Kondisi pandemi yang entah kapan akan berakhir ini, memang sangat memberikan dampak kesulitan bagi dunia termasuk Indonesia. Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah kasus covid-19 di Indonesia, presiden Joko Widodo mengingatkan masyarakat untuk tidak lupa mengingat Allah SWT di tengah pandemi covid-19 saat ini. Salah satu caranya adalah dengan berdzikir dan bertaubat. Jokowi juga mengajak masyarakat untuk memperbanyak sedekah dan saling membantu antar sesama di tengah pandemi covid-19 yang turut berdampak pada perekonomian. Sebab, banyak orang yang keadaannya sulit di tengah pandemi ini. Hal tersebut disampaikan Jokowi saat membuka Muktamar IV persaudaraan muslimin indonesiaa (parmusi) secara virtual (nasional.kompas.com).
Ajakan Jokowi dalam mengingatkan masyarakat untuk senantiasa terus meningkatkan ibadah di masa pandemi ini dengan betaubat secara nasional, memang sudah sepatutnya dilakukan sebagai seorang presiden untuk senantiasa mengingatkan masyarakat dalam menjalankan ibadahnya, dan sudah seharusnya taubat dilakukan setiap waktu oleh setiap muslim. Tentunya taubat yang dilakukan bukan sebatas berdzikir semata, namun diimbangi dengan ikhtiar bersama dalam mengatasi pandemi covid-19. Islampun mengajarkan bahwa bertaubat untuk mengatasi wabah sebagai bagian dari ketaatan total. Maka bukan taubat saja yang harus dijalankan namun seluruh perintah syariat dalam mengatasi wabah juga harus diterapkan dan dijalankan secara sempurna.
Islam selalu menunjukkan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Islam mengatur semua hal dan memberikan solusi atas segenap persoalan. Wabah penyakit menular pernah ada pada zaman-zaman sebelumnya. Bahkan Islam telah lebih dulu dari masyarakat modern membangun ide karantina untuk mengatasi wabah penyakit menular. Dalam sejarah, wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah saw. memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul saw. membangun tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah. Peringatan kehati-hatian pada penyakit kusta juga dikenal luas pada masa hidup Rasulullah saw. jika ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha’un, beliau memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus. Jauh dari pemukiman penduduk. Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Para penderita baru boleh meninggalkan ruang isolasi ketika dinyatakan sudah sembuh total.
Pada masa Kekhalifahan Umar bin al-Khaththab juga pernah terjadi wabah penyakit menular. Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam yaitu wabah Tha’un yang telah memakan korban 25.000 jiwa lebih. Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari Umar bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meningggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari).
Islam memang telah memerintahkan kepada setiap orang untuk mempraktikkan gaya hidup sehat. Misalnya, diawali dengan makanan. Selain memakan makanan halal dan baik, kita juga diperintahkan untuk tidak berlebih-lebihan. Apalagi sampai memakan makanan yang tak layak dimakan, seperti kelelawar, ular, tikus, dan lain-lain. Islam pun memerintahkan umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan diri maupun lingkungan sekitar. Untuk itulah Rasulullah saw. pun, misalnya, senang berwudhu, bersiwak, memakai wewangian, menggunting kuku dan membersihkan lingkungannya.
Namun demikian, penguasa pun punya peran sentral untuk menjaga kesehatan warganya. Apalagi saat terjadi wabah pandemi. Tentu rakyat butuh perlindungan optimal dari penguasanya. Penguasa tidak boleh abai. Para penguasa Muslim pada masa lalu, seperti Rasulullah saw. dan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., sebagaimana penjelasan di atas, telah mencontohkan bagaimana seharusnya penguasa bertanggung jawab atas segala persoalan yang mendera rakyatnya, di antaranya dalam menghadapi wabah pandemi covid-19. Begitulah solusi Islam terhadap penanganan wabah, seperti covid-19 ini.
Jika ajaran Islam benar-benar diamalkan, insya Allah dalam waktu singkat wabah akan segera berakhir, karna islam adalah rahmatan lil alamin. Bukan hanya itu, baik masyarakat atau para pemimpinnya juga mendapat pahala yang besar karena kesabaran dan ikhtiar mereka berdasarkan syariah Allah. Penerapan semua syariat Allah tersebut hanya akan terwujud dengan khilafah ala minhajin nubuwwah, dengan khilafah pula islam rahmatan lil alamin akan terwujud secara sempurna. WalLahu a’lam.

No comments:
Post a Comment