Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tudingan Radikalisme yang Tidak Jelas

Monday, November 25, 2019 | Monday, November 25, 2019 WIB Last Updated 2019-11-25T16:11:52Z
Oleh : Syifa Putri
Ummu warabbatul bayt, Kab. Bandung

Sungguh aneh pendapat bapak Menag yang baru dilantik ini, setelah kisruh larangan bercadar dan celana cingkrang di lingkungan ASN, yang berarti si bapak ini sudah sekuler akut. Karena aturan agama dipisahkan dengan aturan negara. Dengan kata lain kalau ingin mengikuti syariat dengan bercadar dan celana cingkrang itu jangan jadi PNS, karena  kalau jadi ASN harus mengikuti aturan negara. Akan tetapi berbeda dengan statemen ketika menghadiri Hari Santri 22 Oktober 2019 kemarin.

Menag mengatakan, jiwa santri yang tidak pernah memisahkan antara agama dan negara, sesungguhnya terinspirasi dari apa yang dinyatakan dalam Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober 1945 yang dikumandangkan oleh Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.  

"Dalam Resolusi Jihad itu dinyatakan: “..Berperang menolak dan melawan penjajah itu fardlu ‘ain (yang harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempuan, anak-anak, bersenjata atau tidak) bagi yang berada dalam jarak lingkaran 94 km dari tempat masuk dan kedudukan musuh. Bagi orang-orang yang berada di luar jarak lingkaran tadi, kewajiban itu jadi fardlu kifayah (yang cukup kalau dikerjakan sebagian saja).”," terang Menag yang mengaku merinding membaca resolusi jihad yang dinyatakan oleh Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. 

"Atas dasar dalil agama, mempertahankan NKRI merupakan bagian dari kewajiban agama. Agama membenarkan untuk memiliki semangat kebangsaan. Agama tidak pernah memisahkan perhatiannya terhadap negara. Akan tetapi, justru karena semangat agamanya itu, ia rela berkorban dan terus berkarya untuk membangun bangsa," ungkap Menag

Pada dasarnya setiap warga negara memang punya kewajiban untuk membela negaranya. Ibarat rumah, negara adalah tempat seluruh warga negaranya hidup, bernaung atau berlindung, yang semestinya tidak boleh diganggu atau terancam oleh pihak manapun. Karena itu penghuninya harus selalu menjaga dan membela. 

Hanya saja, yang jadi soal, dalam kerangka apa bela negara itu diserukan. Maksudnya, bila negara ini harus dibela, dari ancaman apa dan dari siapa yang dianggap lawan atau musuh.

Sejauh ini identifikasi terhadap ancaman terhadap musuh ini belum beranjak dari kerangka lama, yakni yang disebut ancaman ekstrem kiri yang datang dari paham komunisme dan ekstrem kanan yang datang dari apa yang mereka sebut Islam radikal. Dalam kerangka ini, liberalisme dan kapitalisme yang melahirkan neoimperialisme, yang nyata-nyata telah mengancam negara ini, tidaklah dianggap sebagai ancaman. Karena itu Barat, tempat paham liberalisme dan kapitalisme berasal, sekaligus yang menggunakan paham itu untuk menjajah negara-negara berkembang, termasuk Indonesia melalui model penjajahan baru, tidak dianggap sebagai lawan. Barat malah dianggap kawan, bahkan penolong.

Saat ini banyak paradoks. Rakyat disuruh bela negara, tetapi Pemerintah menyerahkan tanah air kepada asing. Bicara nasionalisme, tetapi disintegrasi Papua dibiarkan. Bicara bela negara, tetapi kebijakan penguasa malah menyusahkan rakyat. Mengklaim anti penjajahan, tetapi penjajah justru diundang. 

Paradoks atau ironi yang amat menyedihkan adalah ketika negara yang mayoritas muslim ini justru menjadikan Islam (mereka sebut Islam radikal) sebagai ancaman. Bagaimana bisa agama yang mereka peluk itu, yang dipercaya sebagai agama yang benar dan akan membawa keselamatan dunia akhirat, justru dianggap sebagai ancaman? Menyedihkan sekali, kan?

Akan tetapi suatu hal yang sangat mengherankan sekaligus memalukan, adalah adanya pernyataan dari salah seorang yang dianggap sebagai tokoh Islam, beranggapan bahwa ciri kelompok radikalisme adalah jenggotan, celana cingkrang dan selalu membawa mushaf kecil.

Hal ini menunjukkan kekurangan tokoh tersebut dalam segi informasi dan pemikiran, apa lagi tentang pemahaman ajaran agama. Pernyataan tersebut di samping tidak sesuai dengan fakta, juga terselip bentuk kebencian terhadap umat Islam yang berusaha menjalankan agamanya, sesuai dengan yang diperintahkan Rasûlullâh saw.

Dan hal ini jelas  membidik umat Islam yang ingin menegakkan Islam kaffah. Ciri radikalisme ini lebih jauh dikembangkan oleh LIPI bidang kajian ilmu sosial, yaitu yang jidatnya hitam, yang pengajiannya membentuk lingkaran dalam lingkup kecil, tidak cinta kepada negara, menginginkan persatuan ummat Islam sedunia, berpaham penerapan Islam tidak parsial tetapi secara sempurna. Inilah artinya menganggap Islam sebagai problem bukan solusi. Sementara yang membantu rezim, hanya menjadi stempel kezaliman penguasa. Mereka tidak menyadari dan bahkan tidak peduli bahwa radikalisme adalah upaya menyudutkan dan menghalangi kebangkitan Islam. Rasulullah bersabda:
"Siapa saja yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka maka dia bukan golonganku, aku bukan pun bagian dari golongannya dan dia tidak masuk ke telagaku (di surga). Sebaliknya, siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kezaliman mereka maka dia termasuk golonganku, aku pun termasuk golongannya dan dia akan masuk ke telagaku (di surga)…” (HR Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi).

Dalam hadis di atas, Rasulullah saw. mengajari kita agar tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kezaliman mereka. Membenarkan jelas tingkatannya di bawah menaati. Jika membenarkan kebohongan mereka saja dilarang, apalagi menaati dan membanntu kezaliman mereka; apalagi memberikan justifikasi, pembenaran atau stempel atas kezaliman mereka.

Dalam situasi demikian, sangat penting umat muslim memilik pedomanan, seperti pesan Rasulullah saw: "Katakanlah , aku beriman kepada Allah." Kemudian istiqamahlah! (HR Ahmad dan Muslim).

Makna istiqamah berarti teguh diatas jalan yang lurus. Dengan demikian keistiqamahan hanyalah bisa diwujudkan dengan mengikuti Islam, meyakini akidahnya dan mengamalkan syariah-nya serta mengikuti manhaj dan sistemnya melalui bingkai Khilafah 'aala minhaj an nubuwwah.
Wallahu a'lam bi ash-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update