Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perang AS-Iran, Kesatuan Negeri-negeri Islam Mampu Mengalahkan Hegemoni Global

Saturday, April 25, 2026 | Saturday, April 25, 2026 WIB Last Updated 2026-04-24T23:59:47Z



Oleh Ruri R 

Pegiat Dakwah

Konflik yang terjadi antara AS-Iran sampai saat ini memang belum berakhir. Walaupun Iran sudah menyatakan kemenangan atas perlawanannya yang begitu berani, tetapi hal tersebut tidak menjamin persoalan mereka selesai. Di sisi lain, secara terbuka di depan dunia, pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa negaranya telah meraih kemenangan dalam persaingan geopolitik melawan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan tersebut disampaikannya di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. 

Mojtaba menegaskan bahwa strategi perlawanan yang dijalankan Iran mampu melemahkan dominasi Barat beserta sekutunya, sekaligus memperkuat posisi Iran dalam kancah global. Hal tersebut dinilai sebagai ketahanan Iran dalam menghadapi tekanan internasional telah menjadikannya inspirasi bagi banyak negara di dunia. Ia juga menyampaikan bahwa Iran telah membuktikan kekuatan iman dan kemandirian yang dapat mengungguli kekuatan material. Ia pun menilai bahwa kegagalan sanksi dan tekanan militer dari AS dan Israel menunjukkan adanya perubahan dalam peta kekuatan dunia.

Sampai saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Washington maupun Tel Aviv. Namun, para analis memandang pernyataan tersebut sebagai upaya Iran untuk memperkuat narasi dalam negeri mengenai keberhasilan kebijakan luar negerinya di tengah kondisi isolasi ekonomi yang masih berlangsung. (mediaindonesia.com, Jum'at 10/04/2026) 

Konflik Terjadi Akibat Sistem Sekuler Saat Ini

Tindakan Amerika Serikat terhadap Iran dipandang sebagai kelanjutan dari pola intervensi dan dominasi yang sebelumnya terjadi di berbagai wilayah Muslim, seperti Palestina, Irak, Afghanistan, Suriah, dan Yaman. Dalam pandangan ini, pihak yang dianggap memusuhi Islam tidak melihat perbedaan sekte atau batas negara, melainkan menargetkan umat secara keseluruhan untuk dilemahkan dan dikendalikan.

Iran dinilai mampu merespons tekanan militer karena memiliki sistem politik yang memadukan bentuk republik dengan kepemimpinan religius, di mana pemimpin tertinggi memegang kendali penting atas kebijakan strategis, termasuk militer dan hubungan luar negeri. Meskipun terdapat gencatan senjata antara Iran dan AS, isi kesepakatan tersebut dianggap tidak menyentuh isu Palestina dan Gaza. Iran dinilai lebih mengutamakan kepentingan nasionalnya, seperti pencabutan sanksi ekonomi dan pengembangan teknologi nuklir, sehingga dianggap belum sepenuhnya mewakili kepentingan umat Islam secara luas.

Adapun, peran sebagian pemimpin negara Muslim yang mengajukan inisiatif perdamaian, yaitu langkah-langkah seperti penundaan konflik, pembukaan jalur strategis, dan ajakan perundingan dipandang bukan sebagai upaya menghentikan ketidakadilan. Hal itu justru sebagai cara untuk menjaga kepentingan kekuatan besar yang sedang tertekan. Sejatinya, prioritas utama adalah stabilitas kekuatan besar, sementara umat tetap menjadi pihak yang menanggung dampak konflik.

Dengan demikian, pengalaman di Afghanistan dijadikan bukti bahwa ketika Amerika Serikat mengalami kegagalan secara militer, ada pihak yang membantu mereka keluar dari situasi tersebut tanpa kehilangan citra. Kekalahan yang terjadi justru dikemas menjadi seolah-olah sebuah kesepakatan damai. Dalam pandangan ini, peran tersebut dilakukan oleh sebagian penguasa dari negeri-negeri Muslim. Peristiwa yang terjadi saat ini dinilai bukan kejadian kebetulan, melainkan bagian dari pola yang terus berulang.

Maka itu, tindakan para penguasa itu lebih bertujuan menjaga dominasi Amerika dan menyelamatkan reputasi kekuatan besar yang mulai melemah. Sementara itu, umat Islam tetap menjadi pihak yang menanggung dampak penderitaan. Padahal, sebenarnya umat Islam memiliki potensi kekuatan yang sangat besar dan tersebar di berbagai belahan dunia. Kekuatan ini meliputi kemampuan militer di sejumlah negara Muslim, kekayaan sumber daya alam, terutama minyak dan gas yang porsinya cukup signifikan dalam skala global, serta posisi geografis yang sangat strategis di jalur perdagangan internasional, seperti di kawasan Timur Tengah dan jalur-jalur penting lainnya.

Namun, potensi besar tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara optimal untuk membela kepentingan Islam dan kaum Muslim. Sebaliknya, kekuatan itu justru dianggap lebih banyak digunakan untuk mendukung stabilitas tatanan global yang didominasi oleh kekuatan besar seperti Amerika Serikat.

Faktanya, masalah utama umat bukan terletak pada kurangnya sumber daya atau kekuatan, melainkan pada tidak adanya kepemimpinan yang mampu menyatukan. Sejak runtuhnya institusi politik Islam global, umat Islam dipandang terpecah ke dalam banyak negara-bangsa yang lemah dan saling bergantung pada kepentingan asing.

Solusi Islam

Dominasi Barat atas negeri-negeri Muslim masih terus berlangsung hingga saat ini. Hal itu dinilai sebagai akibat dari perpecahan umat dalam batas-batas nasionalisme yang sempit. Karena itu, umat Islam dipandang perlu bersatu dan bangkit dengan memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki untuk menghadapi kondisi tersebut.

Di sisi lain, kebangkitan sejati tidak berasal dari pemimpin yang tunduk pada kekuatan luar, melainkan dari kesadaran umat itu sendiri. Umat Islam di seluruh dunia diingatkan bahwa permasalahan utama bukan terletak pada kurangnya kekuatan, melainkan pada tidak adanya kesatuan visi dan arah. Apabila seluruh potensi, baik militer, ekonomi, maupun politik dapat disatukan dalam satu kepemimpinan global yang mandiri, maka posisi umat dalam percaturan dunia akan berubah secara signifikan, dari yang sebelumnya hanya menjadi objek menjadi pihak yang berperan menentukan arah.

Oleh karena itu, pola lama harus dihentikan. Selama umat masih bergantung pada penguasa yang terikat kepentingan asing, maka penderitaan akan terus berulang. Sebaliknya, perubahan nyata akan mulai terjadi ketika umat menyadari bahwa kemuliaan tidak bisa diraih melalui ketergantungan, melainkan melalui kemandirian dan persatuan.

Salah satu agenda penting bagi umat Islam di seluruh dunia adalah menyatukan potensi negeri-negeri Muslim dalam satu kekuatan politik melalui institusi pemerintahan Islam global. Institusi ini dipandang sebagai pelindung, penjaga, sekaligus pemersatu arah perjuangan umat Islam secara keseluruhan.

Selain itu, sejarah menunjukkan bahwa ketika umat Islam berada dalam satu kepemimpinan di bawah khalifah, mereka merasakan perlindungan dan keamanan, karena peran khalifah adalah sebagai pelindung umat dan penjaga agama, sebagaimana juga dijelaskan dalam hadis Rasulullah saw., “Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai; kaum Muslim berperang di belakangnya dan berlindung kepada dirinya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Islam bukan hanya gagasan politik, tetapi dianggap sebagai kewajiban dalam syariat yang berkaitan dengan masa depan dan kemuliaan umat. Umat Islam diyakini akan kembali menjadi umat terbaik jika memiliki kepemimpinan global yang kuat. Sebaliknya, tanpa adanya institusi tersebut, umat dinilai akan terus berada dalam kondisi lemah dan tertindas. Oleh karena itu, kemuliaan umat (‘izzah) yang telah hilang dianggap hanya dapat kembali melalui tegaknya kembali kepemimpinan Islam global tersebut.

Wallaahu a’lam bi ash-shawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update