Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sekolah Negeri Sepi, Butuh Sistem yang Menyolusi

Thursday, July 23, 2026 | Thursday, July 23, 2026 WIB


Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Dikutip dari cnnindonesia.com, 15-07-2026, memasuki masa awal tahun ajaran 2026/2027, sejumlah sekolah negeri di Indonesia minim mendapatkan murid baru. Meskipun minim mendapat murid baru, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tetap digelar menyambut pelajar baru tersebut sejak Senin (13/7).

Menurut Ketua DPR RI Puan Maharani, munculnya sejumlah sekolah dasar negeri yang tidak memperoleh siswa baru di berbagai daerah harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali peta layanan pendidikan dasar nasional. Ia meminta pemerintah melakukan pengecekan dan kajian lebih mendalam, apakah ini merupakan gejala umum yang terjadi secara nasional atau hanya kasuistik di beberapa daerah. Apabila kasuistik, menurutnya maka perlu ada pendekatan yang lebih khusus sesuai dengan kriteria setiap daerah (detik.com, 15-07-2026).

Jika ditelisik, adanya sejumlah SDN yang minim murid baru, bahkan ada yang tidak dapat murid sama sekali, terjadi karena beberapa sebab. Fenomena jumlah anak usia sekolah yang makin minim di antaranya dikarenakan pertumbuhan penduduk menurun, generasi menua, dan urbanisasi, pergeseran orientasi pendidikan masyarakat yang lebih memilih sekolah yang mengajarkan pendidikan agama (ibadah, mengaji, dan akhlak) karena para orangtua saat ini memiliki ketakutan yang cukup berpengaruh terkait keselamatan anaknya karena kerusakan generasi yang kian melejit. Kalaupun ada solusi dari pemerintah dengan regrouping beberapa SDN menjadi satu, tetapi ini juga sulit karena jarak sekolah jadi jauh.

Ada Sebab Ada Akibat

Dari sisi perubahan struktur demografi (penduduk menua), tentunya ini pun tidak terjadi begitu saja. Program pemerintah yang menjadikan jumlah kelahiran turun,  kegagalan kebijakan ekonomi yang membuat biaya hidup tinggi dan kesejahteraan sulit diraih membuat pasangan muda enggan punya anak. 
Begitu pula dengan urbanisasi. Kesenjangan pendapatan desa dan kota mendorong masyarakat untuk mencari yang lebih menjanjikan, dan kota menjadi pilihan. Beramai-ramai lah pendiduk desa pergi.ke kota dengan alasan mencari kehidupan yang lebih baik.

Sementara hal yang lain lagi terkait sikap orangtua yang lebih memilih sekolah yang mengajarkan agama dibandingkan sekolah negeri, telah menunjukkan kian meningkatnya kekhawatiran orangtua terhadap kerusakan generasi hari ini. Akibat sistem sekuler liberal yang meracuni semua lini kehidupan tidak terkecuali lingkungan pendidikan,  berbagai kerusakan moral hingga tindak kriminal di kalangan anak sekolah terus bermunculan. Perubahan kurikulum berulangkali pun tak mampu membendung kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem sekuler liberal ini.

Ciri khas pendidikan sekuler liberal adalah lahirnya generasi dengan berbagai sindrom. Sistem pendidikan sekuler kapitalis liberal yang berorientasi pragmatis berstandar materi, individualisme  kompetitif, dan memisahkan ilmu dengan agama, telah mewujudkan generasi minim karakter mulia, bahkan cenderun rusak. Nir ilmu, nir daya juang, nir adab tergambar pekat dari gaya hidup generasi.

Pertanyaannya. Jika hal ini terus berulang, mampukah sistem saat ini menanganinya? Atau harus ada sistem pengganti yang sangat kompatabel dan paripurna dalam menyelesaikannya?

Islam Beri Solusi Bukan Janji

Menjawab pertanyaan di atas, tentunya kita harus memahami secara rigid jawaban apa yang akan diambil agar menyolusi permasalahan yang ada. Jika saat ini sistem sekuler kapitalis liberal tak pernah memberikan jawaban yang bisa menyelesaikan problematika yang ada, dan kalaupun ada bagai gali lobang tutup lobang, masalah diatasi dengan masalah lain, maka pilihan harus jatuh pada sistem Islam.

Islam memandang pendidikan merupakan kebutuhan dasar dan pilar penting peradaban. Dalam Islam, negara bertanggung jawab menjamin ketersediaan dan pemerataan pendidikan berkualitas dan gratis bagi seluruh rakyat. Akses pendidikan tidak lagi menjadi hal yang menyulitkan rakyat. 

Dalam Islam, pendidikan dapat dimaknai sebagai proses manusia menuju kesempurnaan sebagai hamba Allah Swt.. Dalam Islam ada sosok Rasulullah Muhammad saw. yang wajib menjadi panutan (role model) seluruh peserta didik. Ini karena Allah Swt. berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sungguh engkau memiliki akhlak yang sangat agung.” (QS Al-Qalam [68]: 4).
Allah Swt. pun berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh pada diri Rasulullah saw. itu terdapat suri teladan yang baik.” (QS Al-Ahzab [33]: 21).

Keberadaan sosok panutan (role model) inilah yang menjadi salah satu ciri pembeda pendidikan Islam dengan sistem pendidikan yang lain. Karena itu dalam sistem pendidikan Islam, akidah Islam harus menjadi dasar pemikirannya. Sebabnya, tujuan inti dari sistem pendidikan Islam adalah membangun generasi yang berkepribadian Islam, selain menguasai ilmu-ilmu kehidupan seperti matematika, sains, teknologi dll.

Hasil belajar (output) pendidikan Islam akan menghasilkan peserta didik yang kukuh keimanannya dan mendalam pemikiran Islamnya (tafaqquh fiddin). Pengaruhnya (outcome) adalah keterikatan peserta didik dengan syariat Islam. Dampaknya (impact) adalah terciptanya masyarakat yang bertakwa, yang di dalamnya tegak amar makruf nahi mungkar dan tersebar luasnya dakwah Islam.

Pemikiran (fikrah) pendidikan Islam ini tidak bisa dilepaskan dari metodologi penerapan (tharîqah)-nya, yaitu sistem pemerintahan yang didasarkan pada akidah Islam. Oleh karena itu, dalam Islam, penguasa bertanggung jawab penuh atas penyelenggaraan pendidikan warganya. Bukan memunculkan kesulitan. Sebabnya, pendidikan adalah salah satu di antara banyak perkara yang wajib diurus oleh negara. Rasulullah saw. bersabda,

الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Pada masa Khilafah Islam, pendidikan Islam mengalami kecemerlangan yang luar biasa. Ini ditandai dengan tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan Islam, majelis ilmu pengetahuan, serta lahirnya ulama dan ilmuwan yang pakar dalam berbagai disiplin pengetahuan.

Beberapa lembaga pendidikan Islam kala itu antara lain, Nizhamiyah (1067—1401) di Baghdad, Al-Azhar (975—sekarang) di Mesir, Al-Qarawiyyin (859—sekarang) di Fez, Maroko, dan Sankore (989—sekarang) di Timbuktu, Mali, Afrika. Lembaga pendidikan Islam ini pun menerima para siswa dari Barat. Paus Sylvester II, sempat menimba ilmu di Universitas Al-Qarawiyyin.

Literasi warga negara Khilafah saat itu pun lebih tinggi daripada Eropa. Perpustakaan Umum Cordova (Andalusia) memiliki lebih dari 400 ribu buku. Ini termasuk jumlah yang luar biasa untuk ukuran zaman itu. Perpustakaan Al-Hakim (Andalusia) memiliki 40 ruangan yang di setiap ruangannya berisi lebih dari 18 ribu judul buku. Perpustakaan Darul Hikmah (Mesir) mengoleksi sekitar dua juta judul buku. Perpustakaan Umum Tripoli (Syam) mengoleksi lebih dari tiga juta judul buku. Perpustakaan semacam itu tersebar luas di berbagai wilayah negara Khilafah.

Pada masa Khilafah lahir banyak ulama di bidang tsaqâfah Islam. Filosofi Islam, mazjul-mâddah bir-rûh, yang mengintegrasikan belajar dan kesadaran akan perintah Allah Swt. menjadikan tsaqâfah Islam sebagai inspirasi, motivasi, dan orientasi pengembangan matematika, sains, teknologi, dan rekayasa hingga melahirkan banyak ilmuwan dan teknolog founding father disiplin ilmu pengetahuan modern.

Tsaqâfah Islam, ilmu pengetahuan yang kita pelajari, juga produk-produk industri yang kita nikmati saat ini tidak lain adalah sumbangan para ulama dan ilmuwan muslim. Mereka adalah para perintisnya. Sebut saja Ibnu Sina (pakar kedokteran), al-Khawarizmi (pakar matematika), Al-Idrisi (pakar geografi), Az-Zarqali (pakar astronomi), Ibnu al-Haitsam (pakar fisika), Jabir Ibnu Hayyan (pakar kimia), dll.

Kemajuan pendidikan pada masa keemasan peradaban Islam ini, bahkan telah terbukti menjadi rujukan peradaban lainnya. Hal tersebut antara lain diungkapkan oleh Tim Wallace-Murphy (WM) yang menerbitkan buku berjudul What Islam Did for Us: Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization (London: Watkins Publishing, 2006). Buku WM tersebut memaparkan fakta tentang transfer ilmu pengetahuan dari Dunia Islam (Khilafah) ke Dunia Barat pada Abad Pertengahan.

Disebutkan pula bahwa Barat telah berutang pada Islam dalam hal pendidikan dan sains. Utang tersebut tidak ternilai harganya dan tidak akan pernah dapat terbayarkan sampai kapan pun. Cendekiawan Barat, Montgomery Watt, menyatakan, ”Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi “dinamo”-nya, Barat bukanlah apa-apa.”

Berdasarkan gambaran di atas, tampak nyata bahwa Islam selalu menghadirkan solusi pasti, bukan hanya janji-janji. Namun untuk meyakini hal ini kesadaran masyarakat harus dinaikkan dari level ingin menyelamatkan anaknya dari bahaya kerusakan menjadi kesadaran politik bahwa kerusakan yang ada adalah kerusakan sistemik akibat penerapan sistem sekuler liberal.

Butuh dakwah yang bukan hanya sekadar dakwah. Dakwah politik urgen diaruskan di tengah umat untuk membangun kesadaran politik. Keberadaan dakwah politik harus dihidupkan agar mampu menggerakkan masyarakat untuk merubah sistem sekuler liberal menjadi sistem Islam. Dengannya permasalahan sistemik tak terkecuali masalah pendidikan yang terus berulang akan segera teratasi. 
Terwujudnya sistem Khilafah Islamiyyah akan melahirkan kegemilangan yang mampu menghapus seluruh kekhawatiran akan lahirnya generasi rusak dari mulai dasar dan selanjutnya. Masihkah kita tetap pada sistem rusak? Tentunya tidak!

Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update