Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Urgensi Sinergi Umat untuk Wujudkan Generasi Bertakwa di Era Digital

Friday, January 02, 2026 | Friday, January 02, 2026 WIB Last Updated 2026-01-02T08:22:55Z




Oleh: Ummu Ghafiqi

Aktivitas Penulis: Pengamat Politik


Generasi muda saat ini lekat dengan arus deras informasi digital melalui gawai di genggaman mereka. Kemudahan mengakses maupun menyebarluaskan informasi tanpa batas waktu dan tempat menyebabkan generasi muda “kebanjiran informasi”. Informasi yang diperoleh tidak jauh-jauh dari preferensi masing-masing dan keabsahan informasinya bisa jadi valid maupun hanya hoaks, sehingga arus deras informasi digital menjadi tantangan besar bagi generasi muda.


Pada platform digital khususnya platform media sosial terdapat algoritma media sosial. Algoritma ini merupakan sistem pemrograman yang diatur sedemikian rupa agar informasi yang terjangkau sesuai dengan preferensi pengguna platform. Dengan demikian, pengguna platform dimanjakan dengan informasi-informasi yang disenanginya agar betah berlama-lama mengakses platformnya.


Informasi yang berseliweran di media sosial pun amat beragam. Siapapun bisa merangkai dan mengunggah sendiri informasi di media sosial. Baik seorang ahli ataupun awam berceloteh tanpa ilmu bisa dengan bebas mengunggah dan menyebarluaskan informasi di ranah digital. Hal ini patut diperhatikan agar generasi muda tidak asal-asalan menyerap informasi yang beredar di media sosial.


Generasi Muda Harus Sadar Arus Dunia Digital


Sebuah produk pastilah dibuat dengan tujuan tertentu dan juga cenderung mengandung nilai-nilai yang diadopsi oleh produsennya, begitu pula produk digital semacam media sosial. Seluruh platform digital termasuk media sosial disetir oleh para kapitalis raksasa teknologi global. Para kapitalis tentulah memiliki nilai-nilai tersendiri yang tertanamkan pula pada produk-produknya. Sementara landasan dari kapitalisme itu sendiri adalah sekulerisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Nilai sekulerisme inilah yang tertanam pada produk-produk digital mereka.


Sebagaimana kita ketahui, platform digital tentunya tidak dirancang agar penggunanya menjadi mengenal agama sebagai bagian dari kehidupan. Justru sebaliknya, agama tidak dibawa-bawa dalam kehidupan. Konten-konten yang memuat ide yang sejalan dengan para kapitalis akan lebih mudah terangkat dan menyebar, sedangkan konten-konten yang mengandung pembahasan agama sebagai solusi dikesampingkan bahkan ditenggelamkan oleh sistem pemrograman platform melalui fenomena _banned account_ hingga _shadow banned_.


Dampaknya, seluruh konten digital menjadi tabungan informasi yang bisa mengendalikan arah pandang generasi muda terhadap kehidupan. Agama yang sejatinya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan pun seolah merupakan statement yang asing bagi mayoritas generasi muda saat ini. Oleh karena itu, pada titik ini generasi muda membutuhkan benteng.


Solusi Islam untuk Generasi Muda Era Digital


Generasi muda sebagai penerus estafet kehidupan, perlu pembinaan agar mereka memahami Islam sebagai satunya-satunya ideologi yang sahih. Di saat ide sekuler dan liberal berlimpah ruah di dalam platform digital, generasi muda harus menyadari identitasnya sebagai seorang muslim. Generai muda juga harus berpikir kritis dan mampu mem-filter informasi terkait apakah informasi yang mereka dapatkan sejalan dengan nilai-nilai Islam atau tidak, agar kemudian generasi muda tidak mudah terbawa arus ide-ide sekuler dan liberal. Ide-ide sekuler dan liberal ini kerap kali membuat solusi yang berasal dari Islam terkesan sebagai sesuatu hal yang akan menyulitkan kehidupan. Padahal solusi dari Islam adalah solusi hakiki yang mampu menuntaskan permasalahannya. Allah ta’ala berfirman:


“Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (QS. Thaha [20]: 2) 


Islam hadir untuk memudahkan dan meringankan manusia dalam menjalankan kehidupan, bukan untuk menyulitkannya. Dengan benteng akidah yang sahih, generasi muda meyakini Islam akan memudahkan hidupnya dan kemudian dapat memahami kemudahan yang diberikan Islam melalui hikmah dari berbagai solusi-solusi Islam.


Namun, pembinaan generasi muda tidak cukup dengan hanya menguatkan benteng akidah. Generasi muda memiliki potensi hidup sebagai makhluk Allah, yaitu garizah (naluri), hajatul udhawiyah (kebutuhan hidup), dan akal, maka generasi muda harus dibina agar potensi hidupnya tersebut diatur menurut aturan yang ditetapkan oleh Allah kepadanya. Contohnya ketika masalah seorang pemuda adalah berlatarkan garizah semisal garizah nau’ (naluri berkasih sayang) atau garizah baqo (naluri mempertahankan diri dan eksistensinya), sementara bangkitnya garizah itu disebabkan oleh faktor eksternal semacam stimulus-stimulus dari luar, maka jelaslah bahwa membentuk generasi muda bertakwa juga memerlukan dukungan faktor eksternal atau lingkungan yang mendukung. Sehingga selain benteng akidah, generasi muda juga memerlukan lingkungan kondusif yang kental dengan jawil iman (suasana keimanan) serta kolaborasi komprehensif dan sistemis.


Butuh Sinergi Semua Elemen Umat


Membentuk generasi muda yang bertakwa tidak mungkin hanya mengandalkan dari perjuangan pemuda itu sendiri untuk menjadi pribadi yang bertakwa. Bagaimana pun juga, keberadaan mereka tidak bisa lepas dari lingkungan dan masyarakat tempat mereka hidup. Sehingga untuk membentuk generasi muda bertakwa membutuhkan sinergi semua elemen. Mulai dari elemen keluarga, sekolah, masyarakat, peran para tokoh umat, partai politik ideologis, hingga elemen negara.


Sebagaimana kata pepatah “_It takes a village to raise a child_” yang artinya “Dibutuhkan (sampai) sebuah negeri untuk membesarkan seorang anak”, nyatanya memang seluruh elemen umat berperan dalam pembentukan karakter individu. Elemen keluarga berperan sebagai unit terkecil pendidikan bagi setiap individu, elemen sekolah menerapkan kurikulum yang bernafaskan Islam, elemen masyarakat dengan visi misi yang sama berperan strategis sebagai kontrol sosial, elemen para tokoh umat menunjukkan profil yang bisa diteladani, hingga elemen parpol Islam dan negara yang juga tidak kalah pentingnya dari elemen-elemen lainnya.


Parpol Islam ideologis sebagai tulang punggung pembinaan seluruh komponen umat, termasuk generasi muda, berperan dalam mencerdaskan dan meningkatkan taraf berpikir umat serta memberi ruang bagi suara kritis generasi muda. Parpol Islam juga berperan dalam rangka muhasabah lil hukam, yaitu mengontrol dan mengoreksi penguasa agar kebijakannya tidak melanggar batas-batas dari aturan Islam. 


Elemen terakhir, yakni elemen negara, berperan dalam menerapkan sistem Islam dalam banyak aspek kehidupan meliputi aspek pemerintahan dalam dan luar negeri, pidana, sosial, ekonomi, hingga pendidikan. Semuanya itu diatur sesuai dengan perintah dan larangan Allah sehingga membentuk atmosfer lingkungan yang mendukung pembentukan individu-individu bertakwa.


Demikianlah berbagai peran dari berbagai elemen saling bersinergi dalam membentuk generasi yang bertakwa. Akan tetapi saat ini sinergi keseluruhan elemen tersebut belum dapat dicapai seutuhnya dikarenakan mendominasinya ide-ide sekuler dan liberal dari sistem kapitalisme. Sistem kapitalisme pun melemahkan peran sebagian elemen sehingga upaya pembentukan generasi bertakwa belum optimal sebagaimana mestinya.


Maka dari itu, dakwah untuk menerangkan kebobrokan sistem kapitalisme dan menjelaskan kesempurnaan Islam harus terus dilakukan agar dominasi ide-ide sekuler kapitalis berganti alih menjadi ide-ide yang sesuai dengan ajaran Islam. Allah ta’ala berfirman:

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali 'Imran [3]: 110)


Wallahua'lam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update