Oleh : Herra (aktivis muslimah)
Bandung - Keterlibatan perempuan di sektor perkebunan teh di kawasan Kabupaten Bandung terus diberdayakan. Mereka tak sekadar jadi pekerja semata, namun turut didorong berinovasi demi meningkatkan kesejahteraannya.
Komitmen ini tertuang dalam diskusi community development forum (CDF), Senin (25/5) yang digagas Care Indonesia. Forum ini menjadi wadah bagi pemerintah desa, manajemen perusahaan teh, pekerja termasuk pekerja perempuan dan masyarakat.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Bandung Marlan menyatakan bahkan, pemberdayaan perempuan erat kaitannya dengan peningkatan peran perempuan dalam pembangunan. Pemberdayaan perempuan merupakan proses membangun kapasitas dan memberikan akses yang setara kepada perempuan terhadap berbagai sumber daya yaitu ekonomi, politik, sosial, dan budaya.
(detikJabar Rabu, 27 Mei 2026 00:30 WIB)
Perempuan dalam sistem kapitalisme memang identik dengan pemberdayaan perempuan, karena tidak bisa dipungkiri dari segi gaji perempuan lebih murah dibanding laki - laki. Sistem sekuler pun yang mengeluarkan kebijakan tidak berdasarkan pada agama tetapi hanya berdasarkan materi. Selama itu menguntungkan bagi penguasa dan pengusaha maka akan tetap dijalankan meski bertentangan dengan fitrah manusia.
Tingginya keterlibatan perempuan sebagai pencari nafkah utama di perkebunan teh dapat dipandang sebagai indikasi bahwa sebagian laki-laki belum memperoleh akses pekerjaan, pendapatan, atau pemberdayaan ekonomi yang memadai.
Beban ganda perempuan sebagai pekerja dan pengurus rumah tangga pun dirasa berat.Kondisi ini akan berpengaruh pada ketidakseimbangan fungsi keluarga, potensi berkurangnya waktu pengasuhan anak akan menimbulkan permasalahan baru. Belum lagi tentang urusan rumah tangga yang terbengkalai karena ibu sibuk diluar rumah.
Disisi lain peran nafkah utama laki-laki berpotensi melemah. Seharusnya program pemberdayaan perkebunan lebih banyak membuka lapangan kerja produktif bagi laki-laki, pelatihan pertanian modern, pelatihan manajemen kebun, dan pelatihan kewirausahaan dan pengolahan hasil teh.
Tujuannya agar laki-laki mampu menjalankan tanggung jawab nafkah keluarga secara optimal.
Islam membolehkan perempuan bekerja, pemberdayaan perempuan dalam sistem islam hanya bersifat pendukung bukan utama. tetapi secara ideologis perannya tidak dimaksudkan untuk menggantikan kewajiban nafkah laki-laki.
Penguatan Ketahanan Keluarga dalam sistem islam pun bisa dilihat dari Keberhasilan ekonomi tidak hanya diukur dari pendapatan, tetapi juga keharmonisan rumah tangga, pendidikan anak dan pengasuhan berlandaskan islam,
Islam tidak memandang laki-laki dan perempuan sebagai pihak yang saling bersaing, melainkan saling melengkapi.
Laki-laki berperan sebagai penanggung jawab nafkah utama.
Perempuan dapat berkontribusi dalam ekonomi sesuai kemampuan dan kondisi.
Keduanya bekerja sama mewujudkan kesejahteraan keluarga.
Negara akan fokus pada penyediaan lapangan kerja bagi laki - laki sehingga para suami akan menjalankan perannya sebagai pencari mafkah sesuai fungsi yang diberikan oleh Allah.
Dengan mengembalikan fungsi suami dan istei sesuai fitrahnya akan menghantarkan pada keseimbangan keluarga. Tentu ini harus ada dukungan dari negara yang membuat kebijakan dan lapangan kerja bagi para suami.
Maka sudah saatnya kita kembali kepada hukum berladaskan pada aturan Allah.
Yaitu sistem islam seperti yang sudah dicontohkan oleh Allah SWT.
Wallhualam bishowab.

No comments:
Post a Comment