Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bukan Pernikahan Seumur Jagung

Tuesday, June 16, 2020 | Tuesday, June 16, 2020 WIB
Oleh: Sri Rahmawati

Suatu hubungan antara dua insan yang perjanjiannya berlaku di dunia dan di akhirat, hingga mereka tidak bisa lari kemanapun untuk menghindarinya, itulah penikahan. Tetapi banyak sekali pelakunya yang tidak mengindahkan kontrak pernikahan tersebut, hingga bukan lagi sebutannya kontrak dunia akhirat, tetapi kontrak yang sebatas seumur jagung, setelah jagungnya dipanen, dengan mudah ditinggalkan begitu saja. Pernikahan yang bertahan selama satu atau dua tahun, atau hanya dalam hitungan bulan.

“Aduuh Mbak’e, Si Mas ngajak bercerai, Si Mas ku berubah. Mulai jarang di rumah. Pas ada di rumah aja aku enggak ditegur, handphone-nya nempeel terus. Kesel hati aku, Mbak’e. Kalau tengah malam aku bangun, dia asyik chatting sama pacarnya, ditanya baik-baik malah dia balik marah-marahin aku. Aneh, dia sama pacarnya sudah seperti suami istri saja, chatingan enggak pernah berhenti. Ada dia di rumah suasana jadi tegang Mbak. Aku takut,  Mbak. Dia marah-marah terus untuk menutupi perselingkuhannya. Aku capek ingin pulang saja." seorang istri mencurahkan isi hatinya pada saya. 

Di tempat kerja saya, ada yang nyeletuk bikin hati saya terasa copot, padahal yang bicara adalah seorang pejabat yang saya hormati, “Bener kata orang bilang, bini tuh ya enaknya hanya terasa enam bulan di awal pernikahan saja, setelahnya ya sudah hambar alias tidak enak lagi. Makanya banyak para suami yang males ada di rumah, bikin-bikin alasan lembur kerjalah, di luar kan semangat karena banyak yang cantik-cantik."

Curhatan lain tentang penyesalan seorang istri setelah terikat dalam pernikahan. “Mbak, saya ini wanita karir, salah enggak kalau sekarang saya enggan melayani suami, saya bawaannya kesal lihat dia seharian di rumah, tidur terus. Saya ini pekerja keras  dan suami saya pemalas. Bertahun-tahun bersama dia, lelaki yang awalnya asing dan bukan siapa-siapa saya. Setelah nikah, enak banget dia mendadak punya banyak sekali hak atas saya, dan saya mendadak banyak sekali kewajiban terhadapnya, memang harus begitu ya Mbak dalam pernikahan? Lebih enak hidup sendiri kalau menurut saya. "

Ada berbagai permasalahan rumah tangga yang dapat berujung pada perceraian, hal ini bisa berawal dari kecurigaan perselingkuhan, kesulitan ekonomi, kesetaraan gender, minimnya ilmu agama, hingga urusan sepele gara-gara masakan istri yang tidak enak atau istri merasa terganggu dengan dengkuran suami saat tidur. Bahayanya, tidak sedikit para pasangan suami istri yang membuat keputusan ingin bercerai dengan alasan sudah tidak ada kecocokan lagi.

Perceraian adalah sesuatu yang tidak disukai oleh Allah dan justru disukai oleh Iblis. Hadistnya sebagai berikut : “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian mengirim pasukannya (ke berbagai penjuru). Pihak yang terdekat kedudukannya dari Iblis adalah yang paling besar menimbulkan fitnah. Salah satu dari mereka datang (menghadap Iblis) dan menyatakan: Aku berbuat demikian dan demikian. Iblis menyatakan: engkau belum berbuat apa-apa. Kemudian datang satu lagi (melaporkan): Aku tidak tinggalkan ia (manusia) hingga aku pisahkan ia dengan istrinya. Kemudian Iblis mendekatkan kedudukannya dan mengatakan: bagus engkau” (H.R. Muslim)
Hukum perceraian bisa menjadi wajib ketika istri atau suami melakukan sesuatu yang keji dan mungkar, tidak mau bertaubat dan mengakui kesalahan, serta tidak bisa untuk berubah. Hal ini tentu saja menjadi satu yang merugikan dan juga tidak baik untuk keharmonisan rumah tangga. Begitupun bagi mereka yang sering sekali konflik dan juga tidak bisa untuk diproses secara damai, menumbuhkan cinta dan kasih sayang kembali, maka lebih baik cerai dan bisa jadi hukumnya adalah wajib.

Hukum cerai bisa menjadi mubah ketika keadaan rumah tangga atau pernikahan malah semakin mudaharat, sulit untuk ditengahi masalahnya, dan juga membawa dampak yang buruk bagi kondisi keluarga. Sekali lagi tentunya hal ini harus dipikirkan baik-baik dan diukur oleh kedua belah pihak, agar keputusan yang diambil dapat maslahat tanpa ada efek yang buruk. Khususnya bagi anak-anak dan keluarga besar.
Islam memerintahkan masing-masing suami ataupun istri tidak gegabah dan emosional dalam mengambil keputusan. Bagaimanapun suatu perkara harus diputuskan secara akal sehat, rasional, dan benar-benar ditimbang dengan ilmu pengetahuan yang memadai.

Karena sejatinya sakinahnya rumah tangga memang harus dirawat, sampai usia berapapun pernikahan kita. Maka pentingnya antara suami dan istri untuk selalu berusaha mencari cara agar tetap menikmati indahnya pernikahan. Tidak ada pernikahan yang selamanya selalu bahagia. Namun banyak pasangan yang merasakan lebih banyak kenikmatannya dalam pernikahan daripada sedihnya.

Mengutip tulisannya bunda Kaska bahwa salah satu cara menikmati pernikahan adalah suami istri harus mempunyai waktu menikmati hubungan itu sendiri. Hubungan dimana hanya ada suami istri, tanpa ada anak maupun keluarga kedua pihak. Tentunya anak-anak harus diberi pengertian agar mereka memahami bahwa kedua orangtuanya pun membutuhkan hubungan yang sehat. Sebagaimana sehat jasad butuh usaha memelihara, sehat batin juga penting. Semakin hilang momen kebersamaan antara suami dan istri, maka hubungan akan terasa hambar.

Mengutip tulisannya Ummu Balqis, bahwa tidak ada pasangan yang sempurna, yang ada pasangan yang ikhlas berjuang berburu menggapai ridho Allah bersama, hingga berikhtiar saling tuntas amanah di dunia sebagai suami atau istri.

Kalaupun tanpa sengaja ada yang lalai, saling mengingatkan adalah benang merah pernikahan yang indah, karena dilakukan atas nama cinta, tak hanya cinta pada diri nya, tapi juga cinta karena Alloh Subhanahu Wata’ala.

Wallohu a’lam bish showab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update