Oleh: Isna Yuli (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)
Seorang
akademisi dari Australian National University (ANU), Profesor Greg Fealy
menyebut Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) telah
melakukan tindakan represif terhadap
kelompok Islam dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Greg
menjelaskan pemikirannya itu dalam artikel berjudul ‘Jokowi Repressive
Pluralisme’ yang dimuat di East Asia Forum pada 27 September 2020. Artikel
tersebut merupakan intisari dari makalah Greg yang berjudul ‘Jokowi in the
COVID-19 Era: Repressive Pluralism, Dynasticism and the Over-Bearing State’
yang akan terbit dalam Bulletin of Indonesian Economic Studies.
Istilah
kelompok Islamis yang digunakan Greg dalam artikelnya, merujuk muslim yang
berusaha menjadikan hukum dan nilai-nilai Islam sebagai dasar dari kehidupan
bermasyarakat dan bernegara. Tudingan tindakan represif
Jokowi terhadap pluralisme Indonesia dilontarkan Greg
setelah melihat penerbitan berbagai aturan diskriminatif di lembaga milik
negara. Greg juga menegaskan bahwa tindakan represif
terhadap kaum Muslim turut dipicu kompisisi partai koalisi dalam pemerintahan
Jokowi. Pemerintahan Jokowi dan partai-partai koalisi
disebutnya sangat khawatir dengan gerakan kelompok-kelompok Islamis yang
terbukti mampu mengubah dinamika pemilihan gubernur DKI Jakarta pada 2017 silam.
Menurut
Greg, tindakan represif yang dilakukan pemerintahan Jokowi ditempuh dengan
berbagai cara. Salah satunya ialah dengan pendisiplinan Aparatur Sipil Negara
(ASN) jika ada indikasi terpapar radikalisme. Sontak
pernyataan Greg tersebut langsung dibantah oleh Wakil Menteri Agama Zainut
Tauhid Sa'adi dengan membeberkan hasil survei Balitbang-Diklat Kemenag kurun
waktu 2015-2019 yang menunjukkan angka rata-rata indeks Kerukunan Umat Beragama
di Indonesia berada di atas angka 70.
Apa
yang dilakukan oleh Wamenag memang sudah seharusnya, hal ini demi menjaga nama
baik pemerintah Indonesia di mata asing. Namun apakah kenyataannya demikian?
Yang pasti rekam jejak rezim dalam menyudutkan serta membungkam Islam dan kaum
muslim sangat mudah dibaca oleh semua kalangan. Apa yang dipaparkan Greg juga
menjadi bukti bahwa media merekam semua tindakan represif dari pemerintah.
Berbagai
tindakan represif rezim memang terlihat setelah adanya aksi 212 tentang
penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok. Pasca aksi tersebut mulailah banyak
penangkapan demi penangkapan ulama dan tokoh umat dengan berbagai alasan.
Kebanyakan alasan yang dipakai pemerintah dalam menjerat tokoh adalah adanya
ujaran kebencian. Disisi lain hukum di negeri ini hanya berat sebelah, faktanya
tindakan represif hanya berlaku bagi kaum muslim saja, tidak berlaku bagi oknum
yang melontarkan ujaran kebencian pada islam dan kaum muslim.
Puncak
tindakan represif rezim adalah saat pemerintah mencabut ijin organisasi dari
HTI. Selanjutnya berbagai peraturan dibuat atas alasan memerangi radikalisme. Namun
intinya pemerintah berusaha menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai dan kaidah
Islam yang benar. Memang, secara keyakinan pemerintah beserta jajarannya
mayoritas juga muslim, namun ada kekuatan besar dibelakang mereka yang
memainkan peran strategis serta mendikte rezim berbuat tak adil terhadap Islam
dan kaum muslim.
Karenanya
umat harus paham bahwa saat ini terjadi perang pemikiran antara sekulerisme dan
Islam. Pihak sekuler menginginkan agar kaum muslim mengadopsi
pemikiran-pemikiran mereka, seperti ide kebebasan, kesetaraan gender, ekonomi
liberal, HAM dan lain-lain. Mereka tidak menginginkan umat Islam memahami
dengan benar syariat Islam, apalagi berusaha menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari.
Sekulerisme
tidak menghendaki Islam kembali bangkit, oleh sebab itu mereka mencurahkan
segala upaya untuk menghadang kebangkitan tersebut. Berusaha menjauhkan
masyarakat dari ajaran Islam dengan memonsterisasi syariat dan penerapannya.
Mereka hanya memperbolehkan kaum muslim berislam dengan ibadah ritual saja.
Jika
anda selama ini mencukupkan diri menjadi muslim yang rajin sholat, sering puasa
sunnah, gemar bersedekah dan santun dalam bergaul tanpa memikirkan nasib umat
Islam yang terzalimi, tanpa ada keinginan berjuang agar Islam mampu diterapkan
dalam kehidupan secara kaffah, maka kemungkinan besar pemikiran anda sudah
teracuni oleh pemikiran sekuler. Sudah saatnya kita lepaskan jeratan
sekulerisme disetiap sendi kehidupan ini, bangkit dan bergandeng tangan membela
Islam dan bersama berjuang menegakkan kembali institusi yang mampu menerapkan
Islam secara kaffah, institusi yang ditakuti oleh para sekuleris yaitu Khlafah.
Wallahu ‘Alam Bishawab

No comments:
Post a Comment