Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

OTG Millenials, Buah Kebijakan New Normal?

Monday, July 20, 2020 | Monday, July 20, 2020 WIB
Oleh : Anis Siti Mariyah
Ibu Rumah Tangga

WHO telah mengumumkan bahwa penyebaran lewat udara (air borne), menjadi fakta baru tentang penyebab merebaknya kasus Covid 19 di dunia. Hal ini semakin menguatkan fakta bahwa kita harus semakin waspada pada kondisi melonjaknya kasus Covid di dunia, khususnya di Indonesia. Tercatat setelah diberlakukan kebijakan New Normal, jumlah penambahan kasus semakin menunjukan adanya lonjakan yang tajam. Bisa dikatakan, terjadi ledakan yang kedua kalinya semenjak pertama kali munculnya virus ini di negara kita, juga di dunia.

Bahkan saat ini, muncul tren baru yakni bahaya dari adanya Orang Tanpa Gejala yang didominasi kalangan Millenials. Buktinya, beberapa pekan lalu, terjadi kasus ribuan siswa-siswi Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD) terpapar virus corona (COVID-19), mereka berusia muda atau millenial.

Dikutip dari berbagai sumber, untuk menjadi Siswa-siswi Secapa AD yang ada di Jalan Hegarmanah, Kecamatan Cidadap Kota Bandung, calon siswa mesti berusia di bawah 26 tahun bagi yang berijazah D3, 30 tahun bagi yang berijazah S1, dan 32 tahun bagi yang berijazah S1 Profesi. Artinya, kemungkinan besar ribuan siswa Secapa AD yang positif COVID-19 merupakan generasi millennial. Dalam kasus Secapa AD, terkonfirmasi positif COVID-19 sebanyak 1.280 orang di antaranya 991 orang merupakan siswa, dan 289 sisanya merupakan staf di Secapa beserta anggota keluarga dari staf. Dari jumlah itu, hanya ada 17 orang yang dirawat dengan menunjukkan gejala terpapar virus corona. Dari gambaran tersebut, kasus OTG lebih banyak dibandingkan dengan kasus dengan gejala.

Anggota Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Budi Santoso mengatakan, kebanyakan anak muda tidak merasakan bahwa dirinya adalah pembawa virus COVID-19, yang bisa menularkan kepada orang lain. Menurutnya, keadaan tersebut membuat pemerintah sulit untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona di Tanah Air.

"Bagi kaum muda, COVID-19 kebanyakan tidak ada gejala atau tidak ada gejala klasik yang sering kita sebut sebagai orang tanpa gejala," kata dia saat jumpa pers secara daring di akun YouTube BNPB Indonesia, Rabu (6/5).

Budi menyebutkan, OTG sering kali menjadi pembunuh senyap. Menurut penilaiannya, anak muda kerap salah persepsi jika muncul gejala flu biasa. Sebab mereka merasa bukan pembawa virus yang dapat menularkan ke orang rentan. (IDN TImes.com).

Beginilah jadinya jika solusi kebijakan pemerintah dan dunia mengacu pada sistem yang sekuler kapitalistik, bukan bersandar pada Islam. Adanya kebijakan New Normal merupakan kebijakan tambal sulam kapitalisme untuk dunia dalam mengatasi pandemi Covid-19. Alih alih mengikuti kebijakan dunia, Indonesia pun terjebak dan menerapkan kebijakan yang sama. Pada akhirnya, harapan terciptanya tatanan hidup baru yang bebas Corona, dengan mendamaikan ekonomi dan kesehatan dalam konsep new normal, tidak akan tercapai.

New normal hanya akan menjadi momentum ledakan kasus baru Covid-19 yang semakin melonjak tajam. Karena kebijakan ini hanya berpihak pada pemilik modal semata, dengan tetap dibukanya sarana2 publik yang memungkinkan terjadinya penyebaran seperti transportasi, pariwisata, bahkan kasus penyebaran lewat uadara yang utamanya terjadi di perkantoran saat rutinitas bekerja, menjadi bahaya yang mengancam tanpa ada pengendalian yang jelas. Rakyat hanya diwajibkan memenuhi protokol kesehatan, tanpa ada ketegasan kebijakan dari pemerintah terkait  penutupan fasilitas publik pemicu terjadinya kerumunan, dengan dalih ekonomi.

Inilah bukti bobroknya kapitalisme, mementingkan ekonomi segelintir orang dibandingkan nyawa rakyatnya sendiri. Saatnya kembali pada kebijakan yang tegas, yang hanya berasal dari Islam. Sistem Islam akan menghadirkan negara yang tangguh dengan penerapan kebijakan yang bersandar pada syariat. Karantina wilayah, inilah kebijakan yang telah diterapkan sejak adanya negara Islam pada masa Rosululloh, Khulafaur Rasyidin, dilanjutkan ke masa Umayah, Abbasiyah, dan Khilafah Utsmaniyah. Kebijakan inilah yang akan menjadi solusi tuntas untuk menstop pandemi di negara kita dan dunia.
×
Berita Terbaru Update