Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jeratan Kapitalisme Menggerus Naluri Keibuan

Monday, November 11, 2019 | Monday, November 11, 2019 WIB Last Updated 2019-11-11T07:16:25Z
Oleh : Rini Astutik
(Pemerhati Sosial)

Makin hari makin banyak saja kasus-kasus tindak kekerasan yang terjadi tehadap anak. Baru-baru ini di Jakarta tepatnya di jalan Sanusi Kebon Jeruk Jakarta seorang bayi berinisial ZNL usia 2,5 tahun tewas ditangan ibu kandungnya sendiri. (Detik.com, 25-10-2019).

Kejadian itu bermula akibat si Ibu yang berinisial NP malu kepada tetangga dan mengaku stress diancam akan diceraikan oleh sang suami jika anaknya yang dalam kondisi kurus tidak bisa gemuk. Ia pun mengambil jalan pintas untuk bisa “menggemukkan” anaknya dengan cara digelonggong air minum. Padahal, bagaimana bisa membuat gemuk jika dari dalam keluarga sendiri masih terkendala masalah ekonomi dan tidak mempunyai gizi yang cukup.

Kasus penganiayaan terhadap anak pun pernah terjadi di Samarinda tepatnya  di jalan KH. Abdul Hasan Kelurahan pasar pagi Kecamatan Samarinda kota. Iyus puspitasari (45 tahun) tega menganiaya anak kandungnya sendiri yang masih balita hingga patah tulang.

Iyus tega menganiaya anaknya yang bernama Agus umur 3 tahun 11 bulan lantaran dinilai sangat nakal. Penganiayaan itupun dilakukan dengan cara memukul mata korban. Tak cukup sampai disitu, Iyus yang sudah emosi lalu menginjak kaki korban dengan tumit, memukul bagian paha dan tubuh korban dengan menggunakan plywood tebal dan gantungan baju beberapa kali. Perbuatan Iyus yang tega melukai anaknya itu kini berujung penjara dan harus dipertanggung jawabkan dihadapan  majeis hakim. (Samarinda niaga Asia, 16-10-2019).

Maraknya kasus ibu yang tega menelantarkan bahkan membunuh anak kandungnya sendiri terus berulang terjadi di negeri ini. Perbuatan tercela itu terjadi begitu saja yang disebabkan berbagai faktor mulai dari psikologi (takut dicerai, malu sama tetangga) hingga persoalan ekonomi.

Deretan kasus serupa itu menjadi bukti bahwa semakin hilangnya naluri keibuan yang diakibatkan oleh berlakunya sistem Kapitalisme. Ditambah lagi, tidak adanya jaminan negara terhadap kesejahteraan perempuan. Fakta menunjukkan, penurunan angka kemiskinan di Indonesia masih relatif kecil. Di kutip dari harian Kompas, 2-2-2019, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan angka kemiskinan di Indonesia hanya turun dari 10.12 persen menjadi 9,66 persen dan mencapai hingga 25,67 juta orang.

Kemiskinan yang dialami oleh masyarakat secara khusus pada keluarga-keluarga berdampak multi dimensi. Pada keluarga miskin akan menyebabkan kepala keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar bagi seluruh anggota keluarganya hingga kemudian seorang ibu harus turut serta bekerja mencari nafkah dan menyampingkan hak-hak  anaknya.

Padahal seorang anak telah memiliki hak-hak yang dijamin dan dilindungi oleh negara, yaitu dalam pasal 3 undang-undang No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, yang menyebutkan “perlindungan anak-anak bertujuan menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera.’’

Saat menyadari bahwa penyebab utama persoalan yang melingkupi anak dan perempuan adalah masalah kemiskinan, maka seharusnya pemerintah mengambil langkah untuk menyelesaikan kemiskinan. Sebab kemiskinan inilah yang menggerakkan perempuan khususnya para ibuterpaksa ikut bekerja untuk membantu menopang perekonomian keluarga.

Keterpaksaan itu bukannya diakhiri, namun malah disokong negara dengan berbagai regulasi yang ada. Nama pahlawan devisa pun disematkan pada TKI dan TKW yang mengadu nasib di negeri orang. Mereka dianggap pahlawan devisa karena menolong perekonomian bangsa dan mampu mencari uang sendiri yang imbasnya akan mendongkrak pendapatan perkapita negara.

Disisi lain, opini yang dihembuskan oleh konsep kapitalis tentang sosok perempuan yang sukses yaitu mereka yang memiliki usaha dan tidak bergantung pada suami bukan seorang ibu yang mampu mencetak generasi yang berakhlak mulia. Artinya, opini yang  dihembuskan telah menghilangkan fitrah seorang ibu yang seharusnya berada di rumah dan mendidik generasi.

Fakta demikian sekaligus memperlihatkan bahwa betapa fungsi keibuan saat ini telah diabaikan. Kodrat perempuan adalah menjadi ibu yang menyayangi dan selalu mendampingi anak-anaknya. Ia bahagia ketika kehadirannya dicintai dan merasa dibutuhkan oleh anak-anaknya.

Adanya perbedaan  pandangan antara Islam dan Kapitalisme memang sangat nyata. Mulai dari perbedaan yang signifikan terhadap peran dan fungsi perempuan ditengah masyarakat hingga persoalan-persoalan yang menyangkut keluarga dan keberlangsungan generasi.

Islam memberikan banyak aturan pada perempuan bukan karena ingin menindas perempuan. Sebab aturan yang sangat banyak dan rinci itu dibuat sesuai fitrahnya sebagai perempuan.

Islam memandang perempuan pada posisi yang tepat dengan sangat mulia, yakni sebagai ibu dan manajemen rumah tangga. Ini merupakan posisi yang sangat strategis, sebab masa depan generasi dan bangsa akan sangat ditentukan oleh posisi ini. Maka proses pendidikan yang dilakukan para kaum ibu menjadi kunci utama tingginya suatu peradaban bangsa.

Adapun kewajiban mencari nafkah dibebankan pada laki-laki bukan untuk menunjukkan kekuatan laki-laki dan kelemahan perempuan, tapi tugas  ini diberikan oleh Allah SWT. Sehingga, jika masing-masing pihak saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat dengan tetap fokus pada peran masing-masing yang sudah ditetapkan maka ketentraman pada masyarakat akan terjamin.

Dipihak lain, Islam juga mengatur bagaimana negara memberikan jaminan terpenuhinya semua kebutuhan primer rakyatnya. Islam menyerahkan tugas ini bukan pada pundak individu atau sebagian orang apalagi seorang ibu.

Islam memberikan solusi untuk mengentaskan kemiskinan melalui distribusi kekayaan yang dibebankan kepada negara untuk mengaturnya. Dengan demikian seorang ibu tidak perlu bersusah payah untuk menghidupi dirinya dengan menghabiskan banyak waktu di luar rumah yang bisa melunturkan naluri keibuan dan sekaligus tugas utamanya.

Sehingga nyatalah Islam memuliakan peran ibu. Karena itu memperjuangkan tegaknya sistem Islam yang akan mampu menyelesaikan berbagai persoalan menjadi keharusan bagi siapa saja yang ingin mendapatkan kemulian dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update