Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Digitalisasi Membajak Potensi Generasi

Tuesday, February 03, 2026 | Tuesday, February 03, 2026 WIB Last Updated 2026-02-03T07:20:52Z

 


Oleh

Nayla Shofy Arina (Pegiat Literasi)


Generasi saat ini tengah hidup di era digital yang telah berubah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Media sosial yang menyajikan beragam informasi, koneksi sosial serta hiburan yang dapat di akses tanpa batas.


Namun, dibalik itu semua tersembunyi risiko yang secara nyata mampu mempengaruhi kesehatan mental generasi. Dampak negatifnya nyata dan sangat memprihatinkan, banyak generasi yang sudah terpapar konten-konten buruk yang merusak pemikiran serta tingkah laku mereka seperti pornografi, kekerasan, bullying, pergaulan bebas, perilaku gaya hidup ala liberal dari media sosial. Alhasil generasi hari ini tampil dengan berbagai permasalahan bukan perubahan.


Merespon hal demikian, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) di era pemerintahan Prabowo-Gibran, menerbitkan regulasi yaitu Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS).


Aturan yang diteken pada 28 Maret 2025 dan berlaku mulai 1 April 2025 itu menjadi dasar hukum bagi negara untuk menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan berkeadilan bagi anak-anak serta kelompok rentan.


PP ini mewajibkan setiap Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) untuk menyaring konten berbahaya, menyediakan mekanisme pelaporan yang mudah diakses, dan memastikan proses remediasi yang cepat dan transparan (cnbcindonesia.com/ 22/10/2025).


 *Digitalisasi pada Sistem Kapitalis* 


Pembatasan akses media sosial adalah solusi pragmatis, menyalahkan media semata sebagai penyebab masalah generasi hari ini hanyalah melihat pada permukaan, tanpa memahami akar permasalahan. Memang dapat mengurangi dampak langsung dari media sosial seperti paparan konten negatif dan kecanduan gadget, namun hal ini tidak mampu menuntaskan permasalahan.


Karena penerapan sistem Kapitalis-Sekuler adalah akar masalah yang menjadikan generasi bermasalah dari segala sisi. Generasi yang seharusnya tumbuh dengan nilai Islam kini berganti dengan pemikiran Kapitalis-Sekuler. Memandang segala sesuatu bukan lagi pada halal haram dan mengesampingkan urusan adab dan moral demi mencapai kepuasan diri, mereka tumbuh dengan standar benar salah yang relatif dan bergantung pada opini atau tren. Tanpa arah yang jelas, generasi mudah terjebak arus gaya hidup yang rusak.


Kapitalisme turut memperparah keadaan, dalam konteks kepentingan media sosial menjadi medan pertarungan antara politik dan ekonomi. Pada aspek ekonomi, algoritma media sosial dan platform dibuat untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna demi keuntungan iklan, dan berupaya menyita perhatian pengguna sebagai sumber profit utama bagi perusahaan kapitalis. Arus informasi yang ditonton oleh pengguna media sosial diseluruh dunia, termasuk generasi muda sebagai target pasar yang tercatat paling banyak dan paling intens dalam berinteraksi di media sosial. 


Mereka dibentuk menjadi konsumen yang harus terus mengejar kepuasan, popularitas, dan gaya hidup glamor. Sementara dalam aspek politik algoritma menjadi alat yang efektif untuk mengendalikan informasi agar sesuai dengan target mempertahankan hegemoni dengan berupaya terus memproduksi paparan ide-ide dan budaya sekuler-liberal serta menutup celah pemikiran dan budaya yang berlawanan bagi keberlangsungan hegemoninya. Tujuannya tidak lain adalah untuk menancapkan nilai-nilai yang bertolak belakang dengan standar syariat.


Setiap konten yang dikonsumsi tanpa pondasi dari nilai Islam yang kuat dapat membentuk pola pikir dan sikap terhadap peristiwa, generasi akan mudah terombang ambing oleh arus digital, menjauhkan mereka dari pemahaman Islam yang benar dan menjadi target dan sasaran ide kapitalis sekuler. Alhasil generasi hari ini sangat jauh dari identitasnya sebagai seorang muslim karena sistem yang berhasil membentuk mereka. Potensi besar generasi sebagai pelopor perubahan akan teralihkan menjadi mangsa pasar bagi para kapitalis dan budak digitalisasi.


 *Tinjauan Islam* 


Inilah realitanya, generasi harus diarahkan dan diselamatkan dari rusaknya sistem kapitalis sekuler dengan penerapan syariat Islam. Dengan pemahaman Islam mereka akan memandang kehidupan sesuai pandangan Islam, yakni beramal shalih dan meyakini setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt. mereka memahami bahwa masa muda adalah masa yang harus diisi dengan berbagai hal yang memberi manfaat dan sesuai dengan apa yang Allah ridhoi.


Rasulullah SAW bersabda, “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu.” (HR Al-Hakim dan Al-Baihaqi).


Generasi muda pada masa Rasulullah SAW adalah contoh nyata bagaimana potensi luar biasa yang mereka miliki ketika dibina dengan akidah Islam, visi hidup yang jelas, dan sistem yang mendukung. Tidak pandang usia, justru diusia muda mereka dipercaya memikul amanah besar demi tegaknya Islam. Mus‘ab bin ‘Umair رضي الله عنه juga merupakan pemuda bangsawan Quraisy yang rela meninggalkan kemewahan demi menjadi pembawa risalah Islam pertama di Madinah. Usamah bin Zaid رضي الله عنه diangkat sebagai panglima pasukan pada usia sekitar 18 tahun, memimpin para sahabat senior. Abdullah bin Mas‘ud, Zaid bin Tsabit, dan Abdullah bin Abbas رضي الله عنهم sejak muda telah menjadi penjaga ilmu dan rujukan umat. Dengan pembinaan akidah, ilmu, dan adab, potensi mereka tumbuh seimbang antara spiritual, intelektual, dan sosial. Ini menunjukkan bahwa potensi pemuda bukan hanya sekadar energi fisik, tetapi keteguhan pada prinsip dan kesiapan berkorban.


Terkait teknologi dalam Islam, bukan sesuatu yang dilarang, tapi Islam menuntun pemanfaatan teknologi agar menjadi media yang menyebarkan ide-ide Islam. Tidak diperbolehkan adanya konten yang bertentangan dengan nilai Islam. Ruang digital didominasi dakwah dan edukasi tentang tsaqofah Islam, ilmu pengetahuan serta teknologi dan mendukung terbentuknya generasi berkepribadian Islam yang unggul dalam hal apapun.


Inilah gambaran bagaimana Islam memandang generasi sebagai aset peradaban. Karena Islam memiliki seperangkat aturan sistemis yang akan menjaga, membina dan memuliakan generasi sehingga mereka tidak lagi disibukkan dengan perkara yang melenakan dan sia-sia melainkan untuk membangun peradaban yang cemerlang. Wallahu a’lam bisshowab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update