Oleh Irmawati
Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang baru saja berlangsung. Antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel benar-benar memberikan pelajaran sejarah yang sangat berharga bagi seluruh dunia.
Bagaimana tidak, selama puluhan tahun, dibayangan dunia kekuatan AS dan Israel sebagai negara adikuasa. Negara yang tak terkalahkan. Namun, ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Hanya untuk menghadapi satu negara muslim saja tidak mampu memberikan kemenangan.
Dilansir dalam media Indonesia (10/04/2026), bahwa pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, secara terbuka menggaungkan klaim kemenangan negaranya. Dalam persaingan geopolitik melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Iran mengumumkan kemenangan dengan menyebutkan "kekalahan bersejarah dan telak" bagi Amerika Serikat dan rezim Israel setelah 40 hari perang, setelah AS mengumumkan terpaksa menerima proposal 10 poin dari Iran yang mencakup gencatan senjata permanen, pencabutan semua sanksi, dan penarikan pasukan tempur AS dari kawasan tersebut. (Viva Insaight, 08/04/2026)
Mojtaba juga menekankan bahwa strategi "perlawanan" yang diusung Iran berhasil mematahkan dominasi Barat dan sekutunya, sekaligus memperkuat posisi tawar Iran di panggung global.
Kepentingan Di Atas Segalanya
Dibalik fakta Amerika dan Israel yang tidak mampu menundukan Iran dengan mudah. Ini membuktikan bahwa mitos kekuatan absolut negara adidaya mulai retak. Dominasi global yang selama ini ditampilkan ternyata memiliki batas.
Terlebih, Amerika Serikat tidak mampu memaksa semua sekutunya untuk terlibat. Ini menunjukkan bahwa aliansi global hanyalah rapuh dan penuh perhitungan untung-rugi.
Karena Di balik slogan “perdamaian”, faktanya hanyalah kepentingan dan penjajahan semata. Dukungan hanya datang jika menguntungkan. Tidak ada kawan sejati dalam politik global. ini terbukti dengan Sekutu bisa ditinggalkan dan janji bisa diingkari.
Tidak ada negara yang bersekutu secara permanen, kecuali ada kepentingan. Negeri muslim yang berkomplotan dengan AS beserta para sekutunya, khususnya para pemimpin Arab yang tanpa malu dan memilih loyal dengan AS, hingga mau bersekutu hanya demi melanggengkan kepentingan mereka di dalam kursi kekuasaan-Nya.
Potensi Kekuatan Umat Islam
Umat Islam sejatinya punya potensi kekuatan untuk melawan hegemoni kapitalisme global. Umat Islam punya potensi ideologi, kekayaan alam, kemampuan SDM, bahkan potensi teknologi yang bisa dioptimalkan menjadi kekuatan untuk mengalahkan musuh islam.
Ironisnya, yang melemahkan umat bukan hanya musuh di luar. Tetapi, Penguasa yang tunduk pada Barat, Pemimpin yang menjual negeri sendiri serta Elit yang lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan kehormatan umat.
Sementara itu, apabila Minyak Timur Tengah bersatu. Jalur perdagangan dunia dikuasai negeri Muslim dan 1,8 miliar Muslim bergerak dalam satu komando. Maka dunia akan berubah total.
Sayangnya umat hari ini justru dipecah dengan nasionalisme. Dibenturkan satu sama lain. Lebih dari itu, Umat Dijauhkan dari persatuan sejati.
Solusi Islam: Jalan Mengakhiri Hegemoni
Islam tidak hanya menawarkan nilai, tetapi sebuah sistem kehidupan (ideologi) yang memiliki seperangkat aturan untuk mengatur politik, ekonomi, militer, dan hubungan internasional. Karena itu, solusi Islam bukan tambal sulam dalam sistem yang ada, melainkan perubahan mendasar (taghyir) terhadap sistem yang mendominasi umat hari ini.
Allah SWT berfirman:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)
Ayat ini bukan sekadar seruan moral, tetapi perintah untuk membangun kesatuan politik umat di bawah satu ikatan aqidah. Persatuan dalam Islam bukan simbolik, tetapi terwujud dalam satu kepemimpinan yang menyatukan arah dan kekuatan umat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Imam (pemimpin) itu adalah perisai, yang di belakangnya kaum Muslim berperang dan berlindung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa eksistensi kepemimpinan Islam bukan hanya administratif, tetapi strategis dan protektif dalam menjaga umat dari dominasi dan agresi asing.
Maka, solusi ideologis Islam untuk mengakhiri hegemoni global adalah:
Pertama, menegakkan kembali kepemimpinan Islam yang menyatukan umat (Khilafah) sebagai institusi politik yang menerapkan syariat secara kaffah, sehingga keputusan tidak tunduk pada tekanan Barat.
Kedua, menyatukan negeri-negeri Muslim dalam satu visi politik global, bukan dalam batas nasionalisme yang diwariskan kolonialisme.
Ketiga, mengelola sumber daya alam sebagai milik umum (milkiyah ‘ammah) yang wajib dikelola negara untuk kepentingan umat, bukan diserahkan kepada korporasi global.
Keempat, membangun kekuatan militer sebagai alat perlindungan dan pembebasan, bukan sekadar pertahanan pasif yang bergantung pada aliansi asing.
Kelima, menerapkan sistem ekonomi Islam yang bebas dari riba dan dominasi kapitalisme, sehingga kemandirian ekonomi umat benar-benar terwujud.
Keenam, menyatukan arah politik luar negeri umat Islam, menjadikan dunia Islam sebagai satu kekuatan independen yang tidak bisa didikte oleh kekuatan global manapun.
Dengan penerapan solusi ini, persatuan umat bukan lagi sekadar retorika, tetapi menjadi kekuatan ukat yang nyata. Inilah jalan yang secara mendasar mampu mengakhiri hegemoni global dan menggantinya dengan tatanan dunia yang berkeadilan di bawah naungan Islam.
Wallahu A'lam

No comments:
Post a Comment