Oleh : Purwaningsih, Amd
(Pemerhati Sosial)
Hingga kini, semakin banyak para tenaga medis yang gugur saat menjalankan tugasnya dalam merawat pasien covid-19. Data yang dapat kita lihat setidaknya per tanggal 14 Mei 2020 ada sekitar 55 tenaga medis yang gugur baik dokter maupun perawat.
Jumlah pasti nakes yang terinfeksi corona baik yang meninggal maupun yang sedang di rawat tidak pasti diketahui jumlahnya. Pemerintah sepertinya enggan membuka data secara umum berapa banyak tenaga kesehatan yang sudang menjadi korban karena corona ini.
Tentu masih segar diingatan dan juga sempat viral yaitu seorang perawat RS Royal Surabaya, Ari Puspita Sari yang meninggal saat tengah menjalani perawatan di RSAL dr Ramelan Surabaya, Jawa Timur. Dikabarkan juga ia tengah mengandung seorang janin bayi berusia 5 bulan. Status terakhirnya adalah pasien dalam pengawasan (PDP).
Mirisnya, semakin banyak korban tenaga medis yang gugur saat menangani wabah, mareka tidak mendapatkan perhatian yang memadai dari Pemerintah. Padahal, mereka membutuhkan alat untuk melindungi diri (APD) namun jumlahnya sangat minim. Alhasil mereka memakai APD seadanya yakni jas hujan murah berbahan kantong kresek, masker kain yang tidak standar dan tanpa memakai google, hingga mereka membuat google dari mika. Inilah yang menjadi salah satu sebab kenapa nyawa mereka bisa melayang.
Tak hanya itu, waktu istirahat menjadi berkurang seiring bertambahnya jumlah pasien yang harus dirawat. Beberapa di antaranya tidak berani pulang ke rumah karena takut membawa virus dan menularkan kepada keluarganya atau lingkungan sekitarnya. Bahkan pada momen Idul Fitri mereka memilih untuk merayakan di Rumah Sakit demi untuk merawat pasien. Seperti yang diberitakan oleh Okezone.com, 25 Mei 2020, ada sekitar 24 tenaga medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Yunus Bengkulu, menjalani perayaan Idul Fitri 1441 Hijriah tanpa bertemu keluarga.
Melihat pengorbanan para pejuang nakes yang begitu gigih dalam membantu penangan wabah ini, sudah selayaknya mendapatkan apresiasi dari pemerintah. Namun sayangnya, pemerintah seakan abai terhadap jerih payah yang sudah mereka lakukan.
Bahkan seperti yang diberitakan ada sejumlah perawat dipecat karena mereka menggelar aksi mogok kerja dan protes kepada pihak RSUD Ogan Ilir. Beberapa alasan yang mereka sampaikan di antaranya terkait ketersediaan alat pelindung diri (APD) minim, ketidakjelasan insentif dari Pemkab, tidak ada rumah singgah bagi tenaga medis yang menangani pasien corona, dan gaji hanya sebesar Rp 750.000 per bulan. Menurut bupati dan manajemen RSUD Ogan Ilir tuntutan mereka mengada-ada (Kompas.com 22-05-2020).
Parahnya lagi, saat ini pemerintah sedang menyiapkan skema New Normal. Menurut para ahli, seharuskan skema tersebut bisa di terapkan apabila kurva perkembangan kasus corona sudah landai. Sedangkan yang terjadi di Indonesia masih terus menanjak naik.
Berdasarkan data per 1 Juni total angka kasus positif COVID-19 di Indonesia secara kumulatif menjadi 26.940 kasus. Total angka kematian COVID-19 saat ini adalah 1.641 orang. Total angka kesembuhan dari COVID-19 adalah 7.637 orang (Detik.com, 1 Juni 2020). Bahkan bisa mencapai 600 kasus perhari.
Jangankan memberikan perlindungan utuh dengan kebijakan terintegrasi agar pasien covid tidak terus melonjak, proteksi finansial juga tidak diberikan. Buktinya masih banyak nakes yang tidak mendapat tunjangan, THR perawat honorer dipotong bahkan ada yang dirumahkan karena RS daerah kesulitan dana. Padahal seperti diketahui, pemerintah sudah berjanji akan memberikan insentif sebesar Rp 5-15 juta untuk dokter dan para tenaga medis yang terlibat dalam penanganan Covid-19 (Merdeka.com 25 Mei 2020).
Pemerintah hanya memberikan janji-janji manis kepada para nakes tetapi itu semua belum terealisasi. Padahal gugurnya tenaga medis atau pemecatan sama dengan berkurangnya prajurit di garda depan medan tempur. Karena hanya mereka yang paham bagaimana harus bertindak sesuai dengan ilmu yang mereka miliki dalam penangan wabah virus ini.
Ya begitulah apabila negara berada dalam sistem Kapitalis. Sistem ini melahirkan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat. Rakyat hanya dianggap beban. Maka jelaslah bahwa negara telah abai terhadap tanggung jawab kepada rakyatnya. Bahkan mereka dengan enteng mengeluarkan statemen akan mengekspor APD yang menjadi senjata para nakes dalam merawat pasien ke luar negeri. Padahal di dalam negeri saja masih kekurangan untuk mencukupi kebutuhan tersebut.
Hal demikian wajar karena yang ada dalam pikiran para kapitalis hanya bisnis dan bisnis. Hanya demi menambah pundi-pundi harta mereka nyawa rakyatpun siap dipertaruhkan.
Berbeda dengan sistem Islam. Islam memberi penghargaan dan perhatian pada tenaga medis dan prajurit yang berada di garda depan melawan musuh. Islam serius dalam penanganan apabila terjadi wabah yaitu dengan melakukan karantina wilayah agar penyebaran virus tidak semakin meluas. Sehingga para tenaga medis dapat optimal dan fokus dalam memberikan penanganan.
Selain itu, Islam juga memberikan sarana dan prasarana yang terbaik kepada para tenaga medis. Pun kepada para pasien. Nyawa dalam Islam sangat berharga. Terlebih tenaga medis pada saat terjadi wabah. Karena merekalah garda terdepan dalam penanganan wabah.
Para tenaga medis dan para pasien tidak perlu khawatir apabila mereka harus dikarantina. Karena jaminan hidup mereka sudah dipenuhi oleh negara. Masalah penenuhan kebutuhan pokok rakyat, baik kesehatan maupun makanan sudah di jamin oleh negara.
Karena itu adalah tanggung jawab sekaligus menjadi kewajiban seorang pemimpin.
Bahkan saat para pasien sembuh dan keluar dari rumah sakit diberikan uang agar mereka tidak harus bekerja keras dulu dalam rangka memulihkan kesehatannya.
Demikianlah hidup di bawah naungan Islam yang segalanya dilandasi atas dasar keimanan dan ketaqwaan terhadap aturan Allah SWT. Semoga kita dapat merasakan hidup di bawah penerapan sistem Islam yang kaffah. Wallahu 'alam bisshawab.

No comments:
Post a Comment