim memang terlihat setelah adanya aksi 212 tentang penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok. Pasca aksi tersebut mulailah banyak penangkapan demi penangkapan ulama dan tokoh umat dengan berbagai alasan. Kebanyakan alasan yang dipakai pemerintah dalam menjerat tokoh adalah adanya ujaran kebencian. Disisi lain hukum di negeri ini hanya berat sebelah, faktanya tindakan represif hanya berlaku bagi kaum muslim saja, tidak berlaku bagi oknum yang melontarkan ujaran kebencian pada islam dan kaum muslim.

Puncak tindakan represif rezim adalah saat pemerintah mencabut ijin organisasi dari HTI. Selanjutnya berbagai peraturan dibuat atas alasan memerangi radikalisme. Namun intinya pemerintah berusaha menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai dan kaidah Islam yang benar. Memang, secara keyakinan pemerintah beserta jajarannya mayoritas juga muslim, namun ada kekuatan besar dibelakang mereka yang memainkan peran strategis serta mendikte rezim berbuat tak adil terhadap Islam dan kaum muslim.

Karenanya umat harus paham bahwa saat ini terjadi perang pemikiran antara sekulerisme dan Islam. Pihak sekuler menginginkan agar kaum muslim mengadopsi pemikiran-pemikiran mereka, seperti ide kebebasan, kesetaraan gender, ekonomi liberal, HAM dan lain-lain. Mereka tidak menginginkan umat Islam memahami dengan benar syariat Islam, apalagi berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sekulerisme tidak menghendaki Islam kembali bangkit, oleh sebab itu mereka mencurahkan segala upaya untuk menghadang kebangkitan tersebut. Berusaha menjauhkan masyarakat dari ajaran Islam dengan memonsterisasi syariat dan penerapannya. Mereka hanya memperbolehkan kaum muslim berislam dengan ibadah ritual saja.

Jika anda selama ini mencukupkan diri menjadi muslim yang rajin sholat, sering puasa sunnah, gemar bersedekah dan santun dalam bergaul tanpa memikirkan nasib umat Islam yang terzalimi, tanpa ada keinginan berjuang agar Islam mampu diterapkan dalam kehidupan secara kaffah, maka kemungkinan besar pemikiran anda sudah teracuni oleh pemikiran sekuler. Sudah saatnya kita lepaskan jeratan sekulerisme disetiap sendi kehidupan ini, bangkit dan bergandeng tangan membela Islam dan bersama berjuang menegakkan kembali institusi yang mampu menerapkan Islam secara kaffah, institusi yang ditakuti oleh para sekuleris yaitu Khlafah.

Wallahu ‘Alam Bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update