Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bukan Otokrasi Maupun Demokrasi, Khilafah Solusi Atasi Pandemi

Thursday, October 01, 2020 | Thursday, October 01, 2020 WIB

Alfita, S.T., M.T. (Komunitas Annisaa Ganesha)

Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian mengatakan bahwa negara-negara oligarki dan otokrasi lebih efektif menangani Pandemi Covid-19 (www.cnnindonesia.com). Padahal faktanya telah diketahui bahwa negara-negara tersebut masih belum berhasil dalam menangani wabah ini hingga sekarang. Contoh saja China, meskipun beberapa waktu lalu disiarkan oleh media negara tersebut tidak ada lagi penambahan pasien positif, nyatanya untuk saat ini terjadi lonjakan kembali. Perlu digaris bawahi juga bagaimana peran negara otokrasi terhadap media tidak boleh lepas dari fenomena ini. Negara otokrasi berkuasa penuh terhadap negaranya dengan cara apapun, termasuk menguasai media, sehingga informasi yang keluar dari media tersebut perlu diselidiki, sesuai atau tidakkah dengan kehendak negara. Maka kita patut mempertanyakan kembali dengan kabar meredanya kasus positif di China kemarin.

Selain oligarki, kita mesti bandingkan juga dengan bentuk negara demokrasi yang mayoritas diterapkan di dunia hari ini. Bentuk negara yang berdasarkan asas sekuler dan kapitalistik ini juga dikatakan berhasil menangani wabah Covid-19. Tetapi fakta di lapangan sangat berbeda. Salah satu negara yang menganut paham ini adalah Indonesia. Kenyataannya saat ini, sistem medis mulai melemah, dan pertambahan korban semakin membumbung. Sudut pandang negara yang mengusung keuntungan ekonomi dalam semua kebijakan ini terbukti gagal mendisiplinkan masyarakatnya. Karena masyarakat tetap dituntut menguntungkan negara dan para kapitalis dengan dibukanya sektor-sektor ekonomi, di mana pasti akan menyebabkan pertemuan banyak orang yang saat ini harusnya dihindari dalam menangani pandemi.

Penyelesaian yang cacat dan menyelisihi fitrah manusia, cepat atau lambat akan menghasilkan kegagalan. Solusi-solusi yang dihasilkan akhirnya hanya menguntungkan segelintir orang dan merugikan kebanyakan orang lain. Pengurusan umat yang tebang pilih pun menjadi malapetaka yang akan menghancurkan masyarakat. Akibatnya adanya kebebasan yang tidak terkontrol sehingga hilang wibawa pemimpin untuk ditaati rakyatnya. Masyarakat dianggap hanyalah kumpulan individu, sehingga wabah ini silakan tiap individu menyelesaikan dengan penyelesaiannya masing-masing. Sehingga melahirkan persepsi “asal diri sendiri tidak dirugikan, maka kebijakan tetap dapat dijalankan”.

Berbeda dengan solusi yang islam tawarkan. Berdiri atas dasar pemenuhan kebutuhan masyarakat yang diikat dengan keimanan, pemikiran, perasaan, serta peraturan yang sama yaitu Islam. Telah terbukti pada masa silam penanganan wabah yang dilakukan dengan metode islam berhasil menyelesaikan wabah. Ketaatan terhadap pemimpin semata-mata karena syari’at melahirkan kepercayaan di masyarakat. Sehingga masyarakat atas dasar keimanan mengikuti semua protokol yang ditetapkan oleh pemimpinnya, bukan karena takut sanksi seperti sekarang ini. Para pemimpin dalam sistem Islam pun paham bahwa semua yang mereka putuskan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Laa haula wala quwwata illa billah...

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update