Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Keruntuhan Khilafah Induk Segala Keburukan

Monday, March 09, 2020 | Monday, March 09, 2020 WIB Last Updated 2020-03-09T06:08:07Z
By : Afika Khairunnisa
(Penulis dan Aktivis Dakwah Kampus)

3 Maret 1924, khilafah diruntuhkan dg konspirasi barat. Ya, maret adalah bulan kesedihan bagi seluruh kaum muslimin, bulan yang menjadi titik awal keburukan, kezhaliman, dan pembantaian terus bermunculan hingga sekarang. Tepat tanggal 23 rajab 1342H (3 Maret 1924M) konspirasi Barat dan Yahudi menghancurkan institusi Islam melalui tangan Mustafa kemal at-taturk, seorang keturunan Yahudi yang menjadi agen Inggris. Dia menyusup ketengah-tengah kaum muslim, berpura-pura menjadi warga Daulah Islam (Utsmani), memprovokasi, menghimpun kekuatan untuk menggulingkan pemerintahan Islam dan menggantikannya menjadi Republik Turki dan menghapus Sistem Islam.

Ironisnya, ada sebagian kaum muslim menganggap seorang laknatullah Mustafa Kemal At-Taturk, sebagai bapak pembaharuan Islam. Padahal sepak terjangnya bukan pembaharuan Islam tapi meruntuhkan Islam dengan cara membantai umat Islam dan syariat Islam. Sosoknya diibaratkan pembunuh seorang Ibu, dari tangannya tergenggam pedang yang masih bercucuran darah, sedangkan anak-anak dari Ibu yang dibunuhnya tak sedikitpun menangis, bersedih, marah, benci, dendam tapi malah merangkul para pembunuh ibunya tersebut (Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani; Kitab Daulah Islamiyyah). 

Padahal awal kekuasaan dari Mustafa Kemal At-Taturk yang membunuh secara keji Ibu dari Umat Islam (Daulah Islam) adalah dengan memulai merubah simbol-simbol Islam dengan simbol yang lain, merubah bahasa Arab yang sebagai bahasa pemersatu umat muslim dengan bahasa Turki, merubah lafal adzan berbahasa Arab menjadi berbahasa Turki, merobohkan mesjid, mengganti pakaian syar'i dengan pakaian ala Eropa. Jadilah umat muslim di saat itu mulai dijauhkan dari pemhaman dan pemikiran Islam yang sebenarnya. Sehingga sedikit demi sedikit umat mulai jauh dari kata identitas kemuslimannya. Dari sinilah, kehidupan dan tatanan masyarakat mulai goyah dan terpecah belah. Wilayah Daulah yang telah melingkupi 2/3 dunia mulai terkerat-kerat dengan paham nasionalisme yang ditanamkan didalam jantung umat. Alhasil negara terpecah belah dan disantap bersama-sama oleh para penjajah yang sangat bernafsu meruntuhkan Daulah Islam. 

Kondisi menyedihkan secara kemanusiaan terus terjadi, menjadi berita miris yang tiada henti. Sejak itulah umat tidak dalam kondisi baik-baik saja. Secara sosial, ekonomi, politik, dan hukum bahkan pemerintahan juga tak jauh berbeda.  Umat Islam mulai diserang interaksi bebas, budaya hedonis dan permissif. Bahkan segi ekonomipun juga begitu, kerjasama berbasir ribawi pun terus dieratkan. Belum lagi undang-undang serta konstitusi kufur diemban diatas hukum Ilahi. Bahkan menganggap hukum Alqur'an bukan hukum tertinggi. Padahal sistem yang dibuat manusia itulah penyebab carut marutnya kehidupan ini terus terjadi hingga saat ini. Rakyat terus dibebani hutang, pajak, ini dan itu, mahalnya kebutuhan pokok, dicabutnya subsidi dan banyak lagi. Selain itu rakyat hanya diperbodohi, difungsikan jika hanya untuk pemilihan umum saja, diberikan janji manis tanpa realistis. Kesenangan dalam sistem yang bukan Islam ini hanya diwakilkan kepada rakyat yang mewakilkan (yang terpilih dalam pemilu). Rakyat yang harusnya disejahterakan, namun karena sistem berasal dari manusia yang dibuat dengan penuh nafsu, maka kebahagiaan hanya didapatkan oleh mereka yang berkepentingan saja, rakyat akhirnya dikambing hitamkan, ditelantarkan dan tidak disejahterakan sebagaimana mestinya. Alhasil Allah murka dan terus mendatangkan beragam musibah kepada umat manusia. 

Bagi umat Islam, Daulah Islam (Khilafah) adalah sebagai Ibu (Induk). Sehingga ketiadaan daulah Islam (Khilafah Islamiyyah)  menjadikan kaum muslimin didunia ini kehilangan arah, tanpa perhatian dan perlindungan serta kasih sayang dari seorang Ibu. Saat ada yang dianiaya, dibantai, dibunuh tak ada seorangpun yang berani membela mereka. Muslim Uyghur, India, Palestina, Suriah, Myanmar dan lainnya terus mengjadapi penindasan tiada henti tanpa perlindungan dan yang membela, sementara penguasa-penguasa negri muslim mayoritas hanya diam seribu bahasa. 

Ini semua terjadi karena tidak ada lagi umat Muslim yang kokoh dikarenakan tak lagi menggunakan hukum Allah sebagai pengurus segala lini kehidupannya. Padahal dalam Q.s Al-Maidah: 49 Allah berfirman:
" dan hendaklah engkau memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka, dan berwaspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdaya engkau terhadap sebahagian apa yang telah Allah turunkan kepadamu. Jika mereka berpaling (terhadap apa yang diturunkan Allah) maka ketahuilah sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan dosa-dosa sebahagian mereka, dan sungguh kebanyakan manusia adalah orang-orang fasik"

Dari ayat ini Allah telah menegaskan, siapapun yang tidak mengindahkan semua hukum Allah maka Allah akan menimpakan berbagai macam musibah atas kepongahan manusia tersebut. Naudzubillah mindzaliq.

Maka jelaslah, demikianlah halnya dalam pemerintahan, menganggap sistem pemerintah Demokrasi-Kapitalis-sekuler adalah sistem yang paling valid diterapkan dimasa sekarang ketimbang sistem pemerintahan yang diajarkan Rasulullah dahulu sebagai sistem pemerintahan yang shahih dari Allah sungguh merupakan bentuk pembangkangan yang nyata terhadap apa yang telah Allah tetapkan. Maka masihkah menganggap sistem selain Islam ini adalah harga mati?? Lantas apa hujjahmu dihadapan Allah kelak ketika kamu ditanya tentang kebangkanganmu selama didunia menjadi pendukung paling hiperaktif memperjuangkan hal-hal yang jelas-jelas bertentangan dengan apa yang telah di syari'atkan oleh Allah? Tidakkah membuka mata dan berfikir bahwasannya dunia dalam kehancuran ketika tidak dalam sistem pemerintahan Islam?

Sungguh, telah lelah dengan kondisi umat yang keteteran ketika tidak diayomi dengan sebaik mungkin. Namun percayalah, Maret bukan hanya sekedar kisah menyayat hati, tapi maret juga merupakan moment penting untuk mengembalikan Ibu umat sekaligus perisau umat yang telah lama hilang. Kisah kelam tidak untuk dikenang, tapi menjadi api semangat yang terus berkobar dalam dada-dada kaum muslimin untuk menghimpun kekuatan, bersegera mengusir penjajah dan antek-anteknya hingga pada akhirnya keberkahan langit dan bumi kembali teraih bersama tegaknya Daulah Khilafah Islamiyyah yang sebentar lagi bersinar terang. 

Allahu 'alam bish shawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update