Goresan Pena Abu Mush'ab Al Fatih Bala
(Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)
Indonesia merupakan negeri dengan beribu-ribu anugerah. Selain kaya SDA juga memiliki kekayaan SDM yang memiliki potensi tersembunyi. Indonesia dalam pandangan masyarakat Internasional adalah negara dengan kepadatan populasi terbesar kelima di dunia.
Menurut Sensus Penduduk Antar Sensus (Supas 2015) jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 269,6 juta jiwa pada 2020. Jumlah tersebut terdiri atas kategori usia belum produkftif (0-14 tahun) sebanyak 66,07 juta jiwa, usia produktif (15-64 tahun) 185,34 juta jiwa, dan usia sudah tidak produktif (65+ tahun) 18,2 juta jiwa. Jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan terus bertambah menjadi 318,96 juta pada 2045 (Katadata.co.id, 9/9/2019).
Negeri ini memiliki banyak generasi muda, sebut saja gen Y (mereka yang terlahir pada tahun 1980-1990an), gen Z (tahun 2000an) dan gen Alpha (tahun 2010an ke atas). Generasi inilah yang terbaik yang dipersiapkan untuk memperkuat negerinya khususnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Indonesia punya potensi untuk menjadi negeri dengan kekuatan terbesar di dunia. Mengingat dunia Barat sudah menunjukkan kemundurannya seperti rendahnya angka pernikahan yang berimbas pada penurunan angka kelahiran di saat meningkatnya angka kematian.
Serangan wabah Corona menghantam benua Amerika dengan episentrumnya di AS dan di benua Eropa episentrumnya di Italia. Ditambah kurangnya kesadaran untuk membentuk mahligai pernikahan menambah buruk persoalan di sana.
Menurut sebuah survei lagi, di Barat angka kelahiran menurun karena kaum mudanya lebih memilih kehidupan berfoya-foya. Lebih mementingkan seks bebas. Menganggap pernikahan sebagai ancaman bagi karier dan lebih memilih bersahabat dengan hewan peliharaan daripada menikah.
Memiliki istri dan anak hanya akan menurunkan produktivitas dan menambah beban nafkah. Meski banyak negara Barat memberikan tunjangan kepada pasangan yang mau menikah dan memiliki anak tetap saja tak mampu meningkatkan angka kelahiran.
Selain itu, perilaku masyarakat yang serba bebas atau liberal bahkan di satu pihak malah tidak menaati perintah pemerintah. Salahsatu WNI yang belajar di Italia pernah bercerita pemerintah Italia awalnya telah memerintahkan untuk Lock Down namun karena sikap masyarakatnya yang tak taat dengan tidak mengikuti aturan lock down menyebabkan Italia sempat menjadi negara dengan angka kematian tertinggi karena Corona di dunia.
Sedangkan di Indonesia, walaupun Corona telah menyebabkan hampir 5.000 orang positif terjangkit, ada tren baru yang nampaknya akan menjadi opsi penguatan negara. Yaitu adanya kesempatan untuk mengamalkan parenting pada masa "stay at home" atau "lock down ala masyarakat".
"Stay at home" telah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk lebih dekat dengan anggota keluarga. Sehingga diperlukan ilmu untuk mendidik dan mengajar calon generasi pemimpin umat. Maka orang tua yang sejatinya anti pergaulan bebas belajar mengamalkan ilmu parenting (pola asuh) yang terbaik untuk anggota keluarganya.
Jika sebelum masa Corona anggota keluarga sibuk dengan kerja dan gadget, maka masa lock down ini mampu membuat hubungan persahabatan yang lebih cemerlang antara anggota keluarga.
Sebuah survei pernah membuktikan makan bersama bisa mengurangi angka kriminalitas di kalangan remaja. Apalagi bila orang tua meluangkan waktunya untuk belajar, bermain dan beribadah bersama anak-anaknya akan memberikan motivasi yang baru dan bermakna bagi mereka dalam membangun bangsa ke depannya.
Mereka menjadi lebih percaya diri, belajar kepemimpinan dari kedua orang tua nya. Sehingga nantinya bisa mengganti generasi orang tua memimpin umat. Diharapkan setelah wabah telah diangkat oleh Allah SWT mereka akan terlahir sebagai pribadi yang tangguh yang lebih bertakwa yang akan mampu memimpin peradaban di dunia.
Orang tua bisa memanfaatkan waktu stay at home ini untuk belajar mendidik. Tentunya dengan menguasai ilmu parenting terbaik seperti parenting ala Nabi Muhammad SAW, para sahabat Rhum dan Ulama. Orang tua juga bisa memanfaatkan segala fasilitas yang ada untuk membentuk kreatifitasan anak. Anak menjadi lebih hormat dan sayang kepada orang tua. Saling memahami itu penting agar mereka menjadi generasi yang peka terhadap setiap problematika umat.
Masa stay at home ini bukan musibah bagi keluarga. Malah sebagai pembelajaran bagi mereka tentang bagaimana medis itu bekerja mengatasi corona, social distancing mengajari mereka agar menghargai privasi orang lain. Jika ini dilakukan secara konsisten, akan hadir generasi bonus demografis yang ideologis yang mampu menimbulkan rasa takut pada kalangan kapitalis Barat akan hadirnya generasi baru yang kuat yang akan mengikis peradaban barat yang rapuh yang terbentuk dari paham sekuler dan liberal. []
Bumi Allah SWT, 14 April 2020.
#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan
(Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)
Indonesia merupakan negeri dengan beribu-ribu anugerah. Selain kaya SDA juga memiliki kekayaan SDM yang memiliki potensi tersembunyi. Indonesia dalam pandangan masyarakat Internasional adalah negara dengan kepadatan populasi terbesar kelima di dunia.
Menurut Sensus Penduduk Antar Sensus (Supas 2015) jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 269,6 juta jiwa pada 2020. Jumlah tersebut terdiri atas kategori usia belum produkftif (0-14 tahun) sebanyak 66,07 juta jiwa, usia produktif (15-64 tahun) 185,34 juta jiwa, dan usia sudah tidak produktif (65+ tahun) 18,2 juta jiwa. Jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan terus bertambah menjadi 318,96 juta pada 2045 (Katadata.co.id, 9/9/2019).
Negeri ini memiliki banyak generasi muda, sebut saja gen Y (mereka yang terlahir pada tahun 1980-1990an), gen Z (tahun 2000an) dan gen Alpha (tahun 2010an ke atas). Generasi inilah yang terbaik yang dipersiapkan untuk memperkuat negerinya khususnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Indonesia punya potensi untuk menjadi negeri dengan kekuatan terbesar di dunia. Mengingat dunia Barat sudah menunjukkan kemundurannya seperti rendahnya angka pernikahan yang berimbas pada penurunan angka kelahiran di saat meningkatnya angka kematian.
Serangan wabah Corona menghantam benua Amerika dengan episentrumnya di AS dan di benua Eropa episentrumnya di Italia. Ditambah kurangnya kesadaran untuk membentuk mahligai pernikahan menambah buruk persoalan di sana.
Menurut sebuah survei lagi, di Barat angka kelahiran menurun karena kaum mudanya lebih memilih kehidupan berfoya-foya. Lebih mementingkan seks bebas. Menganggap pernikahan sebagai ancaman bagi karier dan lebih memilih bersahabat dengan hewan peliharaan daripada menikah.
Memiliki istri dan anak hanya akan menurunkan produktivitas dan menambah beban nafkah. Meski banyak negara Barat memberikan tunjangan kepada pasangan yang mau menikah dan memiliki anak tetap saja tak mampu meningkatkan angka kelahiran.
Selain itu, perilaku masyarakat yang serba bebas atau liberal bahkan di satu pihak malah tidak menaati perintah pemerintah. Salahsatu WNI yang belajar di Italia pernah bercerita pemerintah Italia awalnya telah memerintahkan untuk Lock Down namun karena sikap masyarakatnya yang tak taat dengan tidak mengikuti aturan lock down menyebabkan Italia sempat menjadi negara dengan angka kematian tertinggi karena Corona di dunia.
Sedangkan di Indonesia, walaupun Corona telah menyebabkan hampir 5.000 orang positif terjangkit, ada tren baru yang nampaknya akan menjadi opsi penguatan negara. Yaitu adanya kesempatan untuk mengamalkan parenting pada masa "stay at home" atau "lock down ala masyarakat".
"Stay at home" telah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk lebih dekat dengan anggota keluarga. Sehingga diperlukan ilmu untuk mendidik dan mengajar calon generasi pemimpin umat. Maka orang tua yang sejatinya anti pergaulan bebas belajar mengamalkan ilmu parenting (pola asuh) yang terbaik untuk anggota keluarganya.
Jika sebelum masa Corona anggota keluarga sibuk dengan kerja dan gadget, maka masa lock down ini mampu membuat hubungan persahabatan yang lebih cemerlang antara anggota keluarga.
Sebuah survei pernah membuktikan makan bersama bisa mengurangi angka kriminalitas di kalangan remaja. Apalagi bila orang tua meluangkan waktunya untuk belajar, bermain dan beribadah bersama anak-anaknya akan memberikan motivasi yang baru dan bermakna bagi mereka dalam membangun bangsa ke depannya.
Mereka menjadi lebih percaya diri, belajar kepemimpinan dari kedua orang tua nya. Sehingga nantinya bisa mengganti generasi orang tua memimpin umat. Diharapkan setelah wabah telah diangkat oleh Allah SWT mereka akan terlahir sebagai pribadi yang tangguh yang lebih bertakwa yang akan mampu memimpin peradaban di dunia.
Orang tua bisa memanfaatkan waktu stay at home ini untuk belajar mendidik. Tentunya dengan menguasai ilmu parenting terbaik seperti parenting ala Nabi Muhammad SAW, para sahabat Rhum dan Ulama. Orang tua juga bisa memanfaatkan segala fasilitas yang ada untuk membentuk kreatifitasan anak. Anak menjadi lebih hormat dan sayang kepada orang tua. Saling memahami itu penting agar mereka menjadi generasi yang peka terhadap setiap problematika umat.
Masa stay at home ini bukan musibah bagi keluarga. Malah sebagai pembelajaran bagi mereka tentang bagaimana medis itu bekerja mengatasi corona, social distancing mengajari mereka agar menghargai privasi orang lain. Jika ini dilakukan secara konsisten, akan hadir generasi bonus demografis yang ideologis yang mampu menimbulkan rasa takut pada kalangan kapitalis Barat akan hadirnya generasi baru yang kuat yang akan mengikis peradaban barat yang rapuh yang terbentuk dari paham sekuler dan liberal. []
Bumi Allah SWT, 14 April 2020.
#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

No comments:
Post a Comment