Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mudik Lebaran: Tradisi Hangat Dibayangi Tragedi Berulang

Friday, April 10, 2026 | Friday, April 10, 2026 WIB Last Updated 2026-04-10T14:02:15Z

.



Oleh: Sujilah

Pegiat Literasi


Mudik lebaran  adalah salah satu tradisi paling dinanti oleh masyarakat Indonesia. Setiap tahun, jutaan orang berbondong-bondong pulang ke kampung halaman demi berkumpul di hari raya bersama keluarga tercinta. Momen ini menjadi simbol kebahagiaan, kerinduan yang terbayar, serta eratnya hubungan kekeluargaan yang mungkin lama terpisah oleh jarak dan kesibukan. 


Namun di balik kehangatan itu, mudik juga menyimpan sisi kelam yang seolah menjadi “ritual tahunan” yang tak pernah usai: tragedi di perjalanan. Setiap tahun, berita kecelakaan lalu lintas selalu menghiasi masa arus mudik dan arus balik. Jalanan yang padat, kelelahan pengemudi, kendaraan yang tidak layak jalan, hingga kurangnya kesadaran akan keselamatan menjadi faktor utama penyebabnya. Tak sedikit keluarga yang awalnya ingin berkumpul dengan bahagia, justru harus menghadapi duka sebelum sempat sampai tujuan.


Ironisnya, tragedi ini terus berulang. Seakan menjadi hal yang “biasa”, padahal setiap angka korban adalah nyawa,  cerita, dan di baliknya ada keluarga yang kehilangan. Banyak orang masih meremehkan pentingnya istirahat saat berkendara, memaksakan perjalanan panjang tanpa jeda, atau mengabaikan aturan lalu lintas demi cepat sampai.


Mudik seharusnya menjadi perjalanan yang penuh makna, bukan perlombaan. Lebih baik terlambat sampai dari pada tidak sampai sama sekali. Keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama.

Satu di antaranya, berdasarkan berita, lebih dari 190 ribu kendaraan melintasi jalur selatan Nagreg pada arus mudik tahun ini. Antrean kendaraan hingga mencapai lima kilometer. (Metronews.com, 19-03-2026)


Bukan hanya kemacetan, kecelakaan lalu lintas juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari musim mudik. Data korlantas juga menunjukkan bahwa di tahun 2026 angka kecelakaan meningkat dibanding dengan tahun sebelumnya. Semua fakta-fakta ini menunjukkan bahwa tidak ada keseriusan dari pemerintah untuk mengatasi persoalan kemacetan dan kecelakaan yang terus berulang  setiap musim mudik. Kadang kebijakan yang diambil cenderung bersifat sementara seperti one way (jalan searah) dan contra flow (pembatasan kendaraan). Semua ini tidak menyentuh akar persoalan, akibatnya masalah yang sama muncul lagi setiap tahun dengan pola yang hampir identik.


Permasalahan mudik salah satunya sangat berhubungan erat dengan minimnya layanan transportasi massal yang nyaman dan murah. Hal ini yang menjadikan kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor sebagai pilihan saat mudik lebaran. Akibatnya, jumlah kendaraan di jalan meningkat drastis dan melampaui kapasitas jalan yang tersedia, sehingga masalah kemacetan berulang. Di samping  itu, banyak kondisi jalan rusak yang  menyebabkan kecelakaan kerap terjadi.


Negara dalam sistem kapitalisme tampak tidak berhasil mewujudkan fungsi raa’in untuk mengurusi rakyat. Negara dalam hal ini abai menjamin keselamatan rakyat. Dalam sistem sekuler-kapitalistik ini, pembangunan infrastruktur hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, bukan pada kebutuhan masyarakat secara menyeluruh. Semua ini terlihat dari mahalnya tarif transportasi umum tertentu, keterbatasan akses di daerah, serta ketimpangan pembangunan infrastruktur antar wilayah. Hingga akhirnya masyarakat  harus menanggung sendiri semua risiko yang ada, bahkan risiko nyawa sekalipun.


Berbeda dengan negeri yang diatur dengan syariat Islam dalam mengurusi rakyat dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Negara  menyediakan layanan transportasi massal yang aman, nyaman, dan murah dengan jumlah yang mencukupi. Negara memperbaiki jalan yang rusak sehingga aman bagi pengguna jalan.


Dalam Islam, fasilitas umum seperti jalan bukan sekadar proyek, tapi amanah. Maka jalan  tidak boleh dibiarkan berlarut-larut rusak dan harus cepat diperbaiki, karena merupakan kebutuhan rakyat. Negara juga harus cepat bertindak sebelum mudik tiba, memastikan pengawasan agar tidak ada kelalaian  dalam pelayanan publik.


Negara juga akan menyediakan layanan transportasi yang memadai dan berkualitas. Pembangunan jalan menjadi prioritas utama agar tidak tidak terjadi kecelakaan. Dengan demikian masalah kemacetan dan kecelakaan saat mudik tidak hanya ditangani di permukaan, tetapi diselesaikan hingga ke akarnya. Negara benar-benar hadir sebagai pelindung rakyat, bukan sekadar pengatur lalu lintas.


Dalam sistem Islam, mudik yang aman bukan sekadar harapan, tetapi kewajiban negara.  Sebab keselamatan jiwa adalah salah satu amanah yang harus dijaga. Pemerintah berposisi sebagai pemegang amanah dan pemikul tanggung jawab yang besar. Kegagalan dalam menyediakan layanan publik yang tidak aman berarti merupakan kelalaian. Sebab dalam Islam, pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.


Seperti sabda Rasulullah saw., “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Arus mudik seharusnya menjadi perjalanan penuh kebahagian, bukan malah tragedi. Tanpa pembenahan menyeluruh dari infrastruktur, regulasi, hingga orientasi kebijakan, semuanya akan menyisakan masalah setiap musim mudik tahunan. Hanya dengan pengaturan yang benar yakni penerapan syariat Islam yang menyeluruh, mudik pun menjadi momen yang aman, nyaman dan penuh dengan kehangatan. Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update