Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Negara Korporasi Bekerja Untuk Pembisnis, Rakyat Tercekik Mati

Saturday, December 07, 2019 | Saturday, December 07, 2019 WIB
Oleh : Agus Susanti
Aktivis Serdang Bedagai, Member AMK

Murah di mulut, mahal di timbangan. Inilah pribahasa yang tepat untuk menggambarkan para aparatur Negara yang kini duduk di kursi jabatan. Dengan mengandalkan sumpah dan janji yang selalu diucapkan saat pelantikan, mereka menganggap itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa mereka akan melaksanakan tugasnya dengan benar.  ya, itulah sikap mereka yang sebenarnya, banyak berjanji tapi tidak ditepati.

Jakarta, CNN Indonesia -- Perum Bulog menyatakan akan membuang 20 ribu ton cadangan beras pemerintah yang ada di gudang mereka. Nilai beras tersebut mencapai Rp160 miliar.
Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh mengatakan pemusnahan dilakukan karena usia penyimpanan beras tersebut sudah melebihi 1 tahun.

Rakyat dibuat syok dengan kabar yang datang dari Dirut Bulog Indonesia, Tri Wahyudi yang  mengatakan bahwa beras yang ada di gudang bulog harus di buang karena sudah melewati batas penyimpanan/kadaluarsa. Entah apa dan harus menyalahkan siapa, sungguh hal ini seharusnya tidak pernah terjadi. Bayangkan berapa banyak kerugian yang harus ditanggung akibat hal fatal ini. selain itu, kita bisa melihat di luar sana masih banyak rakyat yang kelaparan dan tidak memiliki beras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari..

Lantas, mengapa hal ini bisa terjadi. Pasti ada yang salah dalam pendistribusian beras kepada rakyat, selain itu ada kelalaian dari pihak yang saling bersangkutan.  Pasalnya kita juga mengetahui bahwa mentri perdagangan kerap melakukan impor beras dari luar negeri dengan jumlah yang tak sedikit dengan alasan stok beras tidak memadai.

Sudah pasti ada permainan dibelakang semua ini. Sebab seharusnya dari pihak Bulog dan Mentri Perdagangan menjalin komunikasi yang baik. Agar stok beras bisa sesuai dengan yang dibutuhkan rakyat, tidak kurang dan tidak pula terlalu berlebih. Tentunya ini  bisa diperkirakan sejak jauh hari, mengingat Indonesia bukanlah Negara yang baru merintis sehingga belum bisa menghitung berapa kebutuhan untuk rakyat selama kurun setahun.

Selain itu, pemerintah yang terkait juga bertanggung jawab atas hal ini. Mengapa bisa berton-ton beras sampai kedaluarsa, sementara masih banyak rakyat yang kelaparan hingga meregang nyawa. Bagaimanakah pendistribusiannya selama ini?.

Apakah ini karena Negara selama ini hanya fokus untuk mengurus  para pembisnis yang akan memberikan keuntungan bagi kantong-kantong pribadi mereka. Sementara untuk urusan hajat hidup rakyat mereka jadikan nomor terakhir. Walhasil banyak  rakyat yang menderita dan menjadi korban dari kelalaian dan ketidakseriusan pemerintah dalam melayani urusan rakyat.

Padahal sejatinya rakyat adalah raja, dan pejabat Negara adalah pelayan yang diberi amanah serta gaji untuk memenuhi segala keperluan rakyat. Tapi sayang Negara korporasi ini hanya sibuk untuk mengurusi segala kepentingan para pembisnis, sementara rakyat dibiarkan tercekik mati.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update