Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Wahai Perempuan, Kembalikan Peranmu Sebagai Ibu

Wednesday, September 30, 2020 | Wednesday, September 30, 2020 WIB

Oleh, Aisyah Farha 
(Pegiat Literasi dan Pemerhati Generasi)

Pada tanggal 18 September lalu, Indonesia untuk pertama kalinya berpartisipasi dalam perayaan Hari Kesetaraan Upah Internasional bersama Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Tujuannya tiada lain adalah untuk memperjuangkan hak asasi manusia dan menentang segala bentuk diskriminasi (kumparan.com 19/9).
Dilansir dari bisnis.com (21/9), Menteri Ketenagakerjaan RI, Ida Fauziyah menyatakan "Ini saatnya bagi perempuan dan laki-laki untuk dihargai secara setara berdasarkan bakat, hasil kerja dan kompetensi, dan bukan berdasarkan gender.” Kementerian bersama dengan semua mitra sosial dan organisasi internasional, terus mendorong aksi bersama menentang diskriminasi berbasis gender di tempat kerja. 
Perayaan Hari Kesetaraan Upah Internasional ini dilaksanakan sebagai kampanye untuk menyetarakan upah perempuan dengan laki-laki. Saat ini di Indonesia, data menunjukkan perempuan memperoleh pendapatan 23 persen lebih rendah dibandingkan laki-laki. Data yang sama juga menyatakan bahwa perempuan yang sudah memiliki anak, angka selisih gajinya jauh lebih besar dengan laki-laki (kumparan.com 19/9).
Seperti inilah kondisi perempuan pada sistem kapitalis sekuler, nasibnya tidak berharga. Perempuan tidak punya pilihan yang lain selain bekerja, karena himpitan ekonomi yang juga disebabkan oleh sistem ini. Kondisinya yang dimanfaatkan oleh sistem untuk memutar roda perekonomian dengan upah yang lebih rendah dari para pria. 
Ketika perempuan berteriak untuk meminta kesetaraan upah, maka dibuatlah seremonial perayaan Hari Kesetaraan Upah Internasional. Seremonial ini sejatinya tidak akan mengubah apa-apa, kaum perempuan tetaplah lebih rendah dibandingkan laki-laki. Buktinya, seratus tahun telah berlalu sejak pertama kali Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) tahun 1919 memperjuangkan kesetaraan upah bagi perempuan, tetap saja tidak ada perubahan berarti.
Satu-satunya sistem yang memuliakan wanita dengan semua fitrahnya adalah sistem Islam. Syariat Islam tidak memposisikan perempuan sebagai pencari nafkah, melainkan menjadi ibu dan pengatur rumah tangga. Dalam hadist Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibn 'Umar:
"Setiap kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya..., seorang perempuan adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya dan anak-anaknya yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya..." (HR Bukhari-Muslim)
Sistem Islam juga menjamin kesejahteraan rakyatnya, dengan model perekonomian bebas riba serta pengelolaan sumber daya alam yang maksimal tanpa korupsi dan mafia. Perekonomian Islam terbukti mampu menaungi rakyatnya selama belasan abad dalam kesejahteraan. Termasuk kaum perempuan, yang fitrahnya sebagai ibu dapat dijalankan secara maksimal tanpa harus menanggung beban mencari nafkah.
Banyak hal yang sangat disayangkan harus terjadi saat perempuan ada pada sistem kapitalis sekuler. Perannya sebagai seorang ibu harus kandas ketika menghadapi kesulitan ekonomi. Saat peran seorang ibu hilang karena bekerja, maka rumah tangga akan berantakan. Anak-anak lepas kendali, hubungan suami istri juga retak, tingkat perceraian meningkat.
Hal ini tidak bisa selesai dengan kesetaraan upah ala kapitalis, karena masalahnya bukanlah tentang seberapa uang yang bisa dihasilkan. Tetapi peran ibu yang tergerus arus kapitalisme menyebabkan permasalahan lain yang lebih besar bermunculan.
Maka tidak ada solusi lain, selain kembali pada sistem Islam. Dengan Islam, perempuan tidak akan terjebak dalam pusaran ekonomi. Perempuan akan dimaksimalkan untuk menjadi ibu dan pengatur rumah tangga, yang darinya lahir calon-calon pemimpin masa depan yang gemilang.

Wallahu a’lam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update