Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Karhutla Terus Berulang, Terbakar Atau Sengaja Dibakar?

Tuesday, September 22, 2026 | September 22, 2026 WIB Last Updated 2026-09-22T03:58:15Z





Dartem 

Kabut asap pekat menyelimuti wilayah Pulau 
Kalimantan akibat Karhutla dan menyesakan warga. Akibatnya, seorang anak laki-laki meninggal dunia akibat sesak nafas. Itu terjadi di kota Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Korban sebelumnya sudah sempat dirawat di RSUD Puruk Cahu. Anak tersebut diketahui punya riwayat penyakit asma dan sudah lama diderita kondisi diperburuk dengan adanya kabut asap.

Pada awal Agustus 2026, juga telah terjadi korban meninggal dunia akibat terjebak kabut asap ketika sedang mengendarai sepeda motor. Korban bernama Taufik Hidayat (26) warga Desa Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Korban pingsan dan akhirnya meninggal akibat kehabisan oksigen,detik.com Jumat (04 Sep 2026)

Karhutla kembali memakan korban jiwa. Kejadian ini terjadi hampir setiap musim kemarau tiba. Akan tetapi, apakah hutan itu terbakar atau sengaja dibakar?


Karhutla bukan hanya terjadi ke pulau Kalimantan saja, tetapi juga di wilayah lai seperti Riau dan beberapa daerah lainya.
Anehnya, selama ini, penyebab karhutla sering dikaitkan dengan masalah cuaca. 

Padahal, dilapangan banyak ditemui bukti adanya kesengajaan pembakaran hutan. Seperti adanya vidio yang tersebar di medsos adanya seseorang yang sengaja membakar lahan dengan sengaja. 
Bukan hanya itu, ada penemuan alat seperti kapak, jerigen yang digunakan oleh oknum untuk proses pembakaran. Itulah bukti bahwa karhutla itu bukan sekedar kebakaran biasa, namun ada unsur kesengajaan. Ada sebuah perusahaan besar yang mendanai itu semua. Sementara warga hanya disuruh/bekerja.

Sementara itu, pemerintah selama ini hanya berfokus untuk memadamkan apinya saja, dan seolah menutup mata. Bahkan muncul ide untuk memadamkan api dengan menggunakan tepung. Namun perlu diteliti lebih dalam, sebenarnya apa akar permasalahan yang menyebabkan karhutla terus berulang. Pemerintah seolah menutup mata 

Jika ditelaah lebih dalam, terdapat salah tata kelola. Hari ini, kita sedang berada didalam sistem kapitalisme sekuler. Yaitu sistem yang menganut kebebasan, seperti kebebasan berpendapat, berprilaku dan kebebasan beragama. Kemudian menjadikan keuntungan materi sebesar-besarnya sebagai tujuan hidup sistem ini.

Walhasil, hutan dan lahan bebas dialihfungsikan oleh para oligarki melalui ijin dari negara. Negara hanya berperan sebagai perantara/regulator. Inilah sumber malapetaka yang mengakibatkan terjadinya berbagai masalah kehidupan termasuk karhutla. Imbasnya, warga banyak yang terdampak hingga mengakibatkan kehilangan nyawa. Perusahaan hanya meraup keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memikirkan akibat dari ulahnya.

Inilah praktek privatisasi hutan yang dilakukan oleh para oligarki yang terang-terangan terjadi didalam sistem kapitalisme sekuler. Adapun penguasa hari ini tidak berperan sebagai raa'in, sehingga keadaan semakin kacau.

Berbeda dengan penguasa dalam sistem Islam. Islam menjadi pengusaha atau kepala negara sebagai raa'in, bukan regulator. Negara dalam Islam wajib mengurus rakyat dengan sebaik-baiknya, termasuk dalam menyelesaikan karhutla. Negara akan menyediakan alat dan berbagai insfratruktur yang dibutuhkan, meskipun perlu dana yang besar. Segala keperluan termasuk sandang pangan dan papan juga menjadi tanggung jawab negara. 

Dalam masalah karhutla, negara akan mengatur pengelolaan harta sesuai syariat Islam. Dimana dalam Islam, penguasa tidak boleh memberi ruang kepada pihak asing maupun swasta untuk memprivatisasi hutan untuk kepentingannya. Inilah salah satu upaya yang dilakukan oleh negara dalam mencegah terjadinya tata kelola lahan yang amburadul. 

Jadi, hutan itu bukan menjadi bancakan para pejabat maupun pengusaha demi meraih cuan. Jika ada yang melanggar, maka akan dikenakan Sanski sesuai syariat Islam. Sanksi dalam Islam akan mampu meminimalisir terjadinya berbagai tindak kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh siapapun, termasuk kepada pelaku pembakaran hutan. Karena dalam Islam, hukuman atau sanksi sangat tegas, tidak pandang bulu dan memberi efek jera.

Dari sisi perlindungan nyawa, Islam sangat menjaga nyawa manusia. Nyawa adalah sesuatu yang sangat berharga dalam Islam. Tidak boleh sedikitpun menyepelekan masalah kesehatan dan keselamatan bagi seluruh rakyat. Sehingga betul, bahwa jika seseorang membunuh, maka hukumannya sangat berat. Itu menjadi bukti bahwa Islam menjadikan penyelamatan nyawa rakyat sebagai sesuatu yang sangat diprioritaskan

Hanya saja, agar syariat Islam bisa tegak dibumi ini perlu diperjuangkan. Perjuangan yang mengikuti metode Rasulullah Saw adalah jalan harus ditempuh oleh kaum muslim hari ini. Sehingga masalah karhutla bisa diselesaikan, rakyat pun hidup tentram dan sejahtera tanpa terganggu dengan kepulan asap.

Wallahu a'lam bishawab
×
Berita Terbaru Update