Ibu Rumah Tangga
Untuk kesekian kalinya di tanah air terjadi serangan terhadap ulama dan tokoh-tokoh Islam. Serangan ini, bukan hanya dalam bentuk olok-olok tapi sampai mengancam nyawa mereka. Maraknya ancaman terhadap para ulama dan tokoh Islam bertentangan dengan fakta Indonesia sebagai Negara dengan mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Seharusnya kita sebagai kaum Muslimin sudah sepantasnya untuk memuliakan ulama, melindungi dan menjaga ulama, karena ulama dalam timbangan agama adalah sosok yang istimewa.
Keistimewaan dari ulama yang pertama yaitu, dinaikan derajatnya oleh Allah beberapa tingkat di atas manusia lain yang Allah jelaskan dalam ( QS al-Mujadillah : 11)
“Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu di antara kalian beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”
Nabi saw. juga menyebutkan perbandingan para ulama di dunia ini dengan segenap manusia. Sabda beliau:
“Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk kepada orang yang berada di gelap malam, di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk” (HR Ahmad).
Kedua, Rasulullah juga menyebutkan bahwa para ulama merupakan pewaris para nabi. Nabi saw. bersabda:
“Sungguh ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak” (HR at-Tirmidzi, Ahmad, adDarimi, Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Ketiga, dengan derajat yang diberikan, Allah SWT berkenan memberikan mereka kesempatan untuk memberikan syafaat pada hari kiamat. Nabi saw. bersabda:
“Akan memberi syafaat pada Hari Kiamat tiga golongan: para nabi, ulama, lalu para syuhada” (HR Ibnu Majah).
Keempat, karena kehadiran ulama pula agama ini terpelihara dan umat terjaga dari kesesatan. Jika para ulama telah tiada, ilmu akan lenyap dan umat pun akan mudah tergelincir dalam kesesatan. Sabda Nabi Saw.:
“Sungguh Allah SWT tidak mencabut ilmu dengan mencabut ilmu itu dari manusia. Namun, Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama” (HR al-Bukhari).
Itulah keistimewaan para ulama, tentu yang dimaksud para ulama yaitu ulama yang bukan sekedar paham agama, tetepai memiliki rasa takut paling tinggi kepada Allah SWT. Firman-Nya:
“Sungguh di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama” (TQS Fathir [28]: 28).
Para ulama sejati ini disebut sebagai ulama akhirat. Di sisi lain ada yang dinamakan ulama dunia. Ibn al-Jauzi dalam Shaid al-Khatir menyebutkan, “Perbedaan antara ulama dunia dan ulama akhirat adalah: ulama dunia haus kekuasaan di dalam dunia dan suka mendapatkan harta plus gila pujian. Sebaliknya, ulama akhirat tidak mendahulukan itu semua. Mereka sangat takut dan sangat menyayangi siapa saja yang diuji oleh dunia.” (Ibn al-Jauzi, Shaid al-Khathir, hlm. 14).
Imam Sayyid bin al-Musayyib juga mengingatkan dengan keras tentang para ulama yang mendatangi penguasa dengan tujuan menjilat, “Jika engkau melihat seorang alim mengelilingi penguasa, hati-hatilah terhadap dirinya karena dia adalah seorang pencuri.”
Seorang ulama yang memiliki rasa takut kepada Allah SWT dan giat amar maruf nahi munkar harus diikuti dan pantang untuk dimusuhi. Dalam hadis qudsi Allah SWT menyatakan perang terhadap mereka yang mengganggu para wali-Nya:
“Siapa saja yang memusuhi wali-Ku, sungguh Aku telah mengumumkan perang kepada dirinya.” (HR al-Bukhari).
Yang dimaksud dengan wali Allah adalah orang alim yang selalu taat dan ikhlas dalam beribadah. Imam Syafii menjelaskan, jika para ulama itu bukan wali-wali Allah, tentu tidak ada wali-Nya di muka bumi ini. Maka dari itu kita sebagai kaum Muslimin harus mengikuti para alim ulama dan membela para ulama dalam menegakan kalimatullah.
Wallahu a' lam bi ashshawwab

No comments:
Post a Comment