Oleh: Anggun Permatasari
Tanggal 29 Mei 1453 bertepatan dengan 20 jumadil awal 857H adalah hari dimana kota Konstantinopel berhasil ditaklukan Sultan Mehmed II atau Muhammad Al-Fatih. Sungguh ini merupakan kabar gembira bagi kaum muslim dan penduduk Konstantinopel pada saat itu.
Bagi umat muslim, Konstantinopel adalah kemuliaan yang telah dijanjikan oleh Allah swt. dan Rasul-Nya dalam bisyarah. Dan bagi penduduk Konstantinopel, penaklukan ini ibarat cahaya matahari yang memberikan kehidupan. Keadilan Islam dirasakan hampir seluruh penduduk, baik muslim maupun umat Kristiani dan Yahudi.
Salah seorang sahabat Nabi, Abu Qubail bercerita, “Ketika kami sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya, ‘Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Roma?’ Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Lalu ia berkata, ‘Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: "Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Roma?’ Rasul menjawab, ‘Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.’ Yaitu: Konstantinopel’.” (HR. Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim).
Dalam riwayat lain dikatakan, "Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR Ahmad).
Keyakinan kaum Muslim akan janji Allah swt. dan Rasul-Nya merupakan modal serta tujuan utama dalam menghiasi kehidupan ini. Banyak dari kaum Muslim yang menyambut bisyarah terkait penaklukan Konstantinopel. Mereka berlomba-lomba memantaskan diri untuk menjadi yang terbaik di sisi Allah swt.
Terukir indah dalam sejarah, upaya pembebasan Konstantinopel telah berlangsung sejak masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan (668-669 M). Sultan Murad yang merupakan ayah Muhammad Al-Fatih juga pernah mencoba menaklukan Konstantinopel namun gagal. Oleh karena itu, keinginan mulia Sultan Murad untuk menjadikan salah satu puteranya sebagai pengambil bisyarah nabi sangat besar.
Bersandar pada bisyarah tersebut, semangat yang membara senantiasa disemai dalam dada Sultan Mehmed II. Cita-cita besar dan doa tulus dari Sultan Murad sebagai orang tua menyertai hari-hari Sultan Mehmed II. Peran Syaikh Aaq Syamsudin yang merupakan ulama yang juga seorang ahli biologi, kedokteran, astronomi dan pengobatan herbal menggenapkan terwujudnya impian mulia itu.
Adalah ketaqwaan dan ridho Allah swt. yang merupakan kunci dari keberhasilan dan segala kemuliaan yang diraih Sultan Mehmed II. Taqarub iLlah (mendekatkan diri kepada Allah swt.) tidak pernah ditinggalkan. Bahkan ketika pasukan Sultan Mehmed II dalam masa-masa kritis mengepung benteng Konstantinopel, beliau senantiasa memerintahkan mereka untuk berpuasa, tahajud dan berdzikir kepada Allah.
Dalam pencapaiannya Sultan Mehmed II selalu menyandarkan segala usahanya hanya kepada Allah swt. Bisyarah pembebasan Konstantinopel adalah inspirasi hidupnya. Walaupun pada saat itu kaum orientalis banyak mengatakan alasan utama pembebasan Konstantinopel adalah bukan karena keyakinan terhadap janji Allah melainkan latar belakang geografis.
Oleh sebab itu, perjalanan Sultan Muhammad Al-Fatih untuk mengembalikan Konstantinopel ke tangan kaum Muslim sejatinya menjadi cermin umat Islam untuk mengambil bisyarah Rasulullah saw. membebaskan kota Roma. Seperti kita ketahui, saat ini Roma merupakan ibu kota Italia yang masih menjadi kiblat umat Katolik.
Keimanan dan ketaqwaan penuh menjadi syarat utama datangnya pertolongan Allah swt. untuk mencapai kemenangan. Dalam surat albaqarah ayat 208, "Wahai orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan. Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kalian,”
Ibnu Ishaq berkata, “Orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang berkata ketika negeri-negeri yang disebutkan Rasulullah saw tersebut ditaklukkan pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan pemerintahan sesudahnya, `Taklukkan negeri mana saja yang kalian inginkan, karena demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah berada di tangan-Nya, tidaklah kalian menaklukkan salah satu kota hingga hari kiamat, melainkan Allah telah memberikan kunci-kuncinya kepada Muhammad saw sebelum itu’.”
Selain keyakinan atas pesan cinta (bisyarah) nabi saw., umat muslim hendaknya memiliki kesadaran politik yang utuh.
Allah swt. berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Alloh, supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al Hujurot: 10).
Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zhalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Setelah itu nabi terdiam. ” (HR. Ahmad)
Dari ayat-ayat Allah swt. dan hadist nabi saw. di atas, penerapan syariah secara kaffah dan persatuan umat hanya akan terwujud dengan adanya institusi yang menaunginya yaitu daulah khilafah rosyidah.
Dengan mentadaburi alquran dan hadist Rasulullah saw. umat Islam hendaknya menyelami sejarah gemilang para sahabat nabi juga para ksatria terdahulu untuk senantiasa istiqomah dalam mengembalikan kehormatan kaum muslimin yang saat ini dihinakan orang kafir dan munafik.
Takluknya Roma dan tegaknya Khilafah ala minhaj annubuwwah adalah keniscayaan. Keduanya telah disampaikan oleh lisan orang yang paling mulia untuk kita para penduduk akhir zaman. Namun, hidup adalah pilihan. Pilihan menjadi pejuang, penonton atau malah orang yang menghalangi terwujudnya janji tersebut (naudzubillah) adalah pilihan kita.
Wallahualam.

No comments:
Post a Comment