Oleh: Suryani
London, Jum'at — Generasi Z di dunia dirundung kecemasan tentang masa depan. Ratusan juta anak muda sedang menganggur.
Fenomena ini merata di berbagai negara. Gen Z di negara maju pun sulit mendapatkan pekerjaan layak untuk menopang kehidupan mereka. Gangguan kesehatan mental mengancam kalangan remaja. Tanpa penanganan yang tepat, problem tersebut menghambat tumbuh kembang generasi penerus bangsa. Padahal, peran anak muda amat penting dalam mewujudkan visi Indonesia emas tahun 2045.
Jika dalam analisis sosio-ekonomi depresi gen Z dipicu oleh kapitalisme lanjut, maka dalam ranah politik kecemasan massal ini berakar pada krisis representasi dan disfungsi sistem pemerintahan modern. Gen Z saat ini hidup di era di mana institusi demokrasi formal mengalami pembusukan dari dalam, sementara janji-janji kesejahteraan yang di tawarkan oleh negara kian menjauh dari realitas.
Sistem pemerintahan modern yang di dominasi oleh birokrasi kaku, oligarki terselubung, dan pragmatisme telah gagal menciptakan rasa aman bagi generasi muda. Rasa cemas dan depresi mereka dipicu oleh beberapa kegagalan tata kelola pemerintahan. Pertama, defisit kepercayaan akibat korosi demokrasi, Gen Z menyaksikan bagaimana hukum dan kebijakan publik seringkali dirancang untuk kepentingan publik melainkan untuk mengamankan kekuasaan elit (oligarki).
Kedua, abainya negara terhadap hak dasar terutama untuk kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan. Banyak negara berkembang dan maju, negara perlahan mundur dari tanggung jawabnya menyediakan jaminan sosial. Ketidakmampuan pemerintah mengendalikan harga, dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi generasi muda.
Ketiga, kriminalisasi dan representasi terhadap kritik, ketika anak muda mencoba bersuara melalui ruang digital, sistem pemerintahan seringkali merespon dengan pendekatan keamanan mulai dari pasal-pasal kuret undang-undang , represi aparat di lapangan, hingga intimidasi digital. Ruang aman untuk berekspresi yang menyempit ini memicu kecemasan akut.
Kecemasan dan depresi generasi Z bukanlah kelemahan watak, melainkan vonis bersalah dari sebuah sistem generasi terhadap sistem pemerintahan yang di anggap gagal menjamin masa depan mereka. Ketika gen Z melampaui kecemasan tersebut dan memilih jalur resistensi mereka sedang mengirimkan pesan kepada penguasa, bahwa ketakutan terbesar pemerintah seharusnya bukanlah oposisi politik formal, melainkan kemarahan kolektif dari sebuh generasi yang merasa sudah tidak lagi memiliki apa pun untuk di pertaruhkan dari titik nadir kesehatan mental inilah sebuah subversi politik baru lahir.
Dalam pandangan Islam, dialektika antara depresi (kesedihan/kecemasan) dan resistensi (perlawanan terhadap ketidakadilan) bukanlah hal yang baru. Islam memandang fenomena psikologis dan sosial Gen Z ini melalui kacamata yang integratif: melihat depresi bukan sekadar kelemahan iman, dan melihat resistensi sebagai bentuk kewajiban moral untuk menegakkan keadilan.
Islam mengidentifikasi bahwa akar dari kecemasan massal ini adalah kezaliman/ketidakadilan sistemik yang dilakukan oleh pemegang kekuasaan. Dalam konteks sistem pemerintahan saat ini, Islam memandang bahwa ketika penguasa mengabaikan hak rakyat, menimbun kekayaan (oligarki), dan membungkam kebenaran, maka negara tersebut sedang memproduksi penderitaan lahir dan batin bagi warganya Di sinilah titik temu yang luar biasa antara konsep "resistensi Gen Z". Dalam pandangan Islam, fenomena "Dari Depresi Menuju Resistensi" pada Gen Z adalah potret kebangkitan kesadaran moral. Islam memvalidasi rasa sakit mereka sebagai akibat dari sistem dunia yang timpang, namun Islam memanggil mereka untuk tidak menyerah pada penyakit tersebut. Islam mendorong Gen Z untuk menjadikan kecemasan mereka sebagai kompas moral, dan mengubah kerapuhan mereka menjadi kekuatan perlawanan yang suci demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh manusia.
Wallahu’alam.

No comments:
Post a Comment