Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mencari Ruang Aman yang Hilang bagi Anak

Thursday, June 11, 2026 | Thursday, June 11, 2026 WIB




Oleh: Khodijah Ummu Hannan 


Ku tak meminta dilahirkan ke dunia ini. Lalu apa salahku hingga harus menerima bentakan, luka bahkan siksaan?

Aku hanya ingin dipeluk, bukan dijadikan tempat pelampiasan amarah. Ketika aku menangis aku ingin didengar bukan dibungkam dengan kekerasan. Ironisnya, banyak anak yang ketakutan di ruang yang seharusnya memberikan kenyamanan bagi mereka.


Kasus kekerasan terhadap anak terus bergulir setiap saat dalam berbagai  bentuk. Baik di rumah, di luar rumah, bahkan di dunia maya. Ruang aman bagi anak, menjadi sesuatu yang sulit didapatkan.


Seperti yang  diwartakan kpai.co.id (18/3/2026), sepanjang periode Januari-April 2026 sebanyak 426 kasus pengaduan, pengasuhan bermasalah menjadi kasus yang mendominasi. Selain masalah lainnya seperti kekerasan fisik dan psikis kejahatan seksual pada anak, hingga ancaman konten digital berbahaya.


Semua ini menjadi alarm bahwa kekerasan terhadap anak bukan sebatas  kasus individu. Tetapi adanya kegagalan sistem, untuk menghadirkan lingkungan aman bagi mereka. Mengapa kasusnya terus berulang dan tak pernah usai? Hal yang dicari  bukan sekedar siapa pelakunya, tapi apa yang keliru sehingga kekerasan anak terus berulang.


Mengurai Kekerasan Terhadap Anak


Berbagai kasus kekerasan yang menimpa anak, menunjukkan persoalan ini bukan sekedar kesalahan individu. Melainkan ada masalah yang melatarbelakanginya. Supaya menemukan solusi yang hakiki maka kita harus mengurai dulu penyebabnya.


Penyebab utamanya adalah, penerapan sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan sehingga keimanan tidak lagi menjadi benteng individu dan keluarga. Keberlimpahan materi menjadi orientasi hidup, sehingga hidupnya difokuskan untuk mengejarnya. Maka, anak pun menjadi korban dan tak lagi dipandang sebagai amanah dari Allah.


Selain itu, taraf perekonomian rakyat semakin menurun. Hal ini diperparah dengan harga kebutuhan semakin meroket. Kemiskinan dan kesenjangan sosial yang  semakin menganga, memicu kekerasan dalam rumah tangga. Anak pun sering menjadi korban kekerasan akibat tekanan hidup. Semua ini  bermula dari diterapkannya sistem ekonomi kapitalis yang menggigit.


Dilansir dari kompasiana.com (2/6/2026), ditemukannya banyak kasus eksploitasi terhadap anak  yang dipaksa bekerja di berbagai daerah seperti Lampung, Makassar dan Medan. Penyebabnya, karena orang tua mereka terhimpit secara ekonomi. Maka anak menjadi korban. Bahkan ada seorang ibu di Jeneponto Sulsel tega menjual bayinya yang baru berusia tiga bulan dengan alasan desakan ekonomi (youtobe beritasatu).


Inilah salah satu bukti kegagalan negara kapitalisme menjadi pelindung, pelayan dan ketidakberdayaannya mengurusi rakyatnya termasuk anak-anak. Kalaupun ada upaya penanganan masih bersifat parsial tanpa menyentuh akar permasalahan.


Penyebab selanjutnya adalah sanksi bagi pelaku kekerasan terhadap anak, tidak memberikan efek jera sehingga kasus terus berulang. Aturan sanksi berpedoman pada  pasal 80. UU Nomor 35 tahun 2014. UU perlindungan Anak dengan ancaman maksimal 3.5 tahun-15 tahun dan denda hingga 3 miliar. Tergantung pada tingkat keparahan dampak (luka, luka berat, atau meninggal).


Islam Memberi Solusi


Ketika sudah diketahui akar permasalahannya, maka kita  harus segera mencari solusinya. Supaya kasus kekerasan terhadap anak bisa terselesaikan. Islam sebagai agama dan ideologi sesungguhnya sudah memiliki seperangkat aturan yang komprehensif. Termasuk dalam permasalahan ini.


Siapa sebenarnya yang bertanggungjawab terhadap anak? Tentulah orang tuanya, maka Allah telah mengingatkan dalam surat At-Tahrim ayat 6 "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka....". Islam menjadikan akidah sebagai fondasi keluarga sehingga keimanan menjadi benteng pertama. 


Orang tua yang memahami Islam akan memandang anak sebagai amanah yang wajib dijaga. Islam juga memiliki sistem ekonomi yang khas, negara akan memberikan jaminan kebutuhan pokok atas setiap individu. Supaya ekonomi keluarga kuat, negara berperan aktif memfasilitasi kemandirian untuk para laki-laki sebagai kepala keluarga dengan memberikan lapangan pekerjaan  maupun penyediaan modal usaha. 


Rasulullah telah memberi teladan untuk kita, ketika beliau didatangi oleh seseorang laki-laki  Anshar menganggur, beliau tidak langsung memberikan bantuan  cuma-cuma, melainkan memberikan modal alat usaha (kapak), sambil bersabda  "Pergilah, carilah kayu bakar dan juallah. Dan aku tidak ingin melihatmu lagi selama lima belas hari" (HR. Abu Dawud).


Ketika nafkah sudah tercukupi dengan baik, maka impitan ekonomi tak lagi menghantui. Dengan begitu  para ibu akan fokus dengan perannya sebagai pengatur rumah tangga dan sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Sehingga anak mendapatkan limpahan kasih sayang dan pendidikan yang baik.


Negara Islam hadir sebagai pengurus (raa'in) dan pelindung (junnah). Terkait kekerasan anak ini, maka negara akan menutup kerusakan dari pangkalnya, yaitu dengan membangun pemahaman Islam yang benar di tengah umat, melalui penerapan sistem pendidikan berbasis akidah Islam yang akan melahirkan anak didik yang memiliki kepribadian Islam yang  mahir dalam ilmu dunia dan teknologi.


Negara juga akan melakukan pengawasan terhadap media agar tidak menayangkan konten-konten yang dapat merusak akidah dan membahayakan rakyatnya. Terakhir,  Islam dilengkapi sistem sanksi (uqubat) tegas yang berfungsi sebagai penebus (jawabir) dan pencegah (Zawajir).


Ketika pelaku melakukan pelecehan seksual maka Islam punya aturan liwat bagi kaum sodom, jilid dan rajam bagi penzina. Ataupun hukum tazir yang akan ditetapkan oleh qadhi berdasarkan syariat. Semua sanksi tersebut akan membuat efek jera dan memutus rantai kejahatan.


Penutup 


Menyelamatkan generasi masa depan memerlukan sinergi yang utuh antara ketahanan akidah keluarga, jaminan kesejahteraan dari sistem ekonomi yang adil, serta ketegasan sanksi hukum dari negara. Islam telah menyediakan semua perangkat komprehensif tersebut. Sudah saatnya kita meninggalkan sistem kapitalisme yang terbukti gagal melindungi anak-anak kita, dan kembali pada aturan Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update