Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

In This Economy”: Ketika Dompet Menipis, Islam Mengajarkan Cara Bertahan dan Berjuang

Thursday, June 11, 2026 | Thursday, June 11, 2026 WIB


Oleh : Eka Sulistya
(Aktivis Muslimah) 


"In this economy..." menjadi kalimat yang sering muncul di media sosial ketika seseorang membahas harga kebutuhan pokok yang naik, biaya hidup yang semakin tinggi, atau penghasilan yang terasa tidak lagi cukup. Kalimat ini memang terdengar seperti candaan, tetapi di baliknya tersimpan kegelisahan yang nyata.

Hari ini, banyak keluarga harus berpikir dua kali bahkan berkali-kali sebelum berbelanja. Harga bahan pangan mengalami kenaikan, biaya pendidikan terus bertambah, sementara peluang kerja yang layak tidak selalu mudah didapatkan. Sebagian orang bahkan merasa bahwa bekerja lebih keras tidak selalu berbanding lurus dengan meningkatnya kesejahteraan.


Fakta yang terjadi kondisi ekonomi global yang tidak stabil berdampak pada banyak negara, termasuk Indonesia. Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar membuat harga barang impor menjadi lebih mahal. Kenaikan biaya produksi kemudian berimbas pada harga barang yang dibeli masyarakat.Di tingkat rumah tangga, masyarakat mulai merasakan dampaknya secara langsung. Ukuran produk semakin kecil, harga kebutuhan pokok meningkat, dan daya beli masyarakat mengalami berbagai tekanan. Tidak sedikit pelaku usaha kecil yang harus mengurangi produksi karena biaya operasional yang terus naik.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan ekonomi bukan sekadar masalah individu yang kurang bekerja keras atau kurang berhemat. Ada faktor sistemik yang memengaruhi kehidupan masyarakat secara luas.



Islam memandang ekonomi bukan sekadar persoalan angka, pertumbuhan, atau keuntungan. Ekonomi dalam Islam berkaitan erat dengan kesejahteraan manusia dan pemenuhan kebutuhan hidup secara adil.

Ketika kesenjangan ekonomi semakin lebar, sebagian kecil orang menguasai kekayaan dalam jumlah besar sementara banyak masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, Islam melihat hal tersebut sebagai persoalan yang harus diselesaikan.


Di sisi lain, Islam juga mengingatkan bahwa ujian ekonomi tidak boleh membuat seorang Muslim kehilangan arah. Kesulitan hidup bukan alasan untuk menghalalkan segala cara, seperti korupsi, riba, penipuan, ataupun praktik ekonomi yang merugikan orang lain.Namun, Islam juga tidak mengajarkan sikap pasif. Kesabaran bukan berarti diam menerima keadaan tanpa usaha. Kesabaran dalam Islam adalah tetap taat kepada Allah sambil terus berikhtiar memperbaiki keadaan.


Karena itu, ketika masyarakat mengeluhkan kondisi ekonomi, persoalannya bukan semata-mata kurang sabar. Banyak orang sudah bekerja keras, berhemat, bahkan mengambil pekerjaan tambahan. Yang mereka rasakan adalah tekanan dari kondisi ekonomi yang memang semakin berat.


Solusi dalam pandangan Islam untuk bisa bertahan dan berjuang dalam menghadapi situasi "in this economy"

Pertama, memperkuat ketakwaan individu. Seorang Muslim harus tetap menjaga kejujuran, amanah, dan menjauhi praktik yang diharamkan meskipun berada dalam tekanan ekonomi. Keberkahan rezeki tidak hanya ditentukan oleh jumlahnya, tetapi juga oleh cara memperolehnya.


Kedua, menguatkan solidaritas sosial. Islam tidak membiarkan seseorang menghadapi kesulitan sendirian. Zakat, infak, sedekah, dan wakaf merupakan instrumen yang dirancang untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Ketika kepedulian sosial hidup, beban ekonomi dapat dirasakan dan ditanggung bersama.


Ketiga, mendorong terciptanya sistem ekonomi yang adil. Islam menolak praktik yang menyebabkan penumpukan kekayaan pada segelintir pihak dan mendorong distribusi yang lebih merata. Kebijakan ekonomi seharusnya berpihak pada pemenuhan kebutuhan masyarakat, bukan hanya mengejar keuntungan segelintir kelompok saja. 


Keempat, membangun optimisme dan ketahanan mental. Kondisi ekonomi memang dapat berubah, tetapi seorang Muslim tidak boleh kehilangan harapan. Keyakinan bahwa Allah adalah Ar-Razzaq, Sang Maha Pemberi Rezeki, akan menjaga hati tetap tenang di tengah ketidakpastian.


"In this economy" bukan sekadar ungkapan keluhan generasi hari ini. Ia adalah cermin dari kegelisahan banyak orang yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.

Islam mengajarkan bahwa persoalan ekonomi harus dilihat secara utuh. Ada tanggung jawab individu untuk bertakwa dan bekerja keras, ada tanggung jawab masyarakat untuk saling membantu, dan ada kebutuhan akan sistem yang mampu menghadirkan keadilan.

Karena itu, menghadapi kondisi ekonomi yang sulit tidak cukup hanya dengan mengatakan, "yang penting sabar." Kesabaran memang penting, tetapi ia harus berjalan bersama ikhtiar, kepedulian sosial, dan perjuangan menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi semua.

Sebab dalam Islam, bertahan adalah ibadah, dan memperjuangkan keadilan adalah bagian dari ketakwaan.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update