Oleh: Susi Ummu Zhafira
(Pegiat Literasi)
"Kalau toh bosen mengajarin anak, tapi rasa bosan ini tidak akan sama dengan rasa sakitnya kalau anak kita masuk di ICU dengan keadaan kritis. Atau pun anak kita diisolasi. Atau bahkan meninggal .…" Begitu bunyi cuplikan pesan dari dr. Aman Bhakti Pulungan saat menjadi salah satu narasumber di ILC, beberapa waktu lalu.
Ketua Umum IDAI tersebut berpesan agar masyarakat dan pemerintah bersabar. Tidak terburu-buru untuk membuka kembali sekolah. Beliau menyarankan agar sekolah tetap tutup hingga akhir Desember nanti. Biar bagaimanapun keselamatan anak-anak lebih utama dibandingkan dengan kebutuhan mereka akan pendidikan.
Memasuki masa normal baru, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebaliknya memutuskan bahwa sekolah di zona hijau dapat kembali membuka pengajaran secara tatap muka. Hal ini tentu dibarengi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, demi mencegah penyebaran virus covid-19. (TribunNews.com, 5 Juli 2020)
Kebijakan ini akhirnya memunculkan pertanyaan. Sudah siapkah sekolah dan siswa menjalani kembali rutinitas belajar-mengajar secara tatap muka di tengah pandemi? Sedangkan pandemi covid-19 belum ada tanda-tandanya akan segera berakhir.
Tidak ada kepastian bahwa zona hijau betul-betul aman. Sejak awal, penguasa tidak mau mengambil opsi lockdown. Kebijakan PSBB yang diambil pun dinilai tidak efektif karena pergerakan massa masih saja terjadi, terutama saat menjelang lebaran bulan lalu.
Kebingungan justru akan membayangi pihak stakeholder pendidikan. Langkah apa yang semestinya dilakukan untuk menindaklanjuti kebijakan tersebut. Resiko penyebaran virus masih sangat tinggi. Rekor jumlah kasus infeksi virus Corona atau covid-19 di Indonesia justru kembali pecah, Kamis(19/6) kemarin. Angka penambahannya mencapai 1.331 kasus narkobadalam 24 jam terakhir.
Ini mengerikan. Dengan tingkat kedisiplinan yang dimiliki rakyat Indonesia, mereka akan sulit menjalankan protokol kesehatan dengan baik. Pelanggaran selama masa PSBB sebelumnya bisa menjadi tolak ukur. Mereka mengabaikan social distancing, tidak memakai masker, tetap memaksa untuk melakukan perjalanan dan lain-lain.
Lagi-lagi nyawa para peserta didik dan praktisi pendidikan dipertaruhkan. Apa target utama dari pendidikan di negeri ini? Bukannya untuk bisa menjalani proses belajar-mengajar yang baik, perlu adanya jaminan keselamatan dan kesehatan?
Dari sinilah terlihat bahwa sistem pendidikan hari ini tidak memiliki arah tujuan yang jelas. Sekolah hanya sekedar tempat mentransfer ilmu. Angka-angka di atas kertas menjadi tujuan utama. Akhirnya generasi yang dilahirkan pun bermasalah. Jangankan berharap memiliki akhlak mulia, mereka seringkali terjebak pada pergaulan bebas yang itu dimulai dari sekolah.
Agaknya sekularisme telah bercokol di dalam sistem pendidikan negeri ini. Pemisahan agama dari kehidupan membuat wajah pendidikan hanya berorientasi pada kehidupan duniawi. Pendidikan hanyalah sebuah formalitas untuk mendapatkan penghidupan yang layak di kemudiaan hari.
Berbeda dengan Islam. Pendidikan dalam sistem Islam memiliki tujuan utama yaitu pembentukan kepribadian Islam. Mencetak generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang Islami. Sehingga teknis pelaksanaan pendidikannya pun bisa sangat fleksibel.
Menghadapai masa pandemi seperti ini, nyawa manusia menjadi hal yang mesti diutamakan. Begitu pun keselamatan para peserta didik dan juga tenaga pendidikan. Jika memang kondisinya tidak memungkinkan, maka belajar di rumah harusnya masih tetap menjadi pilihan.
Dengan berbekal tawakal kepada Allah, orangtua siap menjalankan perannya sebagai pendidik anak-anaknya di dalam rumah. Mereka pun memahami bahwa peran mereka sebagai pendidik merupakan tanggungjawab yang dibebankan oleh Allah.
Justru di masa-masa sulit seperti ini menjadi momen yang tepat bagi orangtua untuk menempa kepribadian anak. Orangtua bisa menguatkan akidah anak dengan menunjukkan betapa Allah sungguh berkuasa atas segala sesuatu. Menanamkan kesabaran dalam diri mereka saat menghadapi ujian.
Belajar dari rumah juga bisa menjadi ajang menguatkan bonding antar anggota keluarga. Banyak pilihan aktivitas belajar yang menyenangkan bisa dilakukan bersama seluruh anggota keluarga. Pun dengan belajar di rumah bisa semakin mengasah kemampuan lifeskill anak-anak.
Dan masih banyak hal positif yang sebetulnya bisa ditemukan saat peserta didik terpaksa menghabiskan masa pembelajaran di dalam rumah. Di sinilah diperlukan komunikasi yang baik antara pihak sekolah dengan orangtua. Sehingga proses belajar berjalan dengan baik. Jadi, bukan sekadar mengejar rentetan nilai dengan penyelesaian banyaknya tugas yang diberikan.
Sistem pendidikan berbasis akidah inilah yang kemudian akan mampu melahirkan generasi-generasi unggul. Mencetak manusia-manusia mulia yang mencintai ilmu karena dorongan ketakwaan. Mereka kelak akan memimpin peradaban dunia dengan kecemerlangan kepribadian Islam yang mereka emban.
Dengan begitu, tak akan ada kata bosan dalam membersamai proses belajar ananda. Baik mereka belajar di sekolah atau pun di dalam rumah. Orangtua terus melakukan upaya terbaik demi keselamatan anaknya dan juga keberlangsungan pendidikannya.

No comments:
Post a Comment