Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Generasi Terseret Narkoba: Potret Gagalnya Sistem Sekuler

Wednesday, April 15, 2026 | Wednesday, April 15, 2026 WIB Last Updated 2026-04-15T01:12:49Z

 



Oleh: Annisa Wayyu

(Aktivis Muslimah)


Fenomena keterlibatan pelajar dalam peredaran narkoba kembali menampar nurani publik. Penangkapan dua warga di Desa Kangga, Kabupaten Bima, menambah daftar kelam kasus yang menimpa dunia remaja. Pasalnya, salah satu tersangka yang diamankan oleh pihak kepolisian masih berstatus sebagai pelajar (detik.com, 2-4-26).


Pada tahun yang sama, kasus ini bukan satu-satunya peredaran narkoba yang menyeret remaja. Dalam waktu yang berdekatan, seorang remaja berusia 19 tahun juga ditetapkan sebagai tersangka setelah kedapatan menyimpan puluhan paket sabu-sabu (suarasultra.com,31-3-26). Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut bukan sekedar kasus kriminal biasa, melainkan alarm keras tentang rusaknya fondasi pembinaan generasi.


Dua fakta ini menunjukkan pola yang sama. Pelajar tidak hanya menjadi korban penyalahgunaan narkoba, tetapi telah bertransformasi menjadi pelaku aktif dalam peredaran. Ini adalah fase yang jauh lebih berbahaya.


Kegagalan Sistemis


Ironi yang terjadi saat ini, tidak bisa dilepaskan dari sistem kehidupan yang saat ini diterapkan. Sistem sekuler kapitalis telah memisahkan agama dari kehidupan publik, termasuk dalam pendidikan. Akibatnya, banyak remaja yang kehilangan arah dalam memahami tujuan hidup. Mereka tidak lagi dididik untuk menjaga akal sebagai amanah, melainkan didorong untuk mengejar kesenangan, kebebasan dan materi. Dalam sistem ini, kita sering mendapati standar baik dan buruk menjadi relatif. Banyak dari masyarakat yang menganggap bahwa selama sesuatu menghasilkan keuntungan atau kesenangan, maka hal itu cenderung dianggap wajar. Inilah yang membuka celah bagi para remaja untuk terlibat dalam peredaran narkoba, baik karena faktor ekonomi, tekanan lingkungan, maupun sekedar ikut-ikutan.


Selain itu, sistem pendidikan yang ada hari ini cenderung berorientasi pada capaian akademik dan keterampilan kerja, namun minim dalam pembentukan kepribadian. Nilai-nilai agama yang sering kali hanya menjadi formalitas tidak terinternalisasi dalam perilaku. Akibatnya, pelajar cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral.


Di sisi lain, lemahnya penegakkan hukum juga memperparah keadaan. Sanksi yang tidak konsisten atau kurang memberi efek jera membuat peredaran narkoba terus berulang. Bahkan, jaringan besar sering kali tetap eksis meskipun pelaku lapangan tertangkap. Ini menunjukkan adanya kelemahan struktural dalam sistem hukum saat ini.


Islam Solusi Permasalahan Umat


Dalam menghadapi persoalan sistemik, maka dibutuhkan solusi yang bersifat menyeluruh dan mendasar. Untuk itu, Islam sebagai mu‘alajah (solusi) dalam setiap permasalahan umat bukan sekadar konsep normatif, melainkan prinsip yang bersifat menyeluruh dan aplikatif. Islam hadir tidak hanya mengatur aspek ibadah, tetapi juga memberikan panduan dalam menyelesaikan problem kehidupan. Termasuk permasalahan remaja yang terkena jeratan narkoba.


Pertama, penerapan sistem pendidikan Islam menjadi kebutuhan mendesak. Pendidikan tidak hanya berfungsi mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyah). Pelajar dididik sebagai hamba Allah yang memahami tujuan hidupnya, sehingga memiliki kontrol diri yang kuat. Mereka tidak hanya menjauhi narkoba karena takut hukum, tetapi karena kesadaran iman bahwa perbuatan tersebut merusak diri dan melanggar syariat.


Kedua, keluarga harus kembali pada peran utamanya sebagai madrasah pertama. Orang tua dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam mendidik anak, bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi. Penanaman akidah, pembiasaan ibadah, serta keteladanan dalam akhlak menjadi fondasi utama. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang kuat secara nilai akan lebih tahan terhadap pengaruh buruk lingkungan.


Ketiga, masyarakat memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga generasi. Lingkungan sosial tidak boleh bersikap acuh terhadap kemaksiatan. Budaya amar ma’ruf nahi munkar harus dihidupkan, sehingga ada kontrol sosial yang mencegah penyimpangan sejak dini. 


Keempat, negara wajib menerapkan sistem hukum yang tegas dan memberikan efek jera. Tidak hanya pengguna, tetapi juga produsen, pengedar, hingga bandar besar harus ditindak secara serius dant menyeluruh. Negara juga harus menutup seluruh celah yang memungkinkan peredaran narkoba, baik dari sisi pengawasan maupun penindakan. Ketegasan ini bukan semata-mata represif, tetapi bentuk perlindungan terhadap generasi dan masyarakat luas.


Dalam sistem Islam, pejabat dan aparat penegak hukum dibentuk sebagai sosok yang memiliki integritas dan kesadaran tinggi bahwa jabatan adalah amanah besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW., “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR Bukhari dan Muslim).


Untuk itu, penerapan syariat Islam secara menyeluruh tidak hanya memberikan perlindungan fisik dari ancaman narkoba, tetapi juga membangun benteng ketakwaan, serta melahirkan kepemimpinan yang penuh tanggung jawab.


Wallahu’alam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update