Alfita, S.T., M.T. (Komunitas Annisaa Ganesha)
Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian
mengatakan bahwa negara-negara oligarki dan otokrasi lebih efektif menangani
Pandemi Covid-19 (www.cnnindonesia.com). Padahal faktanya telah diketahui
bahwa negara-negara tersebut masih belum berhasil dalam menangani wabah ini
hingga sekarang. Contoh saja China, meskipun beberapa waktu lalu disiarkan oleh
media negara tersebut tidak ada lagi penambahan pasien positif, nyatanya untuk
saat ini terjadi lonjakan kembali. Perlu digaris bawahi juga bagaimana peran negara
otokrasi terhadap media tidak boleh lepas dari fenomena ini. Negara otokrasi
berkuasa penuh terhadap negaranya dengan cara apapun, termasuk menguasai media,
sehingga informasi yang keluar dari media tersebut perlu diselidiki, sesuai
atau tidakkah dengan kehendak negara. Maka kita patut mempertanyakan kembali
dengan kabar meredanya kasus positif di China kemarin.
Selain oligarki, kita mesti
bandingkan juga dengan bentuk negara demokrasi yang mayoritas diterapkan di
dunia hari ini. Bentuk negara yang berdasarkan asas sekuler dan kapitalistik
ini juga dikatakan berhasil menangani wabah Covid-19. Tetapi fakta di lapangan
sangat berbeda. Salah satu negara yang menganut paham ini adalah Indonesia.
Kenyataannya saat ini, sistem medis mulai melemah, dan pertambahan korban
semakin membumbung. Sudut pandang negara yang mengusung keuntungan ekonomi
dalam semua kebijakan ini terbukti gagal mendisiplinkan masyarakatnya. Karena masyarakat
tetap dituntut menguntungkan negara dan para kapitalis dengan dibukanya
sektor-sektor ekonomi, di mana pasti akan menyebabkan pertemuan banyak orang
yang saat ini harusnya dihindari dalam menangani pandemi.
Penyelesaian yang cacat dan menyelisihi fitrah manusia, cepat atau lambat akan menghasilkan kegagalan. Solusi-solusi yang dihasilkan akhirnya hanya menguntungkan segelintir orang dan merugikan kebanyakan orang lain. Pengurusan umat yang tebang pilih pun menjadi malapetaka yang akan menghancurkan masyarakat. Akibatnya adanya kebebasan yang tidak terkontrol sehingga hilang wibawa pemimpin untuk ditaati rakyatnya. Masyarakat dianggap hanyalah kumpulan individu, sehingga wabah ini silakan tiap individu menyelesaikan dengan penyelesaiannya masing-masing. Sehingga melahirkan persepsi “asal diri sendiri tidak dirugikan, maka kebijakan tetap dapat dijalankan”.
Berbeda dengan solusi yang islam tawarkan. Berdiri atas dasar pemenuhan kebutuhan masyarakat yang diikat dengan keimanan, pemikiran, perasaan, serta peraturan yang sama yaitu Islam. Telah terbukti pada masa silam penanganan wabah yang dilakukan dengan metode islam berhasil menyelesaikan wabah. Ketaatan terhadap pemimpin semata-mata karena syari’at melahirkan kepercayaan di masyarakat. Sehingga masyarakat atas dasar keimanan mengikuti semua protokol yang ditetapkan oleh pemimpinnya, bukan karena takut sanksi seperti sekarang ini. Para pemimpin dalam sistem Islam pun paham bahwa semua yang mereka putuskan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Laa haula wala quwwata illa billah...

No comments:
Post a Comment