Oleh
Feni Rosfiani
Aktivis
Dakwah
Nusantaranews.net, Dilansir
dari sumber Kompas.com (19/06/2026), sekelompok mahasiswa melakukan aksi
demontrasi di depan gedung MPR/DPR RI, Jakarta Pusat. Mereka terdiri dari
mahasiswa dari Universitas Trisakti, Universitas Esa Unggul, Himpunan Mahasiswa
Islam (HMI), dan Universitas Mercu Buana. Tujuan mereka berdemo itu disampaikan
dalam Tritura atau tiga tuntutan rakyat yang diantaranya menuntut pemulihan
ekonomi rakyat dengan menurunkan harga BBM, harga sembako juga pemberhentian
program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Secara
garis besarnya, mahasiswa yang melakukan aksi demo ini bukan hanya sekadar fomo
atau gaya-gayaan saja. Tetapi misi mereka adalah ingin menuntut hak-hak rakyat
yang selama ini diabaikan. Para muda-mudi ini sudah melek fakta bahwa Indonesia
khususnya sedang krisis segala-galanya. Baik itu krisis moral, krisis iman,
tapi juga krisis ekonomi yang makin nyata adanya. Mereka tergerak untuk
menyampaikan aspirasi rakyat yang memang tak bisa tersampaikan selama ini.
Rakyat diperbolehkan menyampaikan suaranya, walaupun hasilnya masih nihil.
Suara rakyat tak pernah didengar. Penguasa seakan buta dan tuli melihat segala penderitaan
yang rakyat alami saat ini. Buktinya, pada tanggal 10 Juni kemarin, rakyat
seakan diberi "surprise", tepat jam 00:00 WIB pemerintah menetapkan
harga kenaikan pertamax dari harga Rp12.300 menjadi Rp16.250. Sontak masyarakat
dibuat marah dan kesal. Bukannya harga diturunkan, ini malah sebaliknya.
Masyarakat sudah bisa membaca, jika satu barang mulai naik, maka akan
dipastikan bahan kebutuhan pokok lainnya pun akan segera menyusul mengalami
kenaikan. Hal ini akan sangat dirasakan oleh kaum menengah ke atas.
Kesengsaraan rakyat makin bertambah. Lantas mengapa ini terus terjadi?
Semua
ini terjadi akibat penguasa yang hanya mementingkan asas manfaat saja dalam
hubungan dengan rakyatnya. Bukan berdasarkan halal atau haram, tetapi jika
kebijakan yang ditetapkan memberi manfaat bagi mereka, walaupun merugikan
rakyatnya maka kebijakan akan tetap diambil. Sistem demokrasi yang katanya
"dari rakyat untuk rakyat " itu ternyata hanya sekadar slogan saja.
Pada kenyataannya, suara rakyat tak pernah digubris, selama kebijakan yang
diambil menguntungkan bagi para penguasa. Alhasil, demo besar-besaran yang
dilakukan mahasiswa diseluruh pelosok negeri pun tak akan mampu mengubah atau
membatalkan suatu kebijakan yang telah disahkan.
Berbeda
jika yang menaungi seluruh dunia ini adalah sistem yang hakiki. Sistem yang
telah terbukti selama 13 abad lamanya berjaya dan mampu memberikan
kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Sistem itu tiada lain adalah sistem Islam.
Dalam
sistem Islam, hubungan rakyat dan penguasa diatur oleh syariat sesuai yang
telah Allah SWT perintahkan dalam Al-Quran dan As-Sunah. Rakyat juga wajib taat
kepada penguasa yang menerapkan sistem Islam. Sebab, penguasa yang taat kepada
syariat, dijamin akan amanah pada setiap tugas yang telah diberikan. Tidak akan
ada kecurangan di dalamnya. Begitupun dalam menentukan sebuah kebijakan, rakyat
mempunyai hak syura (musyawarah) agar bisa mendiskusikan dalam pengambilan
kebijakan. Hasil yang diambil pun bukan karena suara terbanyak atau manfaat
bagi sebelah pihak saja, tetapi yang tidak melanggar syariat Islam dan yang
memberi kemaslahatan bagi seluruh umat tanpa terkecuali. Maka, niscaya akan
tercipta ketentraman dan kesejahteraan dalam seluruh aspek kehidupan. Sungguh
ini yang didambakan umat saat ini. Mari kita bersama-sama berdoa dan ikut serta
berjuang agar sistem Islam bisa segera kembali.
Wallahualam
bishawab.

No comments:
Post a Comment