Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

AI di Era Kapitalisme: Kecanggihan Teknologi di Tengah Krisis Akidah

Friday, October 09, 2026 | October 09, 2026 WIB Last Updated 2026-10-09T12:50:09Z

Oleh: Rumaisha Pejuang Literasi


Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin pesat. Kehadirannya memberikan berbagai kemudahan bagi manusia, mulai dari membantu pekerjaan, pendidikan, penelitian hingga bidang kesehatan. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, muncul kekhawatiran terhadap perkembangan AI yang semakin otonom dan sulit dikendalikan.

Para peneliti kecerdasan buatan, termasuk Geoffrey Hinton dan Yoshua Bengio yang dikenal sebagai pelopor AI modern, bersama sejumlah peneliti lainnya menerbitkan riset yang memperingatkan pemerintah agar bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya “intelligence explosion” atau ledakan kecerdasan AI. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika AI semakin mampu mengotomatisasi penelitian dan pengembangan AI sehingga proses peningkatan kemampuannya berlangsung sangat cepat. (CNN Indonesia.com, 29/9/2026)

Para peneliti menyebut perkembangan tersebut berpotensi membawa kemajuan besar dalam bidang medis dan teknologi. Namun, pada saat yang sama terdapat sejumlah risiko serius, di antaranya ancaman biologis dan siber yang berkembang lebih cepat daripada kemampuan pertahanan, berkurangnya kendali serta keterlibatan manusia dalam pengembangan AI, hingga kemungkinan negara menggunakan keunggulan teknologi untuk memperoleh keuntungan strategis.

Artinya, kecanggihan teknologi AI ibarat pisau bermata dua. Ia dapat digunakan untuk memberikan kemaslahatan, tetapi juga sangat mungkin dimanfaatkan untuk kepentingan yang membahayakan manusia.

Teknologi Bukan Persoalan Utama

Islam tidak datang untuk menghambat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia justru diberikan akal agar mampu berpikir, meneliti, memahami berbagai fenomena, serta memanfaatkan apa yang ada di alam untuk kemaslahatan kehidupan.

Allah Swt. berfirman:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.’” (QS. Al-Baqarah: 30)

Akal merupakan salah satu karunia Allah Swt. yang memungkinkan manusia mengembangkan ilmu dan teknologi. Karena itu, AI sebagai hasil perkembangan teknologi tidak otomatis menjadi sesuatu yang harus ditolak. 

Dalam kitab Nizhamul  Islam karya Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dijelaskan tentang perbedaan mendasar antara pandangan hidup dan bentuk-bentuk kehidupan material. Hadharah berkaitan dengan pemikiran dan pandangan hidup yang lahir dari suatu ideologi. Sementara madaniyah merupakan bentuk-bentuk benda atau produk material hasil kemajuan manusia.

Maka, persoalannya bukan semata-mata pada kecanggihan AI sebagai teknologi. Persoalannya adalah pemikiran, nilai, tujuan, dan kepentingan yang mengarahkan pemanfaatannya.

Ketika Teknologi Dikendalikan Kapitalisme

AI tidak memiliki akidah. AI juga tidak memiliki pandangan hidup sebagaimana manusia. Ia merupakan teknologi yang dibuat, dilatih, dikembangkan, dan digunakan oleh manusia.

Karena itu, ketika AI menghasilkan keputusan atau memberikan rekomendasi, semua itu tidak lahir dari keyakinan AI, melainkan dari rancangan sistem, data, tujuan penggunaan, serta manusia dan lembaga yang berada di baliknya.

Dalam sistem kapitalisme, perkembangan teknologi sangat erat dengan kepentingan ekonomi, persaingan bisnis, penguasaan pasar, bahkan persaingan kekuatan antarnegara. Teknologi yang sangat canggih dapat menjadi sarana meraih keuntungan sekaligus alat memperbesar kekuatan.

Maka, semakin besar kemampuan AI, semakin besar pula dampak yang mungkin muncul ketika teknologi tersebut berada di tangan pihak yang menjadikannya sekadar instrumen kepentingan ekonomi dan kekuasaan.

Kekhawatiran para peneliti tentang hilangnya kendali manusia, ancaman siber dan biologis, serta penggunaan AI untuk memperbesar keunggulan suatu negara menunjukkan bahwa persoalan AI tidak hanya berkaitan dengan teknologi. Ada persoalan nilai dan arah pemanfaatan teknologi yang tidak boleh diabaikan.

AI dalam Bingkai Akidah dan Syariat

Berbeda dengan kapitalisme yang menjadikan manusia sebagai penentu utama nilai dan aturan, Islam menjadikan akidah sebagai dasar kehidupan dan syariat sebagai standar perbuatan.

Teknologi boleh berkembang sejauh tidak bertentangan dengan hukum syariat. Bahkan, teknologi dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat.

AI dapat digunakan untuk membantu diagnosis medis, mempercepat penelitian, meningkatkan pendidikan, mengolah data, membantu pekerjaan, hingga berbagai kebutuhan lain yang bermanfaat.

Namun, penggunaan AI untuk menipu, merampas hak orang lain, melakukan kejahatan siber, membuat senjata pemusnah, menyebarkan kerusakan, atau berbagai aktivitas haram lainnya tetap terlarang. Jadi, bukan AI yang harus diberi akidah, tetapi manusia pengguna AI yang harus memiliki akidah.

Manusia yang memiliki kesadaran bahwa setiap perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. akan menjadikan teknologi sebagai sarana kemaslahatan, bukan sekadar alat mengejar keuntungan.

Negara Tidak Boleh Lepas Tangan

Persoalan AI juga tidak cukup diserahkan kepada individu atau perusahaan teknologi.
Ketika suatu teknologi memiliki dampak luas terhadap kehidupan masyarakat, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan penggunaannya tidak membahayakan rakyat.

Dalam Islam, penguasa adalah ra'in atau pengurus rakyat. Rasulullah saw. bersabda:

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam adalah pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya.” (HR.  Bukhari dan Muslim)

Karena itu, negara dalam sistem Islam tidak boleh sekadar mengejar ketertinggalan teknologi atau berlomba menjadi negara paling maju secara teknologi. Negara harus memastikan perkembangan ilmu dan teknologi berada dalam koridor syariat serta diarahkan untuk kemaslahatan umat.

Negara juga memiliki peran penting dalam mengembangkan kemampuan teknologi strategis, menjaga keamanan data, melindungi masyarakat dari penyalahgunaan teknologi, serta mencegah teknologi digunakan untuk sesuatu yang diharamkan.

Teknologi Maju, Akidah Jangan Tertinggal

Kemajuan AI sesungguhnya memberikan pelajaran penting bagi manusia.
Ketika manusia mampu menciptakan teknologi yang semakin canggih, justru semakin terlihat bahwa kecanggihan teknologi tidak otomatis menjadikan kehidupan manusia lebih baik.

Teknologi membutuhkan arah.
AI membutuhkan manusia yang mengendalikannya. Manusia membutuhkan pedoman agar kekuasaan atas teknologi tidak berubah menjadi sumber kerusakan.

Jika teknologi berkembang tanpa kendali nilai dan aturan yang benar, kemajuan yang seharusnya membawa maslahat justru dapat menjadi ancaman.

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk takut terhadap teknologi. Islam mengajarkan bagaimana teknologi ditempatkan sebagai sarana untuk menjalankan amanahnya.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan menghentikan perkembangan AI, melainkan memastikan perkembangan dan pemanfaatannya berada dalam bingkai akidah Islam dan syariat Allah Swt.

Di sinilah pentingnya penerapan Islam secara menyeluruh dalam kehidupan. Sebab, ketika akidah menjadi landasan individu, masyarakat dibangun dengan amar makruf nahi mungkar, dan negara menjalankan syariat sebagai aturan kehidupan, kecanggihan teknologi dapat diarahkan untuk kemaslahatan manusia. AI boleh semakin cerdas. Teknologi boleh semakin maju. Tetapi manusia tidak boleh kehilangan arah dan tunduk kepada hasil ciptaannya sendiri.
Sebab, kecanggihan teknologi tanpa ketundukan kepada Allah Swt. justru berpotensi menjadi jalan menuju kerusakan. Sebaliknya, teknologi yang berada dalam bingkai akidah dan syariat justeru akan menghantarkan Islam menuju peradaban gemilang seperti dulu.

Wallahu a'lam bishshawwab
×
Berita Terbaru Update