Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Miskinnya Adab Terlahir Dari Sistem Pendidikan Sekulerisme.

Saturday, April 25, 2026 | Saturday, April 25, 2026 WIB Last Updated 2026-04-25T04:44:00Z

 


 

Oleh: Emy (Ibu rumah tangga).



detikjabar. Bandung- Peristiwa memprihatinkan kembali mencoreng dunia pendidikan. Sebuah Vidio yang viral di media sosial memprihatinkan, sejumlah siswa menunjukan sikap tidak pantas terhadap seorang guru dalam ruang kelas. Dalam rekaman tersebut, para siswa terlihat mengejek hingga melakukan gerstur acungan jari tengah yang dinilai melecehkan sosok yang seharusnya dihormati. Informasi yang dihimpun, kejadian itu terjadi di SMA 1 Purwakarta. Aksi para siswa tersebut menuai kecaman luas Karna dinilai mencerminkan krisis etika dan penghinaan terhadap guru di lingkungan sekolah.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi langsung merespons kejadian tersebut. Ia mengaku prihatin dan telah menerima laporan lengkap dari Dinas Pendidikan terkait kejadian tersebut. "Saya cukup prihatin dengan peristiwa tersebut dan kronologinya saya sudah mendengar paparan dari Dinas Pendidikan," kata Dedi dalam keterangannya, Sabtu (18/4/2026). 


Dedi menuturkan, orang tua dari para siswa telah dipanggil ke sekolah. Pihak sekolah sendiri telah mengambil langkah awal dengan menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari kepada siswa yang terlibat. Tapi saya memberikan saran anak itu tidak skorsing selama 19 hari, ini saran mudah-mudahan bisa digunakan. Tapi diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu setiap hari dan membersihkan toilet," tegasnya. Menurut Dedi, hukuman berbasis aktivitas sosial dan tanggung jawab justru lebih efektif dalam menanamkan nilai disiplin dan rasa hormat." Ini yang saya rasakan, waktunya bisa 1 bulan, 2 bulan,3 bulan tergantung perkembangan siswa." Prinsip dasar setiap hukuman yang diberikan harus memberikan manfaat dalam pembentukan karakter bagaimanapun itu adalah anak yang perlu dibimbing oleh orang tua dan gurunya," pungkasnya.


Pada saat ini, kasus konflik yang terjadi antara guru dan murid kerap terjadi. Tentu hal ini, bukan hanya mencoreng citra pendidikan, tetapi harapan untuk membentuk generasi yang berkualitas seakan hanya sebuah ilusi belaka. Peristiwa murid yang tidak ada adab kepad guru, justru mencerminkan pendidikan di negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Murid yang kasar dan kehilangan adab yang memicu guru bertindak tegas, dan ujung-ujungnya guru dilaporkan dengan tuduhan kekerasan ataupun penganiayaan. Hal ini, bukti gagalnya sistem pendidikan sekulerisme dalam membentuk adab dan karakter generasi. Sekolah seharusnya menjadi tempat utama pembentukan karakter generasi-generasi berkualitas, dan bukan hanya sekedar transfer ilmu. Guru sebagai pendidik sangat berpengaruh pada proses belajar dan mengajar. Tapi, pada faktanya justru sekolah berubah menjadi ruang yang penuh konflik dan miskin keteladanan, hilangnya adab siswa kepada guru. Kejadian seperti ini, jelas bukan hanya proses belajar mengajar yang terganggu namun, menjadi lemahnya moral ditengah masyarakat.


Realita ini membuktikan, inilah buah dari sistem pendidikan sekulerisme yang diterapkan di negeri yang mayoritas muslim ini. Ketika agama di kesampingkan dari kehidupan, maka dalam pendidikan pun manusia kehilangan batas dan tujuan. Selama sistem pendidikan berada dalam cengkraman kapitalisme sekulerisme, maka kejadian serupa akan terus berulang. Dalam hal ini, para kapitalisme hanya menciptakan gedung-gedung sekolah elit yang sulit dijangkau oleh ekonomi sulit, karena biaya yang ditarip begitu fantastis. Tetapi realita yang terjadi, sistem pendidikan di negeri ini hanya mencetak generasi yang mempunyai prestasi dalam akademi saja, dengan tujuan mempermudah untuk mencari pekerjaan yang diinginkan setelah lulus sekolah, karena dalam sistem Kapitalisme tujuan utama adalah mengejar materi.


Oleh karena itu, tentu kita paham betapa mulianya amanah seorang guru, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Sehingga jasanya akan terus dikenang, dan pahala ilmu yang diberikan akan terus mengalir hingga akhir hayat. Oleh karena itu, dukungan negara tidak hanya kurikulum. Negara berkewajiban menjamin kesejahteraan guru baik guru tetap maupun honorer, memberikan suasana belajar mengajar yang kondusif. Dan tidak memberikan ruang bagi nilai-nilai yang akan merusak akhlak para generasi.


Dalam sistem Islam, Guru adalah pewaris tugas kenabian (waratsatul anbiya). Negara ataupun masyarakat berkewajiban menjaga kehormatan dan keselamatan para guru. Guru diposisikan sebagai penjaga peradaban dan akhlak umat. Karena Guru merupakan aspek penting dalam penyebaran ilmu, apalagi yang disebarkan adalah ilmu agama. Kedudukan mereka begitu tinggi dihadapan Allah SWT. Dalam sistem Islam, negara akan memberikan penghargaan dan memberikan gaji yang tinggi. Dalam Islam tidak ada perbedaan antara guru PNS ataupun honorer, semua akan digaji secara merata. Karena tugas dan tanggung jawab semua guru adalah sama, mendidik dan mencetak generasi yang cemerlang berahlak mulia berdasarkan syari'at Islam, yang sesuai dengan hukum-hukum Allah SWT.


Wallahu alam Bis'showab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update