Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Remaja Darurat HIV: Ancaman Serius bagi Masa Depan Generasi

Sunday, August 09, 2026 | August 09, 2026 WIB Last Updated 2026-08-09T12:00:09Z



Oleh Irmawati 

Masa remaja seharusnya menjadi masa untuk belajar, bertumbuh, dan menata masa depan. Namun, di tengah derasnya arus pergaulan dan mudahnya akses terhadap berbagai informasi, generasi muda justru menghadapi ancaman yang semakin nyata, salah satunya HIV.

Dinas Kesehatan Pemkab Sidoarjo mencatat sebanyak 7.230 orang hidup dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) berdasarkan data kumulatif sejak 2001 hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 522 orang merupakan pelajar dari jenjang PAUD hingga SMA.

Peningkatan jumlah kasus HIV yang ditemukan dari tahun ke tahun berlangsung seiring makin luasnya cakupan layanan tes HIV di berbagai faskes. Artinya, peningkatan angka temuan kasus tidak dapat dimaknai secara langsung sebagai peningkatan penularan, tapi meningkatnya efektifitas upaya deteksi dini yang dilakukan pemerintah dan mitra.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai pendidikan seksual sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah perilaku seksual berisiko yang dapat berujung pada penularan HIV/AIDS. Menurut Emil, pendidikan seksual masih kerap dianggap tabu. Padahal, edukasi tersebut diperlukan agar anak memahami risiko pergaulan bebas sejak usia dini. (Kompas, 25/07/2026)

Sumber Masalah 

Meningkatnya kasus HIV pada remaja tidak dapat dipahami semata sebagai persoalan kesehatan masyarakat. Tetapi cermin rapuhnya perlindungan terhadap generasi yang semestinya sedang dipersiapkan menjadi penerus bangsa.  ini merupakan gejala dari kerusakan sistemik yang lahir dari cara pandang kehidupan yang keliru.
Dengan menjauhkan agama dari kehidupan dan  perilaku hidup bebas tanpa aturan.

Banyak perbuatan yang di lakukan anak remaja tanpa di pikirkan lagi akibatnya, dampak yang terjadi dari perbuatan tersebut juga di anggap remeh.

Berbagai upaya telah dilakukan  oleh pemerintah untuk menangani HIV/AIDS. Mulai dari sosialisasi, deteksi dini, pendampingan pasien, hingga penyediaan obat antiretroviral (ARV). Langkah-langkah tersebut tentu penting untuk membantu penderita dan menekan risiko penularan. Akan tetapi, sebagian besar kebijakan yang dilakukan masih berfokus pada aspek hilir, yaitu penanganan setelah masalah terjadi.

Meskipun upaya deteksi dini dan edukasi kesehatan memiliki peran penting dalam penanganan HIV. Persoalan ini juga dapat dipandang dari sudut yang lebih mendasar. Jika meningkatnya kasus pada remaja berkaitan dengan perilaku berisiko, maka pembahasannya tidak cukup berhenti pada aspek medis. Perlu ada perhatian terhadap faktor pembentukan karakter, nilai, lingkungan pergaulan, dan pendidikan moral yang memengaruhi perilaku remaja.

Terlebih  dibalik meningkatnya temuan kasus HIV semata-mata merupakan hasil keberhasilan deteksi dini memang memiliki dasar dalam konteks teknis kesehatan masyarakat.

Namun, jika narasi itu kemudian menggeser perhatian dari pembenahan faktor-faktor yang mendorong perilaku berisiko, maka persoalan yang sebenarnya justru tertutupi. Tidak mungkin seseorang terinfeksi HIV tanpa adanya rangkaian perilaku yang mendahuluinya. Di sinilah akar persoalan yang seharusnya menjadi fokus utama.

Begitu juga pendidikan seksual dalam pandangan sekuler liberal biasanya lebih banyak membahas masalah biologis dan kesehatan. Misalnya, bagaimana mencegah penyakit menular seksual, mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, dan mengurangi risiko dari perilaku seksual.

Pendekatan ini beranggapan bahwa hubungan seksual di luar pernikahan akan tetap terjadi. Karena itu, yang dianggap penting adalah bagaimana mengurangi risiko dan dampak buruknya.

Di sinilah letak persoalannya. Pendidikan seksual tidak cukup hanya mengajarkan cara menghindari penyakit atau kehamilan. Anak dan remaja juga perlu dibekali dengan nilai dan batasan yang jelas agar mampu menjaga diri dari perilaku seksual yang berisiko.

Selama sekularisme dan paham kebebasan tetap menjadi fondasi kehidupan, berbagai program pencegahan hanya akan menjadi solusi tambal sulam. 

Islam Melindungi Generasi 

Sistem Islam berasal dari Allah SWT pencipta semua makhluk di bumi. Karena itu sistem ini adalah sistem yang sempurna karena mempunyai seperangkat aturan yang menyeluruh. Semua itu tampak dari berbagai hukum yang jika kafah diterapkan akan mampu tampil sebagai lapis-lapis perlindungan yang menjamin lahirnya generasi.

Penerapan Islam secara Kaffah menjadi kunci munculnya generasi terbaik yang berhasil membawa umat pada kebangkitan. Menjadikan setiap individu bertakwa melalui sistem pendidikan, menjadikan Masyarakat peduli tehadap masalah remaja, dan negara memberikan sanksi kepada para pelaku seks bebas atau perilaku seks menyimpang.

Untuk mencengah HIV pada pelajar, islam membangun sistem pergaulan sosial yang preventif, melalui sistem pergaulan dalam islam. Mengatur batasan hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Dengan menjaga pandangan, dan berpakaian syar'i untuk perempuan, yang bertujuan untuk melindungi mereka dari tindakan kemaksiatan. Serta mengatur larangan mendekati zina, bagi laki-laki dan perempuan.

Seperti firman Allah SWT dalam surah Al Isra ayat 32, yang artinya : Dan jangan lah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. Dari ayat ini sudah jelas, kalau kita di larang untuk berzina, bahkan mendekatinya saja di larang.

Untuk mengatur agar tidak terjadi zina, islam mengatur hubungan laki-laki dan perempuan itu dalam sebuah pernikahan.

Agar tercipta hungungan yang halal di mata agama dan negara. Serta memberikan sanksi uqubat bagi pelaku pelanggaran hukum syara. Yang bersifat zawajir, pencengah bagi orang lain agar tidak mencontoh dan melakukannya. Serta bersifat jawabir, sebagai penebus dosa bagi para pelaku.

Sistem pendidikan islam harus di terapkan, dengan mengintegrasikan tentang materi kesehatan reproduksi dengan ilmu fiqih pergaulan, pergaulan yg di atur sesuai dengan syariat islam, agar tercipta pergaulan sosial kehidupan yang baik.

Dan menjaga ahlak yang baik di dalam kehidupan pelajar. Sehingga pelajar memahami bahwa menjaga kesehatan organ reproduksi adalah bagian dari ibadah dan amanah dari sang khalik.

Dan agar mereka juga menyadari bahwa setiap perbuatan yang mereka lakukan, akan di mintai pertanggung jawabannya di hadapan Allah SWT.

Hal ini juga tidak lepas dari peran lingkungan masyarakat, sekolah dan negara. Keluarga sebagai madrasah pertama yang menanamkan akidah dan akhlak, masyarakat yang menjalankan amar makruf nahi mungkar sehingga kemaksiatan tidak berkembang menjadi budaya, serta negara yang berfungsi sebagai ra'in (pengurus) dan junnah (pelindung) melalui penerapan syariat secara menyeluruh sehingga seluruh pintu menuju kerusakan dapat ditutup.

Setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk tidak sekadar prihatin, tetapi juga saling menyadarkan bahwa umat membutuhkan sistem yang bersumber dari wahyu Allah Swt., sebuah sistem yang bukan hanya mampu mengobati kerusakan, tetapi juga mencegahnya sejak awal.

Maka, keprihatinan atas darurat HIV hari ini semestinya tidak berhenti menjadi berita yang berlalu begitu saja, tetapi menjadi momentum kebangkitan kesadaran umat untuk kembali memperjuangkan sistem Islam yang mampu menjaga manusia, keluarga, dan peradaban secara menyeluruh.

Wallaahu alam bish shawaab.
×
Berita Terbaru Update