Oleh : Khusnawaroh (Pemerhati Umat)
Hasil pertanian dan perkebunan dari wilayah tengah Aceh masih terpuruk hingga pertengahan Januari 2026. Hasil panen sulit dijual karena akses transportasi darat belum pulih sepenuhnya. Jika tidak ada dukungan, seperti subsidi ongkos angkut melalui udara, sektor pertanian dan perkebunan yang jadi sumber penghidupan warga di wilayah tengah Aceh akan semakin terpukul.
Hal itu dirasakan para petani dan pengepul hasil pertanian dan perkebunan di wilayah tengah atau pegunungan Aceh, antara lain Kabupaten Aceh Tengah dan Gayo Lues. Pengepul asal Gampong/Kampung Rejewali, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. (Kompas.id)(19/1/2026).
Bencana Banjir dan longsor di Aceh yang terjadi di penghujung tahun di bulan Desember lalu ternyata masih menyisakan banyak derita, Aceh wilayah yang terletak di ujung barat semenanjung Malaya memberi pemandangan yang memukau dari pegunungan yang menjulang, laut yang mempesona serta hutan-hutan yang menghijau. Terkenal pula dengan nilai-nilai keagamaan dan kekeluargaan yang memikat. Namun, kini kondisi masyarakat tersebut sangat memprihatinkan pasca terjadi banjir dahsyat dan longsor, banjir yang terjadi dari arah bukit hingga mengalir ke pemukiman warga bak terjadi tsunami kedua.
Banjir dahsyat tersebut dengan anehnya membawa banyak gelondongan kayu menyapu sebagian besar perumahan warga. Benar bahwa Qodarullah musibah datangnya dari yang maha kuasa namun kita pun mempelajari sejak dibangku pendidikan TK, SD bahwa ada beberapa penyebab sehingga banjir bisa terjadi yakni karena membuang sampah sembarangan dan penebangan pohon atau hutan secara liar atau besar-besaran , ini menjadi alarm keras bagi kita semua sebagai manusia, terutama para penguasa bahwa ada kesalahan dalam tata kelola lingkungan dan alam, masalah banjir ini masih menjadi PR yang harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh karena setiap musim penghujan masih banyak terjadi banjir besar yang berulang di beberapa wilayah di negeri kita.
Kejadian ini tentu berdampak sangat besar bagi masyarakat seperti halnya di Aceh saat sekarang ini , Seluas 56.652 hektare lahan persawahan di 18 kabupaten dan kota rusak akibat bencana banjir bandang serta longsor. Hasil pertanian dan perkebunan di Aceh pegunungan masih terpuruk karena akses transportasi darat belum sepenuhnya pulih, sehingga panen sulit dijual.
Dapat dibayangkan betapa sulitnya kehidupan mereka disana ketika hasil panen pertanian - perkebunan sulit untuk dijual maka dapat dipastikan sedang mengalami perekonomian yang memprihatinkan. Kesulitan mencari kerja tentu juga menjadi problem yang menimpa masyarakat di Aceh. Ini diakibatkan karena lambatnya pemulihan bencana yang telah berdampak pada pemulihan perekonomian warga. Pemulihan pascabencana memang sangatlah dibutuhkan secara cepat dan tepat agar rakyat bisa kembali hidup layak. Namun, sayangnya banyak warga Aceh mengeluhkan penangan oleh pemerintah lambat.
Selama Dua bulan lebih setelah banjir besar melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada 26 November 2025, sejumlah warga terdampak di Desa Kota Lintang, Kecamatan Kuala Simpang, mengeluhkan lambatnya proses pemulihan. banyak rumah warga belum layak huni, lumpur sisa banjir belum dibersihkan, serta bantuan yang diterima dinilai belum mencukupi kebutuhan dasar.
(MEDIALITERASI.ID | ACEH TAMIANG )(2/2/2026) .
Lambatnya proses pemulihan hingga bantuan yang diterima pun dinilai belum mencukupi kebutuhan dasar. Hal ini bisa memicu Masyarakat kehilangan kepercayaan pada pemerintah dan lembaga terkait. Karena kewajiban negara untuk menjadi Ra'in bagi masyarakat harus mampu berjalan secara maksimal, agar masyarakat tidak merasakan penderitaan yang berkepanjangan. Mengingat bahwa pasca bencana sudah berjalan kurang lebih 2 bulan tetapi warga masih sangat merasakan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokoknya.
Seperti inilah wajah sistem kapitalis sekuler dalam mengurus warga yang terkena bencana, terkesan sangat lambat sebab dalam paradigma kapitalis-sekuler salah satu cirinya yaitu asas manfaat, yakni hanya mementingkan untung-rugi membuat alokasi dana pemulihan terbatas. Sistem pengelolaan bencana juga lemah secara struktural; koordinasi minim, tanggap darurat berulang. Dalam sistem kapitalis, anggaran negara lebih fokus pada investasi, sementara rakyat “dipaksa” mandiri memenuhi kebutuhan dasar. Tak heran jika sejumlah warga menyatakan bahwa bantuan selama ini lebih banyak datang dari relawan.
Sistem kapitalis sekulerlah yang telah menjadikan kepemimpinan saat sekarang ini seakan lalai dari tanggung jawab padahal setiap tahunnya rakyat diwajibkan untuk membayar pajak tetapi pada kenyataannya gagal menciptakan masyarakat adil dan sejahtera terutama gagal dalam mengurusi secara tanggap warga yang terkena bencana. Hal ini cukup menjadi renungan kita bersama bahwa selama kita masih memilih aturan hidup yang bersumber dari manusia bukan dari sang Pencipta Allah SWt. maka selama itu pula kita akan merasakan berada pada perlakuan aturan manusia yang banyak mengecewakan, sehingga mustahil masalah seperti pasca bencana banjir Aceh akan mudah terselesaikan.
Dampak dari keburukan sistem kapitalis sekuler sudah sangat kita rasakan memang sudah saatnya kita memahami dan menjadikan aturan sang Pencipta untuk dijadikan aturan dalam seluruh kehidupan manusia. Hanya sistem Islam yang didalamnya terhimpun kepemimpinan yang beriman dan bertakwa landasan berfikirnya hanya merujuk pada Alquran dan Assunah bukan pada hawa nafsu manusia.
Dalam Islam terdapat banyak solusi yang diberikan untuk mengatasi segala permasalahan dalam kehidupan, apalagi bagi masalah pasca bencana yang harus ditangani secara sungguh-sungguh dan tanpa mengulur-ulur waktu mengingat rasa belas kasih yang melekat dimana melihat puluhan bahkan ratusan manusia menderita mulai dari balita, anak muda, orang tua serta orang lanjut usia. Ditambah lagi yang meninggal dunia, serta kehilangan sanak saudara, materi dll. ini semua perlu penanganan yang fokus dan tidak boleh disepelekan.
Dalam sistem Islam yang merupakan rahmat bagi seluruh alam, hal yang demikian yakni penanggulangan bencana senantiasa siap siaga baik dalam menangani bencana dan korbannya. Mengelola bencana yang menimpa secara langsung dan tidak menyerahkan urusannya kepada yang lain untuk menjaga jiwa dan keselamatan rakyatnya.
Sistem Islam akan melakukan beberapa langkah yang akan ditempuh, meliputi penanganan pra bencana, saat terjadi bencana dan pasca bencana, dengan senantiasa menjaga kelestarian alam dan hutan senantiasa dijaga agar tidak terjadi penebangan liar atau besar-besaran oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Negara bertindak sebagai raa’in (pengurus rakyat), memastikan pemulihan infrastruktur, lahan, dan kebutuhan dasar warga secara cepat dan adil. Bantuan disalurkan langsung sesuai kebutuhan, misalnya untuk korban sakit, tua, difabel, atau kehilangan mata pencaharian, bukan untuk pencitraan.
Negara juga akan membuat posko pengungsian, pembentukan dapur umum, kesehatan serta pembukaan akses-akses jalan maupun komunikasi untuk memudahkan masyarakat beraktifitas kembali seperti semula, misalnya bertani, berkebun dan membuka akses dengan mudah untuk melakukan aktifitas jual beli hasil pertanian.
Serta memberikan bantuan rumah layak huni bagi warga yang mengalami kerusakan parah perumahannya. Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah memberikan motivasi-motivasi untuk memulihkan kondisi psikis mereka, agar tidak terjadi stress atau depresi atau kondisi psikis yang lain. Langkah-langkah yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan tausiah-tausiah agar senantiasa dekat dengan sang penciptanya memperkuat aqidah dan nafsyiah mereka.
Pendanaan berasal dari Baitul Maal yang jumlahnya besar, dialokasikan berdasarkan kemaslahatan masyarakat, baik untuk pemulihan ekonomi, pendidikan, maupun layanan dasar. Setiap program pemulihan berbasis sederhana dalam aturan, cepat dalam pelayanan, dan profesional dalam penanganannya. Andai pun kondisi Baitul Mal sedang kosong, maka pemimpin Islam akan menarik dharibah atau pajak dari kaum muslimin sebab mengurus korban bencana bersifat urgent tidak bisa ditunda.
Kita mengingat kembali masa kepemimpinan khalifah Umar, ketika terjadi tanah kering dan paceklik sehingga membuat masyarakat kelaparan dan kekurangan air karena kemarau panjang. Tapi khalifah Umar lantas tidak menyalahkan cuaca. Beliau langsung turun ke lapangan untuk melihat kondisi rakyatnya dan ikut merasakan penderitaan rakyatnya.
Beliau sampe bersumpah tidak akan makan daging atau makan yang enak selama rakyatnya kelaparan. Dan beliau hanya makan roti dan minyak samin sampe wajahnya menghitam, tubuhnya semakin kurus. Semua beliau lakukan karena memikirkan nasib rakyatnya. Dalam prinsip beliau ia tidak rela kenyang sementara rakyatnya masih ada yang kelaparan. Ini adalah bentuk ketakutan khalifah Umar akan penghisaban kelak di hadapan Allah.
Inilah gambaran kepemimpinan yang sangat kita butuhkan dan kita rindukan, pemimpin yang sangat mencintai rakyatnya sepenuh hati dan raganya, Yang rela menderita dan melindungi rakyatnya, Kepemimpinan dalam Islam memang di ciptakan untuk tunduk patuh kepada syariat Allah SWT secara menyeluruh, Alquran dan Assunah menjadi pedoman bukan hanya untuk dalam kehidupan individu, tetapi digunakan untuk aturan hidup bermasyarakat dan bernegara sehingga kebaikan itu terpancar untuk semua umat manusia sehingga terhindar dari kezholiman , sifat lalai dan tidak bertanggung jawab. Wallahua'lam bissawab.

No comments:
Post a Comment